Wow! Gubernur NTT Kembangkan Kelor 1 Juta Hektar, Riset Norman Riwu Kaho Mengungkapkan Lebih Dari Luas Tersebut

oleh
1.835 views
Peta kesesuaian lahan untuk tanaman kelor yang dibuat Norman Riwu Kaho, dosen Faperta Undana Kupang (Gambar: Facebook.com/norman.riwukaho)

[KUPANG.ONLINE] Kelor adalah tanaman yang biasa dijumpai di NTT dan kemudian ramai diperbincangkan setelah Gubernur NTT dan Wakil Gubernur NTT membawanya ke podium Debat Calon Gubernur/Wakil Gubernur NTT beberapa bulan lalu.

Kelor mendadak ramai dibicarakan di ruang-ruang diskusi juga di beranda kantor dan tongkrongan dua tiga orang. Perbincangan tak hanya masyarakat NTT juga masyarakat NTT diaspora.

Tak sedikit yang mentertawakan dengan gagasan Bungtilu Viktor Laiskodat dengan mengangkat kelor atau marungga sebagai asupan gizi anak-anak.

Gagasan ini tak hanya retoirika Laiskodat di atas panggung, semenjak remsi dilantik sebagai Gubernur NTT, ia langsung menggeber dengan program yang dipandang sebelah mata masyarakat pada waktu itu.

Gagasan besar ini disampaikan secara berulang-ulang oleh Laiskodat pada setiap kesempatan perjumpaan dengan masyarakat baik di dalam forum maupun siaran pers. Pada saat menghadiri reuni 30 tahun Alumni SMPN  1 Kupang tahun 1988, menegaskan dalam kepemimpinannya bersama Josef Nae Soi akan menggerakan budidaya kelor, Pos-Kupang.com (Selasa, 21/08/2018).

Menurut Laiskodat, daun kelor atau marungga dikenal dunia sebagai pohon ajaib. Manfaatnya luar bisa baik dalam bidang kesehatan maupun bidang ekonomi. Ia berjanji akan mengembangkan budidaya kelor secara luas dan minimal satu juta hektar lahan yang berisi pohon kelor.

Gagasan Laiskodat direspon secara positif seorang akademisi dari Universitas Nusa Cendana Kupang, Norman Riwu Kaho, yang melakukan riset kecil dengan melakukan pemetaan wilayah yang memungkin kelor dapat tumbuh. Hal ini terungkap dari halaman Facebook­-nya.

Norman menggugat Pemerintah Provinsi NTT yang greget untuk membudidayakan kelor sebagai program revolusi hijau. Ia tak membantah dengan gagasan tersebut, tapi yang penting dan pertama yang harus dilakukan pemerintah adalah harus memiliki data dasar kelor mencakup data produksi, luas lahan, tingkat kesesuaian lahan di NTT, dan lain-lain. Menurutnya, ini yang belum dimiliki oleh pemerintah Provinsi NTT.

Dasar itu, Norman menduga hal tersebut orang berasumsi bahwa kelor atau marungga dapat tumbuh dimana saja dan kapan saja. Padahal, faktanya, sebagai tanaman atau tumbuhan, kelor memiliki sejumlah faktor pembatas (limiting factors).

Norman membeberkan beberapa fakta tentang kelor dari berbagai literatur. Disitu disebutkan kelor mampu tumbuh baik pada ketinggian 0 – 1000 mdpl (beberapa sumber bahkan menyebut hingga 2000 mdpl), curah hujan tahunan 250 – 2000 mdpl, suhu udara rata-rata 25 – 35 derajat celcius. Dan, bahkan pada lahan dengan kemiringan lereng < 40% pun masih bisa ditanami kelor.

Lanjut Norman, di luar dari sejumlah faktor tersebut, maka pertumbuhan dan perkembangan kelor menjadi terhambat atau tidak sesuai untuk budidaya kelor.

Lalu Norman membuat peta dengan dukungan data DEM SRTM v2 (90 meter) dan Grid WorldClim v2 kemudian menghasilkan 4 grid faktor lingkungan yang disebutkan diatas dan di-overlay menggunakan software GIS. Hasilnya berupa peta kesesuaian lahan untuk pengembangan kelor di NTT.

Dari hasil studi literatur yang dilakukan Norman dan peta kesesuaian lahan yang dibuatnya, dosen muda ini menyimpulkan jika kalau Gubernur NTT bilang kembangkan Kelor di NTT seluas 1 juta hektar, maka ia bilang lahan yang sesuai (suitable) untuk penanaman kelor di NTT ada 3.9 juta hektar atau setara dengan 83% dari total luas daratan NTT.

Riset Norman Riwu Kaho ini semoga dapat menjadi masukan bagi Pemerintah Provinsi NTT untuk menggerakan budidaya kelor sebagai gerakan Revolusi Hijau menuju NTT Bangkit NTT Sejahtera.***