Wajah  Herodes di Tubuh PSSI,  PSN Ngada Tragis : Kebenaran Akan Mencari Jalannya Sendiri

oleh
210 views
PSN Ngada (Foto: Ekorantt.com)

Mendengar dan membaca kabar PSN Ngada tereliminir dari babak 16 besar Liga 3 mengusik sukacita menyongsong Natal di penghujung tahun ini. Kabar ini mengejutkan dan mengecewakan PSN Ngada Mania pun  masyarakat NTT. Mereka melakukan ‘advokasi’ melalui berbagai cara. Pertemuan, surat terbuka hingga membuat petisi di Change.Org.

Mengikuti jejak kasus ini, terhembus dugaan beraroma ‘mafia’. Tudingan, tuduhan dan vonis kepada Pemain PSN Ngada, Kiken Wea, sama sekali tak berdasar. Pemain ini  tak pernah mengantongi kartu kuning pada laga PSN Ngada versus Gaspa 1958 Palopo. Jejak digital (video pertandingan) membuktikan bahwa tudingan atau tuduhan itu sebagai  hoaks dan tentu sangat merugikan PSN Ngada dan masyarakat NTT.

Potret atau wajah sepakbola Indonesia belum bersih benar dari noktah hitam permainan mafia sepakbola. Trik, intrik dan kelicikan  dipertontonkan oknum-oknum dalam tubuh PSSI kepada publik di dalam dan luar lupangan secara kasat mata. Mereka lupa atau tidak sadar saat ini mereka hidup di era digital. Segala perkataan dan tindakan  dapat ditelanjangkan termasuk rekaman setiap laga. Tetapi oknum-oknum tersebut mencoba untuk berjudi dan beranggapan seolah-olah PSN Ngada dan pendukungnya gagap teknologi dan tak mengikuti setiap derap langkah laskar kebanggaannya.

Menyayangkan sekali dengan peristiwa ini. Mungkin PSN Ngada ‘miskin’ sehingga tidak memiliki bargaining position dan mungkin tidak terhasut oleh permainan para mafioso sepakbola. PSN Ngada memang miskin materil. Untuk bisa berlaga Liga 3, mereka harus berjuang minta sumbangan sana-sini. ‘Kemiskinan’ itu tak membuat mereka miskin pula secara moral. Bagi PSN Ngada, setiap prestasi diperoleh harus melalui  kristalisasi keringat (meminjam istilah Tukul Arwana). Harga diri lebih tinggi daripada sekedar kemenangan yang diperoleh dengan cara-cara haram.

Setiap hasil harus melewati sebuah proses. Proses itu yang yang mesti dijunjung setinggi langit pertiwi ini. Sportivitas, transparansi dan integritas harus menjadi nilai-nilai yang hidup dan dianut di dalam dan luar lapangan. Baik oleh pemain, pelatih, suporter maupun penyelenggara itu sendiri. Nah, nilai-nilai itu justeru jauh dari praktek hidup penyelenggara Liga 3.

Dengan segala keterbatasannya, PSN Ngada menuntut keadilan atas hak mereka. Mereka telah melewati proses yang benar. Sekalipun mereka tim dari ‘kampung’ tak berarti mereka ‘kampungan’ – tidak memahami seluk beluk persepakbolaan. Tak berarti pula mereka gampang dibodohin dengan argumentasi sesat penyelenggara yang bertamengkan pasal-pasal pelanggaran dan sanksi.

PSN Ngada adalah legenda sepakbola-nya NTT. Merajai berbagai kompetisi di NTT dan bahkan putra Ngada, Yance Ruma, turut berkontribusi pada sepakbola nasional di era 80-90an. Sebagai jawara sepakbola NTT, PSN Ngada memiliki ciri dan karakter sepakbola yang kuat.  Penulis menyebut PSN Ngada adalah Braziliero sepakbola NTT karena animo masyarakat terhadap olahraga ini sangat tinggi. Sementara irama permainan ja’i ala ‘tango’ Argentina. Lincah, keras dan agresif.  Tarian PSN Ngada memiliki ciri dan karakter kuat. Membedakan dirinya dengan tim sepak bola di NTT. Maka tak heran bicara sepak bola sama artinya bicara PSN dan masyarakat Ngada. Eltari Cup tanpa Ngada terasa hambar. Eltari Cup tanpa punggawa-punggawa asal Ngada tersebar di beberapa klub kontestan, sepak bola tak terasa ‘werna-werni’ dan tanpa atmosifir eforia.

