Timnas U22 juara Piala AFF, Oase di Tengah Padang Carut Marut PSSI

oleh
160 views
Vincent Dermawan (Foto: Facebook.com/vincent.dermawan)

KUPANG ONLINE – Timnas U16, U19 dan U22 juara itu sudah biasa. Timnas Indonesia kalau kelompok usia dini sering juara. Terakhir tentu masih segar dalam ingatan kita ketika adik-adik kita Timnas U16 kemarin, Bagas dan Bagus dan kawan-kawan juara di edisi terakhir. Nah masalah besarnya ketika mereka memasuki dunia profesional atau timnas senior selalu mengalami kegagalan.

Jika mereka sering atau udah biasa juara di kelompok usia dini itu karena mereka masih polos alias tidak diracuni oleh “Liga Indonesia”. Tahu khan arti tanda petik di atas? Persepsi sendiri saja. Timnas juara piala AFF U22 bagai setetes air di tengah kasus mafia match fixing sepakbola Indonesia. Hingga kini sudah ada sekitar 15 tersangka pengaturan skor yang diciduk kepolisian termasuk “top leader-nya”, Plt. Ketua Umum Joko Driyono. Bukan rahasia lagi. Berkat gerak cepat Satgas Antimafia bola mereka satu per satu diringkus.

Ya, apa mau dikata Liga Indonesia memang penuh dengan cerita miring dan miris sekaligus memuakkan. Bahkan konon sang juara sudah di-setting jauh-jauh hari. Entah juara edisi tahun kapan. Masih ingatkan angkatan Evan Dimas dan kawan-kawan. Mereka juara AFF U18 4 tahun silam ketika diselenggarakan di Indonesia. Tahu apa yang terjadi kemudian ketika mereka bergabung ke senior dan mulai didekati dan direbut banyak klub sepakbola Indonesia?

Prestasi mereka tenggelam dan hilang. Tak usah tanya kenapa Timnas senior tidak kunjung juara piala AFF. Jawabannya ya di atas tadi. Mereka tidak mampu berkompetisi dengan Timnas negara lain karena karakternya sudah berubah. Karakter mereka dibentuk di liga yang penuh dengan cerita “mistis”.

Pertandingan-pertandingan di Liga Indonesia, entah Liga 1, 2 hingga 3 banyak terindikasi diatur mafia sepakbola yang lagi hits belakangan ini, yaitu match fixing. Siapa saja yang terlibat? Buka sendiri mbah google. Di sana ada jawabannya. Mulai pengurus PSSI, pengurus klub, hingga wasit terlibat di dalamnya. Bahkan ada pemain yang diisukan terlibat . Memang untuk saat ini belum ada satu pemain sepakbola yang ditahan atau terbukti terlibat. Namun bukan tidak mungkin hasil penyelidikan satgas bisa saja menyeret mereka jika terbukti. Di atas sudah saya sebut bahkan sang nahkodanya kini jadi tersangka. Gimana para pemain timnas kita bisa kompetitif dengan negara lain? Padahal tujuan atau muara dari liga sepakbola di sebuah negara adalah timnas.

Ini baru bicara pengaturan skor, belum bicara infrastruktur seperti lapangan sepakbola, lapangan latihan, fasilitas di klub masing-masing pemain, persoalan gaji para pemain, masalah kontrak, wasit, pembinaan usia dini, manajemen PSSI, sport science dan lain-lain. Hmmm pusing kan? Karena ternyata banyak sekali faktor yang mempengaruhi prestasi sepakbola sebuah negara. Itulah sepakbola Indonesia. Untuk sementara jalan kluar terbaik adalah REVOLUSI BESAR BESARAN di tubuh PSSI. Mulai dari pusat hingga daerah. Bila perlu pemerintah ambil alih. Toh, tinggal lapor ke FIFA bahwa ada mafia sepakbola di Indonesia. Buktinya sudah ada yaitu para tersangka sudah ditahan pihak kepolisian. Jangan khawatir. Sepakbola Italia sudah kasih contoh dimana mafioso diberantas habis oleh kepolisian Italia. Toh mereka (PSSI) tidak akan berani lagi berlindung di balik statuta FIFA. Untuk urusan mafia sepakbola FIFA memberikan hak penuh kepada pihak berwajib sebuah negara yang berada di bawah federanya untuk bertindak. Tentu saja ini bukanlah bentuk intervensi pemerintah.

Beda dengan kasus sepakbola Indonesia tahun 2015 lalu ketika sepakbola Indonesia dibekukan FIFA. Pemerintah saat itu mengintervensi dengan mengambil alih sepakbola Indonesia bukan karena adanya masalah mafia seperti saat ini. Nah, selama ini statuta FIFA bak dewa yang tidak bisa disentuh oleh siapa pun, bahkan oleh pemerintah sekalipun. Jadilah mereka (PSSI) selalu berlindung di baliknya.

Saatnya merombak total kepengurusan. Isilah dengan orang orang baru dan profesional di bidangnya. Beberapa calon mulai dari Erick Tohir hingga Ahok digadang-gadang akan menjadi calon yang tepat. Bahkan Najwa Sihab berkat keberaniannya membuka tabir dosa sepakbola Indonesia lewat acara “PSSI BISA APA Jilid 1 – 4 ” juga jadi kandidat. Dan, yang paling penting juga adalah singkirkan para politisi yang menjadikan sepakbola sebagai kendaraan politik. Tahu khan maksudnya ? Ini salah satu faktor mengapa sepakbola kita terutama di jenjang senior selalu gagal berprestasi.  Kasihan selama ini ternyata penonton sepkabola Liga Indonesia disuguhi sandiwara ala mafia. Mafia sepakboka Indonesia.

Selamat kepada Timnas U22 yang menjadi juara. Kalian bak oase di padang gurun di tengah carut marut PSSI. Semoga kalian tetap juara ketika memasuki Timnas senior kelak. Teruslah belajar dan belajar. Jangan berpuas diri karena kalian masih junior. Medan sesungguhnya adalah ketika kalian memasuki rimba sepakbola bernama Liga Indonesia. Karena di sana ada macan, harimau buas, ular beracun hingga lebatnya ilalang yang menghimpit tubuh-tubuh polos kalian dan segudang masalah lain. Kalian baru mau menuju ke sana. Bersiaplah adik-adikku yang gagah dan perkasa bagai burung Garuda. ***

Apabila Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan share dengan menekan tombol social media di akhir tulisan ini. Tidak diperkenankan untuk menyebarluaskan tulisan ini tanpa menyertakan link sumbernya. Artikel ini ditulis/disadur oleh Vincentius Darmawan ]