Pimpin Apel Hari Kesaktian Pancasila, Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat Tabuh Genderang Revolusi Hijau

oleh
2.030 views
Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat saat memberikan pidato pada Apel Peringatan Hari Kesatuan Pancasila, Senin, 1/10/2018 (Foto: Biro Humas Setda Provinsi NTT)

KUPANG.ONLINE – Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2018, diperingati oleh Aparatur Sipil Negara (ASN) Lingkup Pemerintah Provinsi NTT dengan upacara apel bendera di halaman Gedung Sasando, Senin (01/01/2018). Sebagai inspektur upacara adalah Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat.

Dalam arahannya, Gubenur NTT mengingatkan jajarannya tentang makna sesungguhnya upacara Hari Kesaktian Pancasila yang dilaksanakan setiap tahun.

Menurut Laiskodat, peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang dirayakan setiap untuk mengingatkan kita bahwa bangsa ini akan terus diganggu stabilitas dan keberadaannya. Sebagai anak bangsa yang merasa diri sebagai insan nasionalis dan pancasilais memiliki tanggung jawab menjaga, merawat dan rela berkorban bagi bangsa ini dari rong-rongan  pengkianat bangsa.

Ia menegaskan bahwa pengkianat tak pernah mendapat kehormatan. Karena itu dalam membangun hubungan kerja baik hubungan kerja secara struktual  berbangsa dan bernegara maupun hubungan sosial kemasyarakatan, kita patut menunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan. Bonnum commune kita harus jaga.

Menurutnya, ciri khas pengkianat itu satu saja. Manusia yang mementingkan dirinya. Interest pribadinya lebih tinggi tinggi dan hebat daripada kepentingan umum. Pengkianat tak mendapat tempat yg dimanapun. Di dalam hukum perang, pengkianat tidak pernah dilindungi, sedangkan musuh ditangkap dan dilindungi. Pengkianat selalu mendapat hukuman mati. Ia tak dapat nilai apapun dalam dirinya.

Ia mengingatkan bahwa kita semua terpanggil untuk melayani bangsa ini. Kita terpanggil untuk melayani sesama. Karena itu banyak pengalaman bangsa ini, bangsa-bangsa di dunia, mereka membangun sebuah nilai-nilai untuk menjaga rasa kehormatan dalam dirinya,   tidak sebagai pengkianat.

Jaman Romawi telah membangun kesetiaan warganya terhadap nilai ketuhanan, kenegaraan dan kekeluargaan. Ini juga diadaposi dalam semangat pancasila kita. Untuk membangun spirit manusia Indonesia yang pancasilais lewat Ketuhanan dan Kemanusiaan yang Adil Beradab. Hal itu menjadi input bagi setiap manusia Indonesia. Manusia Indonesia yang melaksanakan sesuatu tanpa sebuah keyakinan berarti dia bukan orang Indonesia, dan itu pasti itu bukan orang pancasilais.

“Bekerja asal-asalan, bekerja tidak punya keyakinan, bekrja tak melahirkan sesuatu yg bermartabat, pasti bukan orang Indonesia, apalagi manausia  pancasialis.” Tegasnya.

Lebih lanjut, Viktor Bungtilu Laiskodat tegaskan bahwa input dalam diri manusia Indonesia adalah harus beradab. Membangun peradaban terus menerus. Menjawab tantangan jaman. Maka manusia Indonesia yang beradab adalah manusia yang selalu mengalahkan jaman bukan jaman selalu mengalahkannya.

Tantangan-tantangan itu harus membuat manusia Indonesia terus maju apalagi di NTT. Tentunya kita punya outcome baik sebagai bangsa dan negara, sebagai manusia yang terpanggil untuk melayani profesi ini. Outcome kita adalah bagaimana rakyat merasakan keadilan sosial. Penduduk NTT termiskin ketiga. Hal ini memberikan pekerjaan rumah bagi kita dalam momentum peringatan hari Kesaktian Pancasila untuk membangun nilai-nilai untuk mencapai outcome tersebut.