PSN Ngada khususnya dan NTT umumnya mungkin tak beri kontribusi besar terhadap sepak bola nasional padahal memiliki generasi bertalenta. Sebab pertama adalah kesempatan. Kesempatan itu tak mudah didapat oleh anak-anak Ngada atau anak NTT apalagi untuk berkarier di sepakbola di Indonesia harus memiliki modal cukup untuk melicinkan jalan. Ternyata, talenta tak cukup, pemain harus punya modal kapital.

Bisa pula kesempatan itu ada. Tapi orang mungkin beranggapan pemuda NTT emosional di dalam dan luar lapangan hijau. Belum lagi, sepak  NTT identik dengan gejolak, cecok dan perkelahian di dalam dan luar lapangan. Itulah karakter kami.  Yang keras tampak kasar. Bertengkar dikira berkelahi. Tapi tak berarti kami menghalalkan sebuah proses untuk mencapai tujuan dengan mengorbankan orang lain dengan cara pembodohan secara kasat mata.

Kini  kita berada di masa sepakbola modern. Perilaku-perlikau negatif tersebut mulai luntur. Kesadaran sepakbola NTT pun bangkit. Manajemen sepakbola dibenahi. Stadion-stadion dipugar dan bahkan stadion baru dibangun. Infrastruktur lapangan dilengkapi dengan fasilitas untuk pertandingan malam hari. Artinya, pemimpin dan masyarakat NTT mau berubah seperti wilayah Indonesia bagian Barat yang beberapa langkah lebih maju di bidang infrastruktur.

Diutusnya PSN Ngada sebagai jawara NTT ke pentas yang lebih tinggi adalah kebanggaan kami warga NTT di tengah suluh optimisme yang bernyala-nyala.  PSN Ngada memang pantas mewakili klub NTT. Perjalanannya sejauh ini, pun banyak berubah sejalan irama sepakbola modern. Sayangnya, ditengah transformasi perubahan tersebut, PSN Ngada justeru dihadapkan dengan situasi irasional yang dipicu oleh penyelenggara (PSSI) – lebih tepat Komisi Disiplin Liga 3 Jawa Timur. Ada apa sebenarnya?

Pihak PSN Ngada dan pendukungnya telah sekuat tenaga mencari jawabannya. Mencari berbagai bukti untuk menyanggah tudingan. Pencarian itu berujung pada sebuah pertanyaaan; kami salah apa? Ya, memang pelatih, pemain dan pendukungnya tak menemukan alasan yang tepat terdiskualifikasinya PSN dari Liga 3.  Karena itu mereka pantas menggugat pihak-pihak yang telah ‘berselingkuh’ dan merusak marwah sepakbola Indonesia.

Saya kira perjuangan kita telah mulai. Kita tak boleh menghentikan langkah yang telah dimulai itu. Kita harus membangunkan kesadaran PSSI dengan cara elegan. Buktikan bahwa di tubuh PSSI bersarang oknum-oknum yang berwajah mafioso. Kita tunjukkan kepada mereka bahwa nilai sportivitas di atas segala kepentingan dan  prinsip  tidak  melacur pada uang dan kemenangan semu.

Memang juara adalah tujuan dari setiap perlombaan tapi tidak harus ditempuh dengan berbagai cara – terutama cara-cara negatif. Mengikuti perjalanan PSN Ngada  dua tahun berturut-turut ini, memperlihatkan fakta bahwa  “diskriminasi” di dunia sepakbola bukan hoaks. Fakta itu tak membuat kita berhenti untuk mogok dari dunia sepakbola. Sepakbola adalah “genetika” yang diwarisi secara natural. PSN Ngada membuktikan punggawanya adalah memiliki talenta bawaan lahir.  Bukan produk sekolah sepakbola. Bukan pula produk sogokan agar dimainkan. Mereka melalui proses dan diseleksi secara alamiah.

