Menyambung Lidah Wisatawan, Pria Ini Menulis Curhatan Untuk Pengelola Pariwisata di Flores

oleh
1.355 views
Vincent Dermawan (Foto: Facebook.com/vincent.dermawan)

KUPANG.ONLINE – Pepatah klasik yang berbunyi “Tamu adalah raja” rupanya belum berlaku seratus persen dalam pengelolaan pariwisata di Flores, NTT. Dengan semakin berkembang dan tumbuhnya pariwisata di Labuan Bajo tak berjalan linear dengan perubahan perilaku baik masyarakat mapun pengelola pariwisata dan penyedia jasa pariwisata terhadap tamu yang datang.

Hal ini memicu Vincent Dermawan, pria asal Manggarai, untuk menulis curhatan di wall Facebook­-nya, Selasa (16/10/2018). Tulisan ini berawal dari cerita teman-temannya dari Jakarta yang baru saja pulang libur di tanah kelahirannya. Vincent yang mula begitu kagum dengan pujian teman-temannya tentang keindahan Flores harus menelan kekecewaan ketika para sahabat membeberkan soal pelayanan yang mereka terima sangat buruk. Berikut curhatan Vincent Dermawan seperti dikutip KUPANG.ONLINE dari halaman Facebook-nya.

Malam ini saya gembira tapi juga sedih dan malu. Gembira karena teman-teman saya dari Jakarta ramai-ramai mengunjungi Labuan Bajo hingga Maumere. Mereka tour keliling Flores. Bangga dong sebagai putra daerah. Senang karena Flores makin terkenal. Tentu saja dari segi ekonomi hal ini akan menambah devisa atau penghasilan daerah.

Mereka bercerita mulai dari Kelimutu hingga Labuan Bajo dengan beberapa destinasinya yang aduhai seperti pulau Padar, pulau Komodo, pulau Kanawa, Pink Beach dan lain-lain. Indahnya danau TIGA WARNA Kelimutu, dinginnya Bajawa, sejuknya kota Ruteng, uniknya spider rice field di Cancar, hamparan sawah di Lembor dengan pemandangan indah di kiri dan kanan sepanjang jalan hingga breathtaking dan eksotismenya pulau Padar dan kawan kawan membuat mereka terpesona. Mereka pun berniat untuk kembali ke sana suatu saat nanti. Hati ini membuncah, senang mendengarnya.

Namun perasaan saya langsung sedih, malu dan marah (sambil menahan rasa malu- di dalam hati) ketika teman-temanku ini mendapati fakta tentang fasilitas yang ditemui di tempat penginapan mulai dari air, AC yang macet di beberapa daerah di Flores, antara lain di Bajawa dan Labuan Bajo. Bahkan kebutuhan air untuk mandi di salah satu resort yang sangat terkenal di Labuan Bajo sangat minim. Sampai-sampai mereka mandi dari air yang mereka ambil dari kolam renang di cottage itu.

Oh my goodness. Kebayang ngga sih betapa sangat tidak nyamannya mereka. Konyolnya lagi karyawannya sama sekali tidak bertanggungjawab ketika dikomplain. Sampe-sampe mereka tidak mau lagi menginap di resort itu jika kembali ke Labuan Bajo. Mereka kapok. Nah lho…Padahal mereka bayar tour dengan ekpektasi yang tinggi. KEPUASAN. Maaf nama resort/cottage tidak akan saya publish di sini tapi akan saya laporkan keluhan ini secara langsung.

Belum lagi cerita mati lampu di bandara Labuan Bajo sehingga anggota tour yang berjumlah 20 an orang harus antri hingga 2 jam hanya mengurus bagasi peswat karena beberpa kali mati lampu di bandara Komodo. Karena lampu sering mati alhasil AC di beberapa ruang di bandara seperti ruang tunggu dimatikan. Akhirnya beberpa penumpang termasuk turis manca negara dengan inisiatif sendiri mengambil dan menggunakan kipas angin besar berwarna hitam yang kebetulan tidak dipakai di ruang tunggu. Mereka kepanasan.

