Terimakasih Pemerintahan Jokowi-Kalla

oleh
96 views
Prof. Andreas Lako (Foto: Dok. Pribadi)

Semarang, KUPANG.ONLINE – Visi pemerintah Jokowi-Jusuf Kalla adalah mewujudkan pembangunan yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hal ini dapat dilihat pada geliat pembangunan infrastruktur di seluruh negeri ini. Prof. Andreas Lako, guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Atmajaya Soegiyopranoto Semarang menulis sebuah catatan apreasiasi untuk pemerintah Jokowi-JK.

Catatan ini dibuatnya dalam perjalanan tugasnya ke Samarinda, Jogja dan Semarang sebagaimana dipublikasikan di halaman facebook-­nya. . Atas ijin beliau, kami mempublikasikan kembali di media kesayangan anda ini.

Setelah 3 bulan tak bepergian menggunakan pesawat terbang, pada 4 September lalu saya berangkat ke Samarinda via Balikpapan menggunakan pesawat Lio Air. Saya ke Samarinda dalam rangka menghadiri Simposium Nasional Akuntansi (SNA) ke 21.

Yang membuat saya senang, kagum, bangga dan berterima kasih kepada pemerintahan Jokowi-Kalla adalah; ternyata Bandara Ahmad Yani Semarang sudah pindah ke lokasi baru dan berubah menjadi bandara internasional yang modern, megah dan rapih. Ternyata peresmiannya sudah dilakukan Presiden Jokowi sebelum Lebaran 2018. Padahal, pada pertengajan Mei 2018, saya masih mendarat di Bandara lama yang sederhana dan agak memprihatinkan.

Sesampainya di Bandara Internasional Sepinggan Balikpapan, ternyata pesawatnya mendarat di bandara baru yang juga megah dan modern mirip Bandara Ahma Yani Semarang. Saya semakin bersyukur dan berterima kasih kepada pemerintahan Jokowi. Ternyata Bandara megah dan mewah tidak hanya lagi monopoli Bandara Sutta Tangerang, Ngurah Rai Bali, Hassanudin Makssar, Kualanamu Medan, Juanda Surabaya dan lainnya, tapi juga sudah mulai merata hampir di sejumlah kota besar di Tanah Air.

Dalam perjalanan darat menuju Samarinda krn bandara baru di kota Samarinda belum beroperasi krn belum selesai pengerjaannya, saya menyaksikan jalan negara antarpropinsi tidak semewah di Jawa. Jalannya agak kurang lebar dan kurang mulus. Konon, sering terjadi kecelakaan dan macet. Tingkat kepadatan penduduk dan kehidupan masyarakatnya juga agak jauh bila dibanding Jawa.

 Kondisi tersebut membuat saya berpikir bahwa pembangunan nasional yang digerakkan oleh Pemerintah Pusat melalui APBN memang perlu terus ditingkatkan secara signifikan ke depan agar keadilan sosial bagi seluruh rakyat dan persatuan Indonesia serta kemanusiaan yang adil dan beradab dapat terwujud nyata dan dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat indonesia. Darimana sumber pendanaannya, memang menjadi tantangan dan PR kita bersama. Jika memang negara harus berutang untuk pendanaan pembangunan infrastruktur dan lainnya dalam upaya mewujudkan keadilan dan persatuan tersebut dan juga dalam upaya mentrasformasikan Indonesia menjadi bangsa yang maju, kuat, sejahtera dan bermartabat ke depan, kenapa kita sesama anak2 bangsa harus takut, cemas dan ribut???

Sesampainya di kota Samarinda, saya melihat kotanya relatif tertinggal dari kota-kota besar yang menjadi ibukota propinsi di Jawa. Harga2 kebutuhan pokok, misalnya terkait kuliner, memang agak lebih mahal di banding Semarang. Namun, beberapa driver grab car dan sopir, serta beberapa orang di sana yang sempat saya ngobrol santai menyatakan bahwa kondisi mereka sekarang ini sudah lebih bagus. Gerak pembangunan fisik sangat dirasakan ada banyak kemajuan. Mereka juga sangat senang dan bangga dengan kehadiran bandara baru di Samarinda. Mereka yakin Bandara itu akan membuat perekonomian Kalimantan Timur tambah maju. Mereka juga mengharapkan Pemerintah Pusat juga terus memperhatikan Kalimantan agar bisa sejajar dengan Jawa.

