Selalu Rindu Kembali Sumba Ketika Meninggalkannya Hingga Cerita Plat Kendaraan di Wilayah Kodi Utara

oleh
333 views
Penulis dan rombongan dengan pesona Sumba di ruang kedatangan Bandara Tambolaka (Foto: Dok. Pri)

[KUPANG.ONLINE]  – Tiba di Tambolaka bukanlah yang pertama. Untuk kesekian kali, saya pijakan kaki di sini. Segumpal rindu untuk kembali. Selalu ada  asa akan sebuah kesempatan kembali. Daripa sebuah panggilan tugas, kesempatan itu datang jua. Saya kembali melihat Sumba.

Mendengar atau menyebut Sumba, gelora rindu membuncah. Memendam perasaan itu di relung jiwa, menjalar rona di wajah. Jelajahi Sumba tak bisa puas  dengan hanya mengunjungi satu tempat wisata. Tak pula dua, tiga, atau empat. Mengunjungi Sumba, melewati seluruh lekak-lekuk seluruh keindahannya. Mencumbuinya hingga hatimu tertambat dan selalu ada kerinduan untuk kembali ketika engkau meninggalkannya.

Sang fajar menyambut kami di Tambolaka, Jumat (30/11/2018) lalu mengalirkan kehangatannya di tubuh. Terasa seperti menyapa dan berjabat tangan erat. Menuruni tangga pesawat Nam Air dengan langkah sumringah. Membayangi titik-wisata yang bakal digauli. Waikuri, permandian para putri kayangan. Pantai Mandora, teluk mungil berpasir putih. Persembunyian bidari kala turun ke bumi. Ratenggaro, perkampungan adat uzur, kesohor dan berdaya magis. Akh, tak cukup kutulis semua tempat-tempat nan pesona di sini.

Penulis dengan latar tulisan penyambutan di ruang kedatangan Bandara Tambolaka (Foto: Dok. Pri)

Di ruang ruang kedatangan Bandara Tambolaka, sebuah tulisan “Welcome to Sumba” menyambut dari dinding yang berhadapan langsung dengan pinta ketibaan. Pula dinding disamping kiri arah kedatangan kami, sebuah baliho selebar tembok menyuguhkan pesona Sumba. Bagaikan magnet, menghentikan langkah kami sejenak. Mengabadikan kenangan dengan gambar dan tulisan terpatri di tembok yang “instragramble” ini.

Melangkah keluar ruang kedatangan. Jemputan belum tiba. Mengisi waktu, saya foto suasana di luar gedung bandara.Tiang-tiang besar, bulat dan kokoh menyangga bangunan bandara. Menampakkan wajah Bandara Tambolaka yang berbeda dengan bandara lainnya di negeri Pasola bahkan di NTT.

Mobil yang menjemput kami tiba. Memarkir di sisi kiri pintu keluar bandara. Disambut sopir dan rekannya dengan ramah. Mereka adalah satu tim dengan Hendrik,  teman seperjalanan yang akan melakukan pengukuran lokasi tanah yang akan kami survei nanti.

Sopir yang juga sarjana sipil ini sangat ramah dan supel. Suka bercerita. Keluar di bandara, ia bertanya, “Bapak-mama sudah berapa kali ke sini?”

“Sering kali,”jawab ibu Nelci, teman dalam perjalanan Sumba yang diamini yang lain.

Sampai di jalur utama kota Tambolaka, ia menanyakan soal penginapan.

“Saya coba menghantar bapak-mama di sini. Kalau bapak—mama rasa tidak cocok, kita bisa cari yang lain.”

Ia menurunkan kami di Ella Hotel. Sebuah hotel tak jauh dari bandara. Bersebelahan langsung dengan Hotel Sinar Tambolaka. Saya, pak Yan, ibu Nelci, dan Hendrik turun dari mobil. Bergegas ke meja resepsionis untuk menanyakan ketersediaan kamar.

Suasana hotel baru ini menjadi daya pikat kami untuk tidak berpindah ke lain tempat apalagi resepsionis menyampaikan ada beberapa kosong kamar hari ini. Karena tamu yang check out hari ini belum keluar, kami diminta untuk bersabar hingga jam 12 siang.

Masih lama menunggu jam 12, kami pun menitipkan tas-tas di hotel dan menuju lokasi sekolah baru di Kecamatan Kodi Utara. Tugas kami melakukan survei kebenaran lokasi ini benar-benar ada dan bebas dari masalah hukum, selanjutnya pengukuran dilakukan tim konsultan.

