Merefleksi Kekerasan Orang Tua Terhadap Guru SMAN 4 Kota Kupang

oleh
869 views
Guru Bahasa Inggris Makrida Bika (Foto: Tribunnews.com)

Oleh : Giorgio Babo Moggi

Suatu malam, di sebuah kota kecil Townsville, Australia, terjadi keributan di rumah tetangga yang hanya berbatasan dengan pagar setinggi orang dewasa. Secara kebetulan pada saat kejadian saya dan dua sahabat saya duduk di beranda rumah di lantai atas. Kami menyaksikan peristiwa itu dari beranda rumah yang cahaya lampunya redup.

Terjadi pertengkaran yang hebat. Seorang wanita sebaya ‘dikeroyok’ seorang wanita dan dua orang pria lainnya. Keroyok yang dimaksud bukan tindakan kekerasan. Masing-masing berbicara dengan nada suara yang tinggi dan penuh emosional. Tapi mereka tak saling memukul. Dua wanita itu saling mendorong tapi bukan dengan tangan. Melainkan dengan cara saling beraduh tubuh mereka sendiri. Siapa yang lebih lebih kuat pasti terdesak mundur. Sementara para pria hanya berkata-kata dengan nada tinggi.

Tiba-tiba terdengar suara bunyi pecahan kaca. Menarik perhatian kami. Tampak wanita itu membanting sesuatu ke tanah. Sementara putri kecilnya terus berlari-lari di halaman. Ia sama sekali tak tahu dengan situasi yang sedang terjadi dengan ibu dan orang-orang di sekitarnya. Anak kecil itu malah asyik bermain dibawah bayang-bayang rintik hujan.

Situasi tak berubah hingga polisi datang – kemungkinan ada tetangga lain yang menghubungi polisi. Tapi tidak ada tindakan kekerasan yang menimbulkan cedera pada kedua belah pihak. Saat polisi masuk kintal rumah, volume suara mereka mulai mengecil. Polisi langsung mengambil tindakan melerai dan mendamaikan situasi.

Seorang polisi kembali ke mobil. Ia mengambil sesuatu lalu balik ke arah mereka. Tampak mereka  satu per satu menjalani  tes alkohol. Seperti kebanyakan di Australia, sejauh pengamatan saya, bila terjadi keributan polisi akan meminta mereka  meniup alcohol detector (pendeteksi alkohol). Tampaknya polisi menemukan sebabnya. Mereka mabuk. Lalu polisi mengingatkan sesuatu dan pulang. Suasana berubah menjadi tenang.

Warga Australia memang paling tak mau berurusan dengan polisi. Polisi seperti momok yang paling menakutkan. Ini pendapat pribadi setelah melihat beberapa peristiwa yang terjadi di Townsville. Konsekuensi pelanggaran apapun bisa berujung fatal bagi kehidupannya sendiri. Mereka bisa didenda, bisa dipenjara. Karena itu mereka sangat berhati-hati meskipun mereka ‘terbius’ alkohol. Bagi mereka, tindakan yang menyebabkan darah orang menetes dari tubuhnya  adalah tindakan yang melawan HAM. Hukumannya pasti berat.

Lalu, bagaimana dengan tindakan kekerasan yang terjadi di SMAN 4 Kupang? Seorang guru, ibu Makrida Bika, dikeroyok orang tua wali siswi berinisial MT lantaran  diduga melakukan tindakan kekerasan terhadap MT. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, hukuman (punishment) merupakan salah satu cara mendidik. Siswa dijewer atau dicubit telinganya, dipukul betisnya dengan lidih dan sebagainya. Sehingga ada adagium lama mengatakan “di ujung rotan ada emas”.

Itu pendidikan model dulu. Sebuah era ketika isu HAM tak semasif berkembang sekarang. Kini, apapun tindakan guru selalu dihubungkan dengan HAM. Tak heran, dugaan penulis, bila guru  sekarang sedikit apatis untuk mendidik anak yang bandel di sekolah. Mereka takut akan tindakan sendiri yang dapat ditafsirkan atau dituduhkan sebagai bentuk pelanggaran HAM. Akibatnya, mereka fokus pada tugas utama lain yakni  mengajar atau mentransfer pengetahuan saja  daripada mendidik anak-anak. Soal perilaku anak, bukan urusannya. Tapi masih ada satu atau dua orang guru yang masih peduli dan mempertahankan model pendidikan dulu. Salah satu seperti yang dilakukan oleh ibu Makrida Bika ini.

Penulis sepakat dengan penegakan HAM. Tapi tak berarti pula pihak yang sadar HAM lalu bertindak kontra dengan apa yang dipahaminya. Di satu sisi mereka mengeroyok guru tersebut karena tindakannya melanggar HAM, mereka justeru melakukan pelanggaran HAM tanpa mereka sadari. Siapa yang benar? Kita tidak sedang mencari pembenaran melainkan mencari kebenaran. Tapi yang pasti hukum homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi sesamanya) tak berlaku di jaman ini. Maka bila pihak yang melanggar HAM tidak dibenarkan pula dengan “mengulangi” hal yang sama atau mempratekkan tindakan kekerasan kepada pelaku yang dituduh melakukan aksi kekerasan.

Terkait dengan kasus di SMAN 4 Kupang, penulis tak membenarkan tindakan kekerasan terjadi di lingkungan sekolah. Siapapun pelaku kekerasan itu. Entah itu guru, entah itu siswa maupun orang tua. Karena sekolah adalah pusat edukasi karakter dan pengetahuan. Pula penulis tak bermaksud membela guru tersebut, juga sebaliknya tak membela siswa dan orangtuanya.

