Merajut Asa, Asa Kembali Mengabdi di Tanah Kelahiran Rai Malaka

oleh
211 views

Malaka, KUPANG.ONLINE – Lantunan tutur,  pantun bahasa tetun Malaka, Remigius Asa, Merajut Asa ingin kembali mengabdi di Tanah Kelahirannya Rai Malaka.

“Manu kakae mutin semo nakur rai ladik, semo nakur rai ladik sidak manoin rai tur fatik”, yang artinya, bahwa, kita boleh bepergian jauh  kemanapun, tetapi suatu saat nanti pasti akan  kembali ke tanah kelahiran. Dan dimana kita bisa membangun, tapi spesifikasi dan nilai politik dalam rangka penguatan kelembagaan itu harus perlu dijaga”, ungkapnya

Remigius Asa, SH mengisahkan saat ditemui Kupang Online usai mengikuti seleksi hari ketiga pelelangan jabatan, yang digelar  selama satu minggu, mulai dari tangal 15 -20 September 2019 di Aula Kantor Camat Malaka Tengah, Kabuapten Malaka.

Pelaksanaan Seleksi lelang jabatan yang dilaksanakan ini, guna mengisi lima lowongan jabatan yang masih kosong selama ini, di kabupaten Malaka diantaranya, Kepala Bapeda, Kepala Dinas  Ketahanan pangan perindustrian dan perdagangan, Kepala Dinas sosial dan Kepala Dinas Infokom.

Seleksi atau lelang jabatan diikuti oleh 16 ASN melibatkan enam tim asesor dari Provinsi NTT dan Tim Pansel yang terdiri dari kalangan akademisi, birokrat dan profesional.

Pria yang berdara Malaka, yang selama ini mengabdi sebagai Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Belu ini, mengaku dirinya dalam mengikuti seleksi lelang jabatan  ini memilih pada instasi BAPPEDA.

Ia menjelaskan bahwa yang diikuti seleksi lelang jabatan tersebut ada dua kompenen yang diuji yang pertama asesor untuk mengetahui krakter dan kompetensi manajerial. Bagaimana untuk mengetahui kepribadian memiliki karakter seperti yang sesuai di lembaga mana yang dilamar, dan yang kedua diuji adalah kompetensi bidang yang dilaksanakan oleh Tim Pansel.

Saat ditanya bahwa keinginan memilih ikut seleksi lelang jabatan ini,  ia pun mengatakan bahwa penglelangan pengisian jabatan ini  terbuka untuk seluruh Indonesia sehingga secara aturan regenerasi memungkinkan, walaupun dirinya sementara menjabat sebagai kepala Dinas Pariwisata di Kabupaten Belu.

Ini bukan persoalan Eselon tetapi soal nilai atau titik singgung  yang tentu dipikirkan oleh pimpinan dalam hal ini Bupati Malaka dr. Stefanus Bria Seran, MPH untuk memperkuat pada barisan birokrasi yang ada di Malaka.

Lanjutnya, tak  berarti yang ada di Malaka tidak kuat atau tidak mampu,  tentu Bupati menilai untuk membentuk sinergitas  dalam rangka pelaksanaan kegaiatan, karena pemerintah melakukan tugas itu ada dua yaitu yang pertama itu simbol yang terletak pada jiwa pemimpin.

Pria kehilaran Malaka itupun mencontohkan,  misalkan bupati saat berkunjung di suatu daerah , dan bupati sendiri yaitu simbol pemerintah. Kedua, soal fungsi, jika bupati melakukan kunjungan ke daerah-daerah membawa OPD itu bukan berarti hura-hura, tetapi karena aspek fungsi.

Ketika bupati sebagai kepala, maka ia mengerjakan semua tubuh yang dimanefestasi dalam bentuk kehadiran pimpinan OPD. Karena ada tiga fungsi yang perlu dilaksanakan, diantaranya, fungsi pemerintahan, pembinaan kemasyarakatan dan pembangunan untuk mendapatkan masukan dalam aspek perencanaan melalui  empat pemdekatan, pertama pendekatan politis, pendekatan politis itu diterjemahan didalam perencanaan pembangunan jangka menengah daerah 5 tahun, itu isinya daripada visi dan misi “dawa wada kada”.

Ia menambahkan walaupun dirinya sementara bertugas sebagai Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Belu, namun sebagai putra daerah Malaka, tentu memiliki rasa terpanggil untuk kembali ke kampung halaman untuk mengabdikan dirinya.

“Kita boleh terbang kemanapun tetapi suatu saat akan  kembali ke tanah kelahiran. Dimana kita bisa membangun, tapi spesifikasi dan nilai politik dalam rangka penguatan kelembagaan itu harus perlu dijaga”, pungkasnya.  (#Akghilles)