[Waspada!] Para Pencopet Intai Penumpang di Angkutan Kota Kupang, Beginilah Cara Kenali Aksi Mereka

oleh
395 views
Ilustrasi (Foto: Dok. Ist)

[KUPANG.ONLINE] –  Peristiwa pencopetan terjadi di kota besar merupakan hal lumrah. Tapi, bila itu terjadi di Kupang sesuatu yang luar biasa. Selain Kupang merupakan kota kecil jika dibandingkan dengan Jakarta, Surabaya atau Makasar.

Tapi hal ini bisa terjadi, pertanda transformasi Kupang menjadi kota besar dimana populasi penduduk semakin tinggi karena arus perpindahan dari desa ke kota sementara peluang lapangan kerja terbatas. Hal ini bisa memicu masalah atau krisis sosial seperti penggangguran yang mendorong masyarakat bekerja gampangan seperti mencopet.

Baru-baru ini, KUPANG.ONLINE menerima curhatan seorang warga Kota Kupang yang menyaksikan aksi pencopetan di atas angkutan Kota Kupang. Di awal warga itu berbagi kisahnya, penulis sulit membayangkan bagaimana aksinya dapat berjalan sempurna karena mengingat ruang gerak di angkutan kota sangat terbatas. Pembaca bisa bayangkan ukuran angkutan kota di Kupang?

Mulanya ia menumpang angkutan Lampu 2 (Line 2, red) dari Naikoten menuju Oebufu. Saat ia masuk kedalam angkot, sudah ada dua penumpang yang duduk di samping sopir, duanya lagi di belakang. Dua penumpang di belakang duduk berdempetan, seorang gadis remaja berseragam pramuka dan seorang pria yang memangku jacketnya. Mereka duduk berhadapan dengannya.

Ia tak mengira pria bertubuh besar di depannya ini. Pria menggeser posisi duduknya dan menempel pada gadis remaja itu. Sementara jacket di pangkuannya menutup tangan kanannya. Rupanya cara ini memudahkan ia menggerayang tas gadis itu.

Sesekali pria itu mengangkat wajahnya. Melihat kearah penulis. Saya mengalihkan perhatian ke layar HP. Terdengar helaan nafas pria itu. Lalu ia kembali melakukan aksinya. Saya mengamatinya. Menunggu waktu yang tepat jika misinya sukses dan mempersiapkan skenario berikut. Paling tidak pria harus tertangkap.

Gadis itu turun di Oepura. Lelaki itu menggeser posisinya ke belakang. Tak jauh dari gadis itu turun, naik lagi penumpang yang lainnya. Ia duduk persis di tempat yang ditempati gadis tadi. Pria itu ‘menempel’ penumpang yang baru naik angkot. Tak sempat melakukan aksinya, penumpang lain naik lagi. Seorang ibu dan anaknya.

Pria yang diduga pencopet itu menggeser posisi duduknya ke belakang. Berada tepat di pojok angkot dengan penuh harap wanita dan anak itu duduk di sampingnya. Ternyata tidak! Mereka duduk tak jauh dari pintu atau persis di depan penulis. Penumpang lain naik. Seorang pria. Ia duduk persis di samping penulis atau di tengah-tengah penulis dan pria yang diduga copet itu.

Penulis terus mengamatinya. Pria itu sepertinya terdesak. Aksinya tak dapat dilakukan. Karena mungkin penumpang yang naik angkot bukan target yang tepat. Mungkin juga penumpang sudah tahu atau firasat tak baik dengan pria itu.

Seorang remaja putri berseragam SMA menumpang di Tofa. Ia mengamati pria itu mengatur posisi duduknya seolah-olah membuka ruang kepada remaja itu duduk di dekatnya. Lagi, remaja itu memilih untuk menjauh.

Sesampai di Oebufu, pria itu turun dengan nada kecewa. Paling tidak, penutur menceritakan kepada KUPANG.ONLINE, lelaki itu sesekali menarik nafas. Sementara ia hanya diam dan sesaat sebelum turun, ia berpesan kepada sopir jangan lagi sesekali mengangkut penumpang itu karena beberapa kali ia mencoba lakukan aksi copet. Sopir dan penumpang yang lain terkejut lalu mereka menyimpulkan sendiri setelah mengingat tindak-tanduk pria di atas angkutan.

Sebelum berpisah dengan KUPANG.ONLINE, pemilik kisah memberikan tips untuk mewaspadai penumpang yang memangku jacket atau kain lainnya, sementara satu tangannya di balik jacket. Posisinya duduknya sangat dekat dengan penumpang lain. Bisa jadi dia rombongan dengan penumpang di sebelahnya, tapi perhatikan terus apakah dia berkomunikasi dengan penumpang di sebelahnya atau tidak.

Toh, sekalipun dia rombongan dengan penumpang sebelahnya tak mungkin ia memilih duduk merapat dengan penumpang yang lain sementara ruang bangku yang kosong masih tersedia. Ia ingatkan pula, penumpang berperilaku copet biasanya duduknya berpindah-pindah untuk mengkondisikan diri agar target copetnya tergapai.

Ia juga berpesan jangan terkecoh dengan penampilan penumpang. Yang berpakaian compang-camping belum tentu seorang pencopet, begitu pula yang berpakain parlente belum tentu ia orang baik dan mapan karena hidup itu bisa dimanipulasi. ***