Rahim Kopi Manggarai dan Sensasi Kopi Pa’it Colol yang Membakar Lidah

oleh
412 views
Kopi Pa'it Colol (Foto: Caroline Djerabu)

KUPANG.ONLINE – Aroma kopi menyengat seisi kamar tidur di asrama. Saya pun berjalan mendekat ke sumber aroma itu berasal. Aha, kopi diseduh dalam sebuah ember hitam. Penyeduhnya, sahabat sekamar, asal Lambaleda. Ia menawarkan saya untuk mencicipinya. Tak ada rasa sungkan sedikitpun Tergoda sembulan aromanya, saya menyeruput kopi hitam itu.

Aura wajahku langsung berubah. Rasanya ini menyembur kembali kopi yang terlanjur masuk kedalam mulut jika seandainya mulutku tak terkancing oleh perasaan tak enak dengan sahabatku itu. Saya berusaha untuk menelannya meskipun rasa pahit di indra cita rasaku. Gluk. Saya menghabiskannya dan menyisakan ampas di gelas. Sesudahnya aku tak memintanya lagi. Saya tak mampu minum kopi tanpa gula.

Ternyata, bagi orang Manggarai, minum kopi, ya kopi. Kopi tanpa gula. Budaya orang Manggarai. Bukan ketiadaan uang untuk membeli gula. Tradisi ini berbeda dengan masyarakat di kampung halamanku dan masyarakat lain di daratan Flores. Mereka menyeduh kopi dengan gula. Cita rasa kopi yang asli pahit terasa manis karena telah bercampur gula.

Itulah pertualangan pertamaku seperempat abad yang lalu di Kuwu – berada di lingkungan asing yang berbeda tradisi dalam penyajian kopi. Manggarai. Bumi diujung barat Nusa Bunga. Pengalaman serupa terulang ketika saya menemui tamu dari Jerman di Batik Palace Hotel Yogyakarta belasan tahun silam.

Untuk masyarakat Flores, orang Manggarai identik dengan kopi. Kopi menjadi minum khas yang selalu tersaji untuk para tamu. Ini bisa dimaklumi, kopi pertama kali dikembangkan di Manggarai karena kondisi geografisnya sangat cocok budidaya tanaman kopi. Sebuah kampung meleggenda dengan tanaman kopinya. Kampung itu adalah Colol. Berada di wilayah administrasi pemerintahan Kecamatan Poco Ranaka Timur, Kabupaten Manggarai, NTT.

Kopi Colol (Foto: Carolina Djerabu)

Saat ini, Colol merupakan penghasil kopi terbesar untuk Manggarai (Manggarai Raya) dan pula menjadi trade mark-nya kopi Manggarai. Floresa.Co (14/03/2014) pernah merilis laporan produktivitas kopi di Manggarai. Dari 6000 ton kopi Manggarai, setengahnya berasal dari kebun kopi dari kawasan Colol (2010). Sementara itu, laporan Kepala Perwakilan PT. Incocom Citra Persada Surabaya (2013), kopi Colol yang diekspor keluar negeri sebanyak 400 ton.

Perjalanan Colol menjadi rahimnya kopi Manggarai panjang. Dalam catatan sejarah, Colol terkenal sebagai kawasan penghasil kopi sejak zaman kolonial Belanda. Bahkan pemerintah Belanda pada waktu (1937) membuat kompetisi yang dimenangkan oleh Bernardus Ojong, petani asal Colol. Penghargaan yang diterimanya dalam bentuk bendera Belanda berukuran 160×200 cm. Hingga kini bendera itu masih terawat dan tersimpan  di rumah Rudolf Ronco, putra Bernadus Ojong. Di lembaran bendera tersebut bertuliskan “Pertandingan Keboen 1937 Mangggarai”. Angka 1937 ditulis di atas gambar pucuk kopi, dalam bentuk setengah lingkaran.

Tak dipungkiri bahwa berbicara kampung Colol sama halnya berbicara tentang kopi Colol. Setali tiga uang. Dan, kopi Colol adalah cikal bakal penyebaran kopi sedaratan Flores. Popularitasnya menjangkau benua Eropa dan Amerika Serikat. Dalam Festival Kopi di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, kopi Colol pernah meraih trofi sebagai kopi terbaik di Indonesia.