Untuk itu ia menekankan pentingnya hati yang jujur. Jujur untuk bekerja dengan baik, memiliki komitmen dan konsistensi sebagai penyelenggara Negara, khususnya ASN NTT. Tak lupa pula, kita harus mampu terus menerus memotoviasi diri sendiri sebagai penentu perubahan dan sejarah kebangkitan provinsi NTT. Kiranya semangat itu terus menyala-nyala pada setiap tubuh/raga dan jiwa kita di provinsi ini. Perubahan adalah keniscayaan apabila semangat kerja kita lemah, displin yang lemah, dan etos kerja rendah. Sebarapa banyak pun kita bekerja, seberapa lama kita bekerja, selama tak ada semangat dalam diri, maka kita tak akan lihat perubahan yang hebat.

Maka pada kesempatan tersebut, ia mengajak ASN untuk menjadikan Harian Kesatian Pancasila sebagai momentum untuk mengintropeksi diri. Apakah ASN sudah mendisain dan merekayasa diri menjadi manusia Indonesia pancasilais? Manusia yang rela berkorban untuk bangsanya. Manusia yang memberikan seluruh waktu, tenaga, pikiran dan intelektualitas untuk bangsa ini.

Ia juga berpesan untuk ASN yang memasuki masa purna bakti.

“Teman-teman yang purna tugas, pensiun dari PNS bukan pensiun dari hidup,” disambut aplaus ASN.

Ia menghimau kepada mereka untuk terus melaksanakan tugas pengabdian membangun bangsa dan Negara setelah kembali ke masyarakat. Karena itu program Pemerintah Provinsi NTT seperti pariwista, gerakan revolusi hijau dengan menanam dan makan kelor adalah tugas yang terpisahkan dengan ASN yang telah purna tugas.

Menurutnya, kita semua bertanggungjawab untuk membangun bangsa ini. Di saat Eropa dengan revolusi putih, diikuti Jepang dengan revolsui putih dengan mewajibkan anak-anak minum susu, maka NTT kita bangun dengan revolusi hijau, yang mewajibkan anak-anak makan marungga atau  kelor.

Laiskodat mengajak semua yang hadir pada pada apel tersebut untuk membangun provinsi NTT dalam semangat kebersamaan dengan sumber daya manusia yang cerdas. Ia tak menampik bahwa provinsi ini memiliki anggaran yang terbatas. Keterbatasan anggaran tak boleh menyebabkan keterbatasan Sumber Daya Manusia-nya.

“Anggaran boleh terbatas, tapi inovasi tidak boleh terbatas. Saya menantang kita semua, para ASN, utk mampu memperlihatkan kepada provinsi-provinsi  lain bahwa walaupun ada keterbatasan anggaran untuk NTT, bahwa kami mampu buat lebih daripada keterbatasan anggaran.”

Ia mengingatkan bahwa manusia lahir bukan langsung pegang uang. Manusia lahir dilatih untuk berpengatahuan baik, berperilaku baik, dan mempunyai kemampuan-kemampuan  psikomotorik yang berfungsi dengan baik.

Karena itu ia merasa aneh bila kita memulai segala sesuatu dengan uang. Kalau manusia memulai sesuatu dari uang, maka uang tak ada orang tersebut akan mati. Ia memberikan testimoni atau pengalaman pribadinya.

“Dalam perjalanan hidup saya, tidak, kita tak ada uang, tapi kita bergerak dan akhirnya uang itu datang. Artinya uang itu bukan penentu, kita manusia penentu segala perubahan di dunia ini.”

Karena itu dengan keterbatasan anggaran tak membuat dirinya untuk berhenti membuat langkah-langkah besar. Kita harus ciptakan budaya inovatif bukan karena kelebihan uang, tapi kita berada dalam kondisi kritis karena itu kita mampu berhasil maju. Tak ada manusia hebat lahir dari kondisi mapan. Anak yang digendong terus menerus sampai 18 tahun akan mati, tapi anak-anak orang susah yang bergerak terus menerus akan menjadi pemenang.

Gubernur NTT mengajak semua untuk bangkit bersama, bergerak dalam keadaan terbatas, dan buktikan bukan manusia dengan kecerdasan terbatas. Semua harus merasa terpanggil dengan moralitas  tinggi dan mendorong seluruh intelektual kita untuk menjawab tantangan yang ada di NTT ini. *** (gbm)