Setelah menghadiri Simposium Nasional Akuntansi (SNA) dari tanggal 5-7 September, pada 7 September saya kembali ke Jawa via Jogya karena pada 8 September ada acara seminar di UAJY.

Di Bandara Internasional Adi Sucipto, saya menyaksikan kesederhanaan bandara tersebut sangat terasa. Bahkan, pada Pebruari 2018 lalu ketika kembali dari Pilipina, bandara tersebut sepertinya semrawut. Petugas imigrasi terlihat membiarkan kesemrawutan itu sehingga antar penumpang terjadi gesekan2 kecil. Bukti koper/barang bagasi juga tidak diperiksa.

Kesederhanaan Bandara Adisucipto Jogya memang menuntut Pemerintah Pusat segera merelisasikan pembangunan bandara baru di Kulonprogo, Jogya. Saya yakin, bandara baru ini pasti akan lebih bagus, megah, tertata rapih dan penuh nuansa Jogya. Keberhasilan pembangunan tersebut tentu juga akan berdampak positif secara luas terhadap kemajuan pembangunan dan perekonomian Jogyakarta dan Jawa Tengah. Selain itu, keberadaan bandara baru juga akan mengurangi kesemrawutan Kota Jogya yang kian padat, terutama kepadatan lalulintasnya.

Teruslah membangun pak Jokowi.

Dari paparan di atas, saya menyimpulkan bahwa pembangunan infrastruktur dan lainnya yang dipacu pemerintahan Jokowi-Kalla selama 4 tahun terakhir memang sudah terwujud nyata. Dan hasil-hasilnya serta dampak-dampaknya juga sudah mulai dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat di seluruh Indonesia. Banyak relasi saya dari Papua, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Sumatera memberi testimoni tentang perubahan-perubahan kemajuan yang cukup pesat di wilayah mereka. Di Jawa, kemajuan itu juga sangat dirasakan.

Namun demikian, kemajuan2 yang dicapai dalam beberapa tahun terakhir belumlah cukup untuk mentransformasikan Indonesia menjadi bangsa yang maju dan sejahtera, adil-makmur sesuai semangat dan nilai2 Pancasila. Masih terdapat banyak daerah yang tertinggal dan miskin. Masih ada banyak sektor kehidupan yang harus dibangun.

Karena itu, Pemerintah harus terus membangun dan membangun Indonesia ini dari Sabang sampai Merauke lebih giat lagi dengan menggunakan seluruh sumberdaya dan energi atau daya yang dimiliki bangsa ini. Tujuannya, agar bangsa dan negara kita ini bisa menjadi negara maju dan adil-makmur dimasa datang.

Karena itu, saya mengharapkan Presiden Jokowi dan pemerintahannya jangan pernah lelah, jenuh dan bosan apalagi putus asa untuk terus memotivasi dan menggerakan seluruh komponen bangsa serta menggunakan seluruh daya dan energi yang ada untuk terus membangun Indonesia agar semakin lebih baik dan lebih baik lagi.

Abaikan kritik dan cemoohan yg ngawur dari pihak-pihak yang ego, negative thinking dan kerdil pikirannya serta buta mata-hatinya dalam melihat realitas…..Biarkanlah alam semesta yang akan membalas dan mengajarkan “kebenaran” kepada mereka.

 

Salam Indonesia Raya nan Hijau.

Catatan perjalanan tak selamanya mengumbar tentang pesona wisata. Pula tentang kemajuan bangsa dibawah kepemimpinan Jokowi-Kalla. Semoga catatan ini bermanfaat untuk membangun peradaban.