Wagub Josef A. Nae Soi Mengajak Para Fasilitator Pamsimas Menulis Catatan Refleksi Kritis

oleh
330 views
Wakil Gubernur NTT Josef A. Nae Soi foto bersama dengan peserta Rakor Pamsimas III Provinsi NTT di Hotel Aston Kupang (Foto: Dok. Ist)

[KUPANG.ONLINE]  – Wakil Gubernur NTT membuka kegitan Rakor Penyediaan Air Minum dan dan Sanitasi Berbasis Masyarakat  (Pamsimas) III di Hotel Aston, Kupang, Rabu (28/11/2018).

Kegiatan bertema “Evaluasi Pelaksanaan Tahun Anggaran (TA) 2018 dan Perencanaan TA 2019” ini berlangsung selama tiga hari dari tanggal 27 hingga 29 November dan diikuti 239 fasilitator dari seluruh Kabupaten/Kota se-NTT,  terdiri dari fasilitator senior sebanyak 29 orang, bidang pemberdayaan 70 orang dan140 orang bidang teknik.

Pada kesempatan tersebut, Wakil Gubernur NTT, Josef A. Nae Soi  mengajak para fasilitator  Pamsimas untuk bekerja dengan tulus hati  dalam mewujudkan akses masyarakat terhadap kebutuhan air bersih dan sanitasi. Salah satunya cara adalah fasilitator membuat catatan reflektif-kritis  atas setiap pekerjaan yang telah dijalankan selama ini.

“Rapat Koordinasi ini merupakan momen untuk membuat refleksi kritis. Tidak hanya sebatas melakukan evaluasi. Refleksi kritis maksudnya, hasil dari evaluasi  harus membangkitkan motivasi dalam diri untuk menggerakan orang lain dan diri sendiri dalam menggapai hasil yang telah disepakati bersama,” ujar  Josef Nae Soi.

Josef Nae Soi mengungkapkan perbedaan yang fundamental antara  refleksi kritis dan evaluasi. Evaluasi telah menjadi  hal umum dan normatif  dalam manajemen kerja. Nilainya hanya berkaitan dengan garapan. Kalau tujuan kerja tercapai, tidak ada lagi evaluasi.

“Tapi refleksi kritis, nilainya  lebih dari itu. Berhubungan dengan work atau  kerja. Membangkitkan semangat orang secara terus menerus, tanpa henti-hentinya. Masyarakat harus diberdayakan . Kalau masyarakat tidak dibangkitkan dan dilibatkan, proyek-proyek pemerintah hanya bersifat karitatif belaka, tidak bersifat sosial ,”jelas Wagub.

Wagub NTT berharap  para fasilitator dapat bekerja lebih keras dalam mewujudkan Akses Air Minum Aman dan Sanitasi Layak yang ditargetkan Pemerintah Pusat dapat tercapai pada Tahun 2019. Menurutnya, air minum  merupakan kebutuhan pokok masyarakat yang tak bisa ditunda untuk dipenuhi.  Gubernur dan Wakil Gubernur NTT bertekad secara maksimal untuk mewujudkan target pemerintah pusat tersebut.

“Saya dari dulu mengartikan Air sebagai aman, intim dan ramah. Kalau tidak ada air, orang rasa tidak aman, tidak intim dan tidak ramah. Kalau tidak air,  semua badan kita pasti gatal karena tidak mandi. Kalau tidak minum air,semua orang pasti sengsara. Bayangkan saja kalau berada di atas kapal. Tidak makan satu minggu,masih bisa bertahan,tapi kalau tidak minum air dua atau tiga hari,pasti langsung sekarat,” terang Wagub.

Sejalan dengan Visi NTT Bangkit Menuju Sejahtera, Wagub menegaskan, peran para fasilitator cukup strategis. Fasilitator memiliki peran mulia untuk meredam kemarahan masyarakat karena ketiadaan air. Fasilitator juga mesti punya rasa malu dan kesal bila melihat penderitaan masyarakat karena sulitnya akses terhadap air.

“Mari kita bangkit dari tidur, berdiri dan lari. Bila perlu melakukan loncatan atau lompatan yang sangat tinggi (quantum leap, red). Kalau di Jawa, mereka bekerja tujuh jam, maka kita harus kerja lebih dari itu untuk kejar ketertinggalan menuju NTT Sejahtera, “pungkas Wagub Nae Soi.

Pada kesempatan yang sama,  Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman, Yuli Arfa dalam sambutannya menyatakan, para fasilitator merupakan ujung tombak pelaksanaan program pada tingkat lapangan.  Untuk mempercepat proses akses air minum dan sanitasi.

“Keberadaan tim fasilitator sangat penting untuk mengawal proses pemberdayaan masyarakat. Agar mereka dapat menjadi pengambil keputusan utama, penanggung jawab utama pengelolaan air minum dan sanitasi. Berdasarkan temuan BPKP,   para fasilitator masih belum melaksanakan pendampingan secara optimal, ” jelas Yuli Arfa.

Dijelaskan Arfa, sejak Tahun 2008 sampai saat ini, jumlah desa sasaran program Pamsimas di NTT adalah sebanyak 1.504 desa dari total 3.353 desa/kelurahan di NTT.

“Tahun 2018,ada 297 desa di NTT yang mendapatkan program Pamsimas di 21 kabupaten. Sebanyak 241 desa dibiayai APBN dan 56 desa dari APBD Provinsi/Kabupaten. 11 desa di antaranya adalah desa stunting yang berada di Kabupaten Sabu Raijua, Manggrai Timur, Timor Tengah Utara. Pemerintah Provinsi wajibkan  setiap kepala keluarga pada desa Pamsimas tanam sekurang-kurangnya 5 pohon kelor. Pada Tahun 2019,Pemerintah Pusat menetapkan 247 desa baru untuk program Pamsimas di NTT. Semua akses air minum dan sanitas harus inklusif disabilitas, ” pungkas Yuli Arfa selaku Provinsial Project Manager Unit Pamsimas NTT. ***

Apabila Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan share dengan menekan tombol sosial media di akhir tulisan ini. Tidak diperkenankan untuk menyebarkan luaskan tulisan ini tanpa menyertakan link sumbernya. Artikel ini ditulis/disadur oleh Avent Reme ]