Ibu Nelci yang cukup mengenal Sumba, mengingatkan kami untuk menyiapkan perbekalan atau sarapan sebelum berangkat. Karena lokasi yang dituju dapat ditempuh dalam waktu 1 jam bahkan lebih. Pertanyaan ibu Nelci diamini sopir.

Pilihan kami pada Rumah Makan Padang. Tersedia makan cepat saji. Kami tak harus menunggu lama untuk melahap hidangan. Setelah makan, kami menerukan perjalanan ke Kodi. Tapi kami tak tau persis lokasi survei. Begitupula salah satu pejabat dari UPT Pendidikan XII. Kami berjanji bertemu, selanjutnya menunggu bapak Hugo Kalembu yang menghibahkan tanahnya untuk pembangunan sekolah. Ia memang sedang dalam perjalanan dan berjanji akan bertemu di simpang tiga yang tak jauh dari sebuah SD.

Ella Hotel (Foto: Dok. Pri.)

Saat meninggalkan kota Waitebula, sang sopir memulai dengan joke-joke ringan ala Sumba. Dialeknya yang khas menambahkan ciri kesumbaan kian kental.

“Bapak dan mama nanti lihat, kalau lewat di jalan Kodi hanya dua jenis pelat kendaraan saja yang ditemui di sini.”

“Maksudnya, “tanya saya penasaran.

“Benar, bapak. Yang pertama, plat luar, dan kedua, tanpa plat.”

Jawaban cukup mengocok perut. Saya tak mampu tahan tawa. Bersamaan penasaraan pun menjadi-jadi. Apakah benar atau tidak yang diceritakan sopir ini. Mata saya mulai mengawas setiap kendaraan yang lewat di hadapan kami.

Belum sampai lima meter, muncul sebuah kendaraan motor tanpa plat.

“Nah, itu. Benar khan bapak.”

Muncul lagi kendaraan tanpa plat. Bersusulan dengan kendaraan berplat luar. Mayoritas plat DK.  Tapi kendaraan yang kami jumpai di jalan lebih banyak tak berplat. Toh, kalau berplat kendaraan berplat DK (Bali). Sementara kendaraan berplat ED (Sumba) dapat dihitung dengan jari.

Sopir tak mampu meyakinkan mengapa hal itu bisa terjadi. Ia hanya menduga-duga, kendaraan tersebut merupakan kendaraan ilegal, hasil jual beli tanpa dokumen sah. Entah benar atau tidak, ada pada pemilik kendaraan itu sendiri. Saya pun tak membenarkan pendapat sopir tersebut. Tapi, yang menarik bagi saya, hal ini semestinya ditelusuri.

Kendaraan motor roda dua  tanpa plat melintas di jalan Tambolaka-Kodi (Foto: Dok.Pri)

Meskipun sopir telah menjawab, pertanyaan itu tetap menggantung di benak. Mata saya terus tertuju pada setiap kendaraan yang lewat. Tesis sopir bukan hampir mencapai kebenaran umum melainkan memang benar adanya. Kendaraan tak berplat dan plat luar mudah ditemui di Kodi ini.

“Hanya di Kodi. Mereka di sini percaya diri tinggi, “ jawabnya dengan nada guyon.

“Kok, percaya diri tinggi?”

“Iya. Mereka bisa masuk kota dengan motor tanpa plat dan helm.”

Ada benarnya ucapan sopir ini. Saya mudah menjumpai kendaraan tak berplat hilir mudik pusat kota Tambolaka. Entah, polisi merazia atau tidak, tapi kata sopir tadi, mereka “percaya diri tinggi” bawah motor tanpa plat.

Sayangnya, selain tak berplat, pengendaraan tak mengenakan helm. Anak-anak dan remaja begitu mudahnya mengendarai kendaraan di jalan raya yang ramai tanpa pengawasan orang tua. Bukankah itu dapat membahayakan generasi penerus Sumba?

Meski ada keprihatinan karena ketidakpedulian masyarakat untuk berkendaraan yang benar, cerita sopir itu membuat kami  tak dapat menahan tertawa. Ceritanya lucu. Jawaban-jawabannya atas pertanyaan kami pun lucu. Akibat ceritanya,  mata saya terus mengawasi situasi sepanjang jalan. Hasil pengamatan saya, di antara 1 kendaraan yang berpapasan kami, 1  memiliki plat, 3 lainnya tak mempunyai plat. Adakah yang tahu sebabnya? ***

Apabila Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan share dengan menekan tombol social media di akhir tulisan ini. Tidak diperkenankan untuk menyebarkan luaskan tulisan ini tanpa menyertakan link sumbernya. Artikel ini ditulis/disadur oleh Giorgio Babo Moggi ]