,

Tiba di Kota Kefamananu, Saya Temukan Hal Unik di Rumah Makan Ini

oleh
326 views
Suasana RM. Sumber Baru Kefamananu (Foto: Dok. Pribadi)

KUPANG ONLINE – Kesempatan tiba. Bertugas lagi di Kota Kefamananu. Bagi saya, kota ini sangat tanggung bila ditinjau dari aspek transportasi. Mengapa?

Memerlukan waktu 4 jam lamanya dari Kota Kupang. Satu-satu pilihannya adalah menempuh perjalanan darat. Pilihan transportasi darat pun terbatas, kalau bukan bus, ya mobil travel tujuan Belu. Bisa ditempuh dengan pesawat tetapi harus via Belu. Kita tetap saja menempuh perjalanan darat menuju jantung Kota Kefamananu.

Posisi geografis  demikian adanya dan terbatasnya pilihan jenis sarana transportasi  ke sana, menyebabkan posisi Kefamananu terbilang tanggung. Bisa dibayangkan kelak jika kota Kefamananu memiliki bandara, waktu tempuh dari dan ke kota Kefa akan lebih pendek.

Kesempatan tugas tiba. Saya dan dua sahabat seperjalanan memutuskan untuk naik Timor Travel daripada bus. Bus sering berhenti di sepanjang jalan karena harus ‘mengangkut’ penumpang. Sementara travel hanya berhenti di agen-agen pada setiap kota dan tidak mengantar penumpang sampai pada tujuan.

Dalam perspektif bisnis, jangkauan dan waktu tempuh demikian tidak efektif. Tak berarti sisi lain atau sudut pandang lain yang lebih luas tak menarik. Bagi saya, menempuh perjalanan Kupang-Kefa tetap menyenangkan. Bagi siapa saja. Lebih utama bagi orang-orang yang suka berplesiran. Seberapa jauh pun rute perjalanan tetap dinikmatinya dan menantang adrenalin pertualangannya.

Di tengah perjalanan, saya bertanya kepada penumpang lain. “Kita mampir makan, dimana?”

“Kita makan di Kefa setelah itu mobil mampir di agen, “jawab penumpang itu.

“Oh begitu. Bukan di Niki Niki?”

“Bukan.”

Ada benar juga sih. Kalau mampir di Niki Niki masih terlalu pagi. Bis atau mobil travel di daratan Timor mampir di rumah makan untuk makan siang.

Tiba di ruas utama Kefa, mobil berhenti pada sebuah rumah makan. Beberapa mobil travel sudah lebih dahulu parkir  Paradise dan  Timor Travel. Rupanya rumah makan ini menjadi langganan travel tujuan Kupang-Timor Leste.

Para penumpang turun satu persatu. Segelintir saja  memilih berteduh di bawah pohon. Mereka  mengepulkan asap dan bercengkerama dengan penumpang lain. Banyak pula yang masuk rumah makan.

Yang unik di rumah makan ini, penumpang harus mengantri saat mengambil makan.  Sebuah pemandangan yang menarik. Yang pertama kali dijumpai penulis. Tak biasanya untuk ukuran rumah makan di NTT, biasanya pengunjung dilayani. Tapi di rumah makan ini, tak ada petugas yang menunggu dan melayani. Penumpang melakukannya secara swalayan, mulai dari ambil piring hingga menyenduk makanan. Setelah penumpang duduk di meja, pelayan datang mencatat menu yang diambil penulis dan menanyakan minuman.

Dalam pengamatan penulis, ada berbagai strategi rumah makan untuk merebut hati para sopir dan penumpang di NTT. Ada pemilik rumah makan yang menawarkan makan gratis kepada sopir yang menghantar penumpang ke rumah makannya. Ada pula yang memberikan kebebasan sepenuhnya penumpang untuk mengambil makanan sendiri seperti di rumah sendiri. Ini disebut dengan marketing strategy.

Tapi dalam tulisan ini, penulis tak bermaksud berbicara strategi bisnis setiap rumah makan. Perhatian penulis pada pemandangan pengunjung yang mengantri ambil makanan. Bagi kebanyakan dunia atau negara barat, antrian telah menjelma menjadi sebuah budaya dalam segala hal. Hal ini (budaya antri) mungkin menjadi pemandangan yang langkah di negeri kita.

Terlepas apapun motif atau tujuan dari sang pemilik, secara tak langsung sang pemilik mengajarkan budaya antri kepada para penumpang. Hal yang sepele, tapi bila disadari betul, pemandangan ini sangat luar biasa dampaknya. Antrian tak sekedar mengajar siapa duluan siapa dilayani, melainkan soal sikap saling menghargai satu sama lain. Sikap penghargaan terhadap waktu. Begitu berharganya waktu, maka memerlukan sikap yang sabar untuk mengantri. Mau bukti? Ya datang saja ke Rumah Makan Sumber Baru, Jl. Eltari Km. 6 Kefamananu. ***

Apabila Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan share dengan menekan tombol social media di akhir tulisan ini. Tidak diperkenankan untuk menyebarkan luaskan tulisan ini tanpa menyertakan link sumbernya. Artikel ini ditulis/disadur oleh Giorgio Babo Moggi ]