Karena itu penulis tetap berbangga karena PSN Ngada bukan produk instan. Bangga karena genetika sepakbola yang mengalir di dalam diri anak-anak PSN Ngada. Genetika itu pula yang memupuk keberanian dan kepercayaan diri mereka bertanding dimana saja.

Para punggawa PSN Ngada tak boleh merasa kalah. Bagi kami, kalian telah memenangkan pertandingan dan memenangkan seluruh  hati masyarakat NTT dengan daya juangmu. Percayalah, kebenaran akan mencari jalan sendiri. Pada waktunya kebenaran itu terungkap dan kalian berada di jalan yang benar itu.

Hidup memang demikian adanya. Herodes pun gelisah dengan kabar kedatangan Sang Raja. Meminta 3 orang majus dari timur kembali kepadanya untuk mengabarkan keberadaan Sang Raja itu. Dengan maksud bukan untuk menyembah Sang Raja itu melainkan hendak membunuh-Nya karena posisinya terancam. Ia tak mau ada yang lebih darinya. Begitu pula sepakbola Indonesia, begitu banyak wajah-wajah Herodes  yang tak menghendaki kalian merajai di kasta Liga 3. Mereka begitu takut dan gusar dan hingga membunuh kalin secara sadis.

Kiranya catatan Kletus Marselinus Gabhe menjadi modal spirit kalian. Membesarkan jiwa kalian yang menjunjung kebenaran. Bukan  catatan penghiburan setelah kalian  terlindas oleh para mafia sepakbola. Sang pelatih menulisnya berlandaskan pada  realitas PSN Ngada dari setiap generasi.

“Tugas kita dalam pertandingan bukanlah untuk menang, tugas kita adalah bermain dengan baik, bermain dengan jujur, sebagai manifestasi akan kecintaan kita pada permainan ini, kecintaan kita akan prinsip luhur warisan para pujangga sepakbola Ngada masa lalu yang anti mainstream. Mengapa? Karena dalam bermain baik dan jujur itulaha kita membangunan kesempatan-kesempatan untuk sukses. Sukses yang pada hakikatnya bukan sebatas mampu menghasilkan gol labnyak dari lawan. Bukan! Bukan itu. Sukses yang dimaksud lebih dari itu. Lebih dari sekedar menang di 90 menit.”

Penulis sepakat dengan sang pelatih. Dulu para misionaris yang mengajarkan kita sepakbola tidak sekedar untuk meraih kemenangan. Lebih dari itu, sepakbola mengekspresikan kebebasan, estetika dan kejujuran.

Lebih jauh, sepakbola tak membuat kita  terjajah. Terjajah oleh nafsu kemenangan yang diperoleh secara negatif. Sepakbola memerdekakan kita. Mengakrabkan kita. Menyatukan kita. Menjewantahkan nilai-nilai sukacita sejati. Karena sepakbola bukan sekedar kemenangan. Lagi, sepakbola tentang kebebasan, estetika dan kejujuran.

Perjuangan kalian harus pupus. PSSI Pusat pun cuci tangan seperti Herodes. Biarlah mereka menikmati hasil curian itu. Kalian pulanglah. Natal menantimu. Sukacita Kemenangan Sejati, kelahiran Sang Juru Selamat, akan menyambutmu.  Mari kita kumpulkan helaian kekecewaan, kebencian dan amarah. Rajutkan menjadi  sehelai lampin untuk membalut tubuh mungil Sang Raja yang lahir di kandang papa. Dialah Jalan Kebenaran dan Hidup serta Sumber Pengharapan. Yakinlah, kebenaran akan mencari jalan sendiri. (gbm) ***

Apabila Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan share dengan menekan tombol social media di akhir tulisan ini. Tidak diperkenankan untuk menyebarkan luaskan tulisan ini tanpa menyertakan link sumbernya. Artikel ini ditulis/disadur oleh Giorgio Babo Moggi ]