Apapaun alasan orang tua MT menempuh langkah kekerasan, tindakan kekerasan orang tua siswa kepada ibu Makrina Bika tak dibenarkan caranya. Pertama, orang tua mengambil tindakan sepihak dengan melakukan penyerangan kepada guru tanpa meminta penjelasannya. Orang tua siswa percaya sepihak atau lebih percaya kepada laporan anaknya. Di sini tidak terjadi adanya check and balance yang harus dilakukan oleh orang tua MT. Orang tua MT seharusnya mengkonfirmasi lagi laporan anaknya dengan meminta penjelasan guru yang bersangkutan atau meminta pihak sekolah untuk memediasi penyelesaian masalah.

Kedua, tindakan orang tua siswi tersebut tidak mendidik apalagi terjadi di lingkungan pendidikan dan diantara orang-orang terdidik (para guru) dan para pelajar yang sedang dididik. Ini menjadi contoh yang buruk bagi pelajar lain. Bukan tak mungkin pelajar lain akan meniru dan gampang membenturkan orang tua dengan para guru. Orang tua yang brutal dan emosional akan kontan membalasnya. Syukur-syukur ada orang tua yang bijak yang tak percaya begitu saja pada laporan anaknya.

Ketiga, tindakan orang tua tersebut mencerminkan ketidakseriusan orang tua untuk mempercayai para guru untuk mendidik anak-anaknya. Jika orang tua tak percaya lagi pada guru, untuk apa lagi mereka mengirim anaknya ke sekolah? Bikin home schoolling saja atau undang guru mengajar di rumah saja supaya anak-anak selalu dalam pengawasan mereka – secara kasarnya demikian tapi tidak dibenarkan pula karena tujuan pendidikan agar anak-anak mengalami interaksi sosial.

Dari peristiwa ini, dapat dipetik pelajaran penting oleh orang tua – sekali lagi saya tidak bermaksud membela ibu Makrida Bika. Ini berangkat dari pengalaman penulis sebagai pengajar di sebuah perguruan tinggi swasta selama lima tahun. Pekerjaan dosen mungkin tak seberat para guru. Lebih mudah mengajar mahasiswa daripada mengajar pelajar. Dan, satu hal yang penting dicamkan oleh orang tua adalah peran guru adalah pendidik daripada sekedar seorang pengajar.

Sebagai seorang pendidik, guru berperan pula sebagai seorang pengajar. Artinya, guru tak hanya bertugas mentransfer pengetahuan (knowledge transfer) kepada anak-anak tetapi sekaligus menjalankan peran sebagai pendidik. Tanggungjawabnya besar. Yang sejatinya bagian dari pendidikan itu dilakukan oleh orang tua sendiri tetapi malah  hampir diambil sepenuhnya oleh para guru. Lagi pula amanat undang-undang demikian adanya. Menegur atau menjewer siswa pada organ tubuh tertentu seperti di telinga merupakan cara mendidik meskipun  tidak dibenarkan. Karena mendidik lebih kepada upaya pembentukan karakter. Sedangkan mengajar lebih kepada soal transfer pengetahuan. Bayangkan, betapa beratnya tugas seorang guru, ia harus menjalankan dua peran sekaligus sebagai pengajar dan pendidik.

Karena itulah mereka yang profesi mengajar di sekolah disebut guru atau nomenklatur dari sistem pendidikan disebut sebagai pendidik – bukan pengajar. Pengajar cakupan maknanya terbatas. Sedangkan pendidik cakupan maknanya lebih luas sebagaimana dijelaskan di atas.

Mendidik dan mengajar setali tiga uang. Dua hal yang tak terpisahkan. Dwiperan yang diemban para guru menyebabkan tanggungjawabnya bertambah besar. Peran inilah yang harus disadari dan dipahami oleh orang tua sehingga orang tua tidak membebani guru terkait pembentukan karakter dan perilaku anak-anak. Bukankah keluarga adalah lembaga pendidikan yang paling kecil?

Lingkungan keluarga adalah lingkungan yang paling berpengaruh terhadap perkembangan anak. Maka tak bisa dibenarkan dengan melimpahkan semua kesalahan kepada sekolah. Orang tua memiliki tanggung jawab serupa dengan guru sebagai pendidik – mereka mungkin tidak bisa menjadi pengajar.

Jadi, ketika anak berkarakter dan berperilaku buruk di sekolah tak serta merta menyalahkan pihak sekolah. Begitu pula ketika para guru mendidik agar anak-anak agar bersikap dan berperilaku baik dengan hukuman yang wajar, orang tua tak serta merta menyalahkan para guru. Karena saya percaya para guru adalah kumpulan orang terdidik dan mereka tahu batas-batas tindakan terhadap anak didiknya apalagi di era yang yang sangat transparan ini.  Maka dari itu perlu kerjasama antara orang tua dan guru untuk menumbuhkan kembangan karakter anak-anak tak hanya mamacu kemampuan akademik peserta didik.

Semoga ilustrasi di awal tulisan ini menjadi point pembelajaran penting bagi para orang tua peserta didik. Apapun alasan tindakan orang tua MT adalah tetap salah. Salah dalam menyikapi masalah (mendengar sepihak), pula menempuh cara yang salah (menyelesaikan kekerasan dengan kekerasan). Kiranya, bila terjadi masalah guru dan pelajar di sekolah jauhi dari tindakan kekerasan dan berupaya untuk meminta penegak hukum menengahi bila jalan mediasi dengan pihak sekolah gagal serta jauhi tindakan kekerasan Cara-cara ini jauh lebih terdidik, mulia dan beradab.***