Di beberapa sudut ruangan bandara tampak kotor. Duh malu banget. Lambannya karyawan yang wara-wiri ngga jelas kerjaannya dalam merespons panasnya ruang tunggu membuat mereka terheran-heran. Padahal Labuan Bajo saat ini adalah salah satu destinasi favorit turis dari seluruh dunia setelah Bali. Dada saya terasa sesak mendengarnya.

Halooo….Kepada siapa saja pelaku bisnis pariwisata di Flores umumnya dan Labuan Bajo khususnya dan pemerintah daerah mohon dengan sangat agar memperhatikan keluhan-keluhan ini. Ingat perekonomian Labuan Bajo itu meningkat karena ditopang pariwisata yang sedang booming-booming-nya. Kenyamanan fasilitas seperti akomodasi, transportasi dan lain-lain adalah segalanya dalam dunia pariwisata. Kalau mau tetap hidup ya mau tidak mau harus mengelola itu semua dengan cara yang sangat profesional. Bukan amatiran. Ingat! Pelanggan adalah Raja. Mereka harus diservis dengan sangat baik dan memuaskan. Itu adalah kuncinya. Karena mereka akan dengan sendirinya menceritakan semua pengalaman itu ke teman-teman, saudara, tetangga dan lain lain.

Pelanggan adalah marketing sesungguhnya dalam dunia bisnis. Tanpa kita pontang-panting promosi pun jika pelanggan puas mereka akan otomatis menjadi marketing kita. Pelanggan pun akan datang dengan sendirinya. Itu hukum ekonomi yg sangat simple. Ngga perlu kuliah sampai S3, Es teller dan seterusnya. Untung mereka cerita ke saya jadi saya bisa share. Semoga teman teman saya di sana dan juga pengelola bandara Komodo bisa dengan cepat merespons keluhan ini. Please

Saya tidak tahu apakah kejadian ini baru pertama kali terjadi atau tidak. Apakah turis akan pengertian dengan fakta seperti ini? Tentu saja TIDAK! Yang jelas seperti pepatah bilang “Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda”.

Harap dicatat baik baik. Bandara Komodo sedang diperjuangkan menjadi bandara internasional agar penerbangan dari negara lain tidak harus transit di Bali, Surabaya atau Jakarta.  Semoga didengarnya!

Trimakasih.

Tulisan mendapat respon positif dari netizen yang mengikuti statusnya. Maksi Mbangur mengomentari apa yang dikeluhkan Vincent bukan hal yang baru terjadi. Ia mengatakan orang Flores menjadi terbiasa mendengarnya. Karena itu ia menghimbau hal seperti tersebut disampaikan secara langsung kepada Bupati dan Anggota DPRD supaya mereka dibuka matanya.

“Ya begitulah Flores tercinta. Keindahannya karena hadiah Tuhan, kreasi manusia yang diperintah Tuhan tuk taklukan dunia masih minim.” Tulisnya.

Sementara Robert Eppedando mengomentari dengan menulis terkait pelayanan buruk tak cukup di dinding Facebook, perlu disebarkan ke media terkait atau akun FB Dispar Manggarai Barat agar pesannya tersampaikan.

“Cara ini membuktikan bahwa adana kepedulian tinggi terhadap pariwisata Flores dan turut merestorasi hospitality pelaku pariwisata di Flores.” Komentar Epedando.

Senada dengan Mbangur, Melania Jita Nura menambahkan bahwa hal ini memberikan resiko wisatawan datang sekali saja, sekedar tahu tapi enggan untuk kembali berkunjung.

Hingga tulisan ini diturunkan, tak satu pun baik pihak pengelola pariwisata maupun pemerintah yang nimbrung dalam diskusi atau mengklarifikasi persoalan pariwisata di Labuan Bajo. ***