Untuk mempertahankan identitas Colol sebagai rahim kopi Manggarai yang kesohor, berbagai komunitas petani dibentuk. Salah satunya adalah Komunitas Kopi Pai’t Colol. Anggota komunitas sebanyak 40 Kepala Keluarga (KK). Mayoritas anggota komunitas ini adalah petani dari kampung Biting dan Colol.  Sedangkan tim pemasarannya terdiri-dari Maya Syukur, Yohanes M, Karlos Syukur,  Emilianus, Siprianus J dan Carolina Djerabu. Penanggungjawab kualitas produk (bersertifikat) dan ketua kelompok tani/komunitas adalah Karolus Juru.

Kopi Colol (Foto: Carolina Djerabu)

Gagasan untuk membentuk komunitas sudah lama termasuk ide untuk mendisain kemasan produk kopi sendiri. Impian itu kesampaian kini. Komunitas ini memiliki produk sendiri yang diberi label “Kopi Pa’it Colol”. Kopi ini diolah diolah secara tradisional dengan mesin untuk penggilingan biji kopi.

Sementara produk yang dihasilkan oleh komunitas ini masih merupakan home industry dan persediaan masih terbatas. Pencinta kopi Colol dapat memesannya terlebih dahulu jika permintaan  dalam volume besar.

Hanya dua bentuk produk yang dihasilkan yakni kopi bubuk dan kopi yang telah disangrai. Kopi bubuk kemasan dengan kapasitas 250 gram dan 500 gram. Berbagai jenis atau varian produk yang tersedia yakni kopi Juria (Arabica Colol), Yellow Catura (Kolumbia Kuning), Red Catura (Kolumbia Merah), Robusta (Kopi Tuang), Arabica Unggul dan campuran (blended) jenis-jenis kopi diatas sesuai permintaan pasar.

Kopi Juria (Arabica Colol) dibawa dan dikembangkan dari Sulawesi tahun 1945 oleh Bapak Rudoloph Kawur, sedangkan Kopi Yellow Catura (Kolumbia Kuning) dan Red Catura (Kolumbia Merah) dikembangkan oleh Bapak Nobertus Djerabu tahun 1996 bekerja sama dengan Bapak Matias di Makasar. Mereka adalah putra Colol yang pernah merantau lalu membangun kampungnya dengan membudidaya kampung halaman.

Kopi Colol telah menyihir penikmati kopi. Aroma khasnya dari pegunungan dan lembah di Manggarai ini menembus dunia. Saat yang indah adalah mengunjunginya. Menikmati keindahan alamnnya. Dan, tak terkira rasanya adalah merasa keramahtamahan masyarakat Colol. Kita akan dihadapkan dengan tradisi yang tak lazim di kampung masing-masing. Tradisi suguhan kopi pahit.

Kopi Colol (Foto: Carolina Djerabu)

Bila anda disuguhkan kopi pahit, anda jangan cepat menilai dan menuduh macam-macam. Itulah budaya. Kekayaan negeri kita yang patut dihargai.

“Minum kopi pahit pak dan om. Tradisi kami menyuguhkan kopi pahit kepada tamu, bukan karena tidak ada gula, tetapi, kami sudah terbiasa dengan minum kopi pahit atau minum kopi tanpa gula pasir,” ujar sejumlah perempuan yang menjamu Markus Makur dari Kompas Travel, Kompas.Com (27/02/2017).

Tentu untuk untuk menggapai Colol memerlukan waktu, energi dan biaya. Ada cara yang paling mudah, yakni memiliki produk Kopi Pa’it Colol. Segala cita rasa rahim Kopi ada di sana. Menyeruput Kopi Pa’it sama artinya mengajakmu pulang ke Colol, menikmati keindahan dan sensasi kopi Pai’t Colol yang membakar lidah.

Pa’it itu sendiri artinya “pahit”. Pahit yang meninggalkan sensasi istimewa. Pahit yang terus merayu pencinta kopi untuk menyeruput dan menyeruput lagi.

Bagi pencinta  kopi yang berminat Kopi Pa’it Colol , silahkan hubungi ibu Carolina Djerabu via Telp/SMS/Whatsapp (0813-4480-1800). ***