Semi-Seminari St. Klaus Yang Membebaskan Kami Memilih Untuk “Menjadi”

oleh
608 views
Novisiat Sang Sang Sabda, SMP/SMA St. Klaus, Rumah Unio, dan Biara PRR Kuwu - Ruteng - Manggarai (Foto: Dok. gbm)
(Sebuah Catatan Khusus Untuk Pesta Pelindung Almamater)
 
KUPANG.ONLINE – DUA PULUH LIMA SEPTEMBER. Hari ini. Pesta pelindung almamaterku – SMP/SMA St. Klaus Kuwu Ruteng Manggarai. Lima tahun lamanya hidup dalam dekapan almamater. Rahim yang menghidupi dengan ilmu, kebajikan dan keteladan dari sang pendiri dan para pendidik.
 
Saya tak mengira suatu waktu berada di tempat ini. Di luar dari pikiran dan angan. Tempat ini pun tak pernah terlintas dalam benak. Hidup memang adalah misteri dengan lika-liku. Tuhan memang telah menggariskan setiap manusia dari mana ia memulai langkah dan kemana arah dan lintasan yang harus dilaluinya.
 
Menumpang Kapal Motor Ratu Rosari yang melegenda itu dari pelabuhan Maumere. Ditemani muder, pimpinan biara SSPS Kota Baru berangkat di suatu senja. Melintas Laut Flores yang teduh. Melewati malam syahdu yang diiringi deru mesin kapal. Lelap dalam tidur. Dan, akhirnya, kami tiba di titik tujuan pagi hari. Ya, pelabuhan Kedindi, teluk nan permai di Reok, Manggarai.
 
Siang hari, perjalanan dilanjutkan menuju Ruteng. Tiba malam hari. Menginap semalam di biara SSPS sebelum melangkah kearah barat. Tepatnya RS. Damian Cancar. Tempat tujuan pertama. Dimana saya harus mengikuti rangkaian fisioterapi.
 
Kenyataan tak terjadi. Sang pemimpin RS. Damian, Sr. Virgula, “mengasramakan” saya di sebuah lembaga pendidikan di atas hamparan tanah merah. Berada di atas punggung bukit dan lembah Waebalak. Pula tak jauh dari Wae Garit. Hamparan yang kritis yang digubahnya menjadi medan yang ramah dengan tanaman dan pepohonan. Pula menggubahnya dengan bangunan beton sekolah, asrama, biara yang ditata secara unik.
 
Saat perjumpaan pertama, pagi yang dingin, baru tiba dari Ruteng, Sr. Virgula menyambut kami di halaman RS Damian. Katanya, saya harus sekolah di Kuwu. “Di sini, sekolah tidak bermudu (bermutu, maksudnya)”.
 
Saya diantar ke Kuwu. Hatiku bahagia saat memasuki kompleks St. Klaus. Suasananya tenang. Tatanan bangunannya khas Manggarai berupa lodok dengan lapangan sebagai ‘pusar’. Tempat yang sempurna untuk mengais ilmu. Itu gambaran awal saya tiba di Kuwu.
 
Keesokan harinya saya berangkat ke sekolah. Saya menemui Sr. Josephine PRR, kepala sekolah. Saya memperkenalkan diri. Suster yang dikenal tegas dan disiplin ini tak banyak bicara. Olehnya, saya dimasukan di kelas IID.
 
Sejak di Kuwu, saya memperkenalkan diri dengan nama Gerson. Para guru dan teman-teman tahu saya berasal dari Maumere karena saya sebagai siswa pindahan dari SMPK Virgo Fidelis Maumere. Mereka mengenal saya sebagai orang Maumere daripada orang Nagekeo.
 
Sebenarnya, SMP St. Klaus Kuwu tidak menerima siswa pindahan – kecuali dari Seminari Kisol. Pengecualian saya. Saya tak tahu pasti alasannya. Saya menduga ada hubungan baik Sr. Virgula dengan Pater Wasser, pendiri dan ketua Yayasan St. Klaus. Orang mengenal Sr. Virgula dan Pater Wasser sebagai saudara dan saudari. Keduanya berasal dari Eropa. Sr. Virgula dari Jerman, sedangkan Pater Wasser dari Swiss. Sr. Virgula berkarya di bidang kemanusiaan, Pater Wasser membaktikan diri pada bidang pendidikan dan pembangunan.
 
Hubungan baik Virgula-Wasser berdampak positif pada saya. Keberadaan saya di Kuwu mendapat perhatian dari Pater Wasser. Dimulai dengan penempatan kamar tidur, kamar makan dan kemudahan lain. Ia sangat mempertimbangkan aspek aksebilitas. Ia tak pernah mengatakan segala sesuatunya kepada saya secara langsung tapi melalui kaki tangannya yakni para pembina asrama dan para guru.
 
Penulis bersama teman kelas – Romo Stanis Kamput, Sony Nomer, Rossy Janggor dan Hendrik Danggur (Foto: Dok. Pribadi)

Di Kuwu, saya mengenal istilah semi seminari untuk SMP/SMA St. Klaus (selanjutnya saya sebut St. Klaus). Bagian sebagian besar orang, terutama orang Manggarai, St. Klaus adalah lembaga pendidikan seminari. Pola pendidikan, pendampingan dan lain-lainnya seperti seminari. Siswa diasramakan. Segala perangkat aturan diberlakukan di asrama maupun di sekolah sangat ketat. Disebut “semi” karena lembaga pendidikan ini menerima pelajar perempuan – model yang tidak ada pada seminari pada umumnya yang menganut single sex school.

