Tuhan Bersuara Melalui Roh Kudus, Kesaksian Kapten Batik Air yang Selamat Dari Gempa Palu

oleh
363 views
Kapten Batik Air Ricoseta Mafella (Foto: Grid.id)

KUPANG.ONLINE – Gempa dan Tsunami yang melanda Poso, Donggala dan Mamuju meninggalkan pesan dan kesan yang mendalam di tengah duka yang menyayat. Hal ini dialami oleh Pilot Batik Air, Captain Ricosetta Mafella. Pilot yang menerbangkan Batik yang selamat dari amukan gempa dan terjangan tsunami.

Seperti beredar di Facebook (dari akun Aisah Hebingadil Subroto), pilot ini memberikan kesaksian detik-detik keajaiban yang dialaminya sebelum gempa dan tsunami melanda Palu (Jumat, 27/09/2018). Kesaksian iman ini disampaikannya di hadapan jemaat Gereja Duta Injil BIP Jakarta, Minggu (30/09/2018).

Mafella menceritakan kegelisahan hatinya tapi ia tak tahu sebabnya. Ia hanya bernyanyi lagu-lagu rohani untuk untuk mengusir kegelisahan hatinya  sepanjang perjalanan dari Ujung Pandang ke Palu. Hal ini ia lakukan tidak seperti biasanya. Ia hanya bersenandung, tapi hari itu ia memuji Tuhan dengan sebaik-baiknya. Co-pilotnya yang Muslim yang berada disampingnya bercanda supaya ia memproduksi CD lagu rohani.

Saat pesawat hendak landing di Palu, ia melihat udara cerah tapi tiupan angin sangat kencang. Suara hatinya berkata untuk memutar satu kali di udara sebelum mendarat di Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie Palu.

Letak bandara Palu memang unik. Berada dalam apitan dua pegunungan. Setiap kali ia ke sini (Palu, red), ia selalu teringat dengan ayat dari  Alkitab,  Mazmur 23:4, yang berbunyi, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku”.

Letak bandara seperti ini baginya dan para pilot lainnya bagaikan sebuah lembah kematian. Mereka harus mengendalikan pesawat dengan ekstra hati-hati jika mendaratkan pesawat.

Batik yang dikendalikannya mendarat mulus di bandara Palu. Ia mendengar bisikan dalam hatinya agar bergegas pergi dari bandara tersebut. Oleh karena itu, Mafella meminta crew-nya agar beristirahat selama 20 menit saja sebelum pesawat terbang ke Jakarta melalui Ujung Pandang.

Ia tidak turun dari cockpit pesawat dan meminta ijin kepada Menara Kontrol untuk mempercepat lepas landas 3 menit dari jadwal yang sudah ditentukan.

Setelah ia mendapatkan izin take-off dari Alm. Agung, mereka pun bersiap lepas landas.

Mafella mengakui saat itu ia melanggar prosedur penerbangan. Ia mengambil alih tugas Co-pilot dengan menambah kecepatan pesawat saat prosesi take off. Ia sendiri sendiri tidak tahu alasannya, tapi tangannya terus memegang tuas agar kecepatan lebih besar supaya badan pesawat lebih cepat merangkak naik.

Ia tidak tahu jika di luar telah terjadi gempa. Ia memang sempat merasakan badan pesawat oleng. Ia berkata seandai saja terlambat 3 menit, maka ia tidak bisa menyelamatkan 140 penumpang karena aspal pacuan landas bandara bergelombang seperti kain ditiup angin.

Ia sempat menghubungi pihak bandara beberapa menit selepas take off, tapi ia tidak dijawab lagi oleh Anthonius Gunawan Agung. Ia lalu menengok kebawah, dilihatnya fenomena alam yang aneh. Ia melihat lubang raksasa hingga permukaan dasar laut terlihat.

Pesawat terus terbang. Berjuta tanda tanya mengobok-obok hatinya dengan kata hati dan detik peristiwa yang dialaminya. Setiba di Ujung Pandang, ia dan crew-nya diberi tahu bahwa telah terjadi gempa dan tsunami di Palu dan pegawai menara kontrol yang memandu pesawatnya take off telah gugur sesaat setelah memastikan pesawatnya lepas landas.

Sebelum bertolak ke Kuala Lumpur, Kapten Mafella mengingatkan kita pentingnya untuk mendengar suara Tuhan. Dalam situasi apapun kita harus tetap tenang. Tak boleh panik.  Supaya kita bisa mendengar dengan jelas suara Tuhan  melalui Roh Kudus yang berkarya di dalam diri kita. ***