 
Menyandang semi seminari, St. Klaus menjadi lembaga pendidikan yang unik jika dibandingkan dengan seminari pada umumnya. Tantangan yang dihadapi pun berat. Tak sedikit pula yang “nyinyir” dengan label ini – bahkan (mungkin) cemburu dengan tamatan SMA St. Klaus yang langsung masuk novis tanpa melalui kelas persiapan bagi mereka yang ingin menjadi imam/biarawan.
 
Konsep ini, murni gagasan sang pendiri, Pater Wasser. Lagi, ia tak pernah bersoal jawab atau berdebat soal label ini. Baginya adalah kerja, kerja dan kerja. Tak peduli. Cita-citanya mencapai tujuan. Ia memang sampai tujuan. Model semi-seminari berbuah lebat meskipun tak selebat seminari yang lain. Paling tidak dari rahim St. Klaus melahirkan alumni yang melanjutkan pendidikan ke seminari tinggi dan kemudian membaktikan diri sebagai imam, biarawan dan biarawati.
 
Saya tak dapat menyebut angka yang pasti berapa jumlah mereka yang memilih “jalan sunyi” – menjadi rohaniwan dan biarawan/wati. Saya hanya bisa menyebut teman seangkatan saya yang memilih jalan sunyi itu. Mereka adalah RD Stanislaus Kamput, RD Vitalis Salung, RD Gusti Iwanti dan RD Hiero Bandu. Keempatnya berkarya di Keuskupan Ruteng.
 
Empat kawan yang disebutkan di atas adalah sejumlah kecil buah dari visi dan misi St. Klaus yang mekar – masih banyak junior yang memilih jalan sunyi. Tanda atau bukti kegigihan Pater Wasser untuk mewujudkan St. Klaus sebagai lembaga pendidikan “semi seminari”.
 

Ia tak hanya melemparkan gagasan atau berbicara tanpa usaha. Ia terus bekerja di tengah gelombang tantangan yang datang silih berganti. Ia membekali lembaga dengan berbagai sarana dan prasarana yang memadai serta sumber daya untuk mendukung visi dan misinya yang tak lazim – semi seminari. Ia membuka diri dan jadikan St. Klaus sebagai ladang praktek atau TOP para frater. Tempat berkarya para bruder SVD dengan bidang dan keahlian masing-masing. Meminta kerelaan para imam/pastor paroki terdekat untuk mengisi “pelajaran seminari” pada sore harinya. Ia sendiri guru Latin yang “pelit” beri nilai. Katanya, kesempurnaan milik Tuhan, maka tak seorang pun dapat nilai 10 dari pelajarannya.

 
Kami harus berbagi waktu. Pagi hingga siang menerima pelajaran umum, sore harinya kami harus bergulat dengan pelajaran khusus seperti sejarah gereja, kitab suci, dan bahasa Latin. Beberapa imam pernah menjadi guru kami. Mengenalkan kami tentang sejarah gereja. Mengajarkan kami menafsir teks kitab suci.
 
Cara itu jadikan St. Klaus unik di Manggarai, Flores, bahkan di nusantara ini. Pater Wasser melahirkan gagasan besar, dengan model pendidikan semi seminari yang menciptakan pro dan kontra di kalangan sendiri.
 
Sebuah kesadaran yang terlambat. Pertanyaan yang baru ditemukan jawaban sekarang. Mengapa ia menggagas untuk membangun gedung di biara PRR di Kuwu, dengan Novisiat SVD Sang Sabda, pula rumah unio (rumah imam projo)? Mungkin ini alasannya. Pater Wasser menginginkan keberadaan mereka dapat mewarnai komunitas St. Klaus. Mereka tak sekedar mewarnai, juga menginspirasi anak-anak lembah Waebalak untuk mengikuti jejak mereka sebagai imam, biarawan/wati.
 
Kami tak pernah tahu alasan dengan gagasan mendirikan konsep lembaga pendidikan “semi seminari”. Yang pasti kami telah melakoni gagasannya dan pernah menjadi murid sekaligus alumninya. Diantara kami bebas memilih jalan setelah dibekali pengetahuan, kebajikan dan keteladanan dari sumber yang sama. Dari materi yang sama. Bila hari ini, St. Klaus terus mengirimkan alumninya ke berbagai seminari tinggi dan biara, jawaban Pater Wasser adalah sumbernya. Dialah sang maestro Semi Seminari St. Klaus.
 
Di lembaga ini, kami bebas memilih. Memilih jalan hidup. Menjadi awam, rohaniwan, dan biarawan/wati. Sesuatu yang pasti kami mengecap hal yang sama yaitu KEUTAMAAN ST. KLAUS sebelum kami berpisah di persimpangan jalan meniti langkah selanjutnya.
 
SELAMAT MERAYAKAN PESTA ST. KLAUS von FLUE
Semoga ST. KLAUS tetap JAYA.