Menjawab Pemikiran Progresif Gubernur NTT

oleh
867 views

KUPANG.ONLINE – Sabtu malam (27/07/2019), tak seperti biasanya, acara pelantikan para pejabat Eselon II Lingkup Pemerintah Nusa Tenggara Timur digelar. Situasi ini keluar dari “kemapanan” birokrasi yang selama ini,  seolah-olah seremoni kedinasan seperti pelantikan hanya bisa dilaksanakan pada di siang hari saja.

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat membawa sebuah paradigma baru. Menjadi pemimpin, seseorang dapat bekerja dalam situasi apapun, waktu jam berapapun dan hari apapun. Mungkin inilah pesan yang tersirat meskipun tak disampaikannya.

Menarik pula sambutan Gubernur NTT malam itu. Seperti biasa, Gubernur berbicara tanpa teks, mengalir, runtun dan renyah di telinga.

Semakin lama ia berbicara, semakin menggugah rasa penasaran dengan selingan letupan-letupan jenaka meskipun ia sendiri tak tertawa. Setiap ujarannya bermakna dan membangkitkan “kesadaran baru”.

Point penting disampaikannya bahwa  untuk membangun NTT, kita harus mengeluarkan segala potensi yang miliki secara maksimal. Untuk membangun NTT tak bisa menggunakan dengan cara-cara biasa. Harus dilakukan dengan cara yang tidak biasa (luar biasa). Meminjam istilahnya, pemimpin harus bekerja dengan paradigma “out of the box”. Karena apa? Kotak yang ada saat  ini tak mampu lagi menampung mimpi-mimpi besar kita.

NTT terlampu terjerembab dalam lumpur kemiskinan. Sejak jaman Gubernur Lalamentik hingga masanya, NTT tetap miskin.

“Masuk akal tidak?”, tanyanya retoris.

Ia mengajak para pejabat dan undangan yang hadir untuk memiliki visi yang besar. Visi NTT berlari  lompat terbang tak cukup dengan tindakan sederhana. Kita memerlukan cara-cara  di luar dari kebiasaan. Karena itu ia tak sungkan-sungkan untuk mengistirahatkan pemimpin yang berkinerja buruk.

Pikiran progresif Gubernur adalah cemeti. Melecut jiwa semua pendengar malam itu. Tentu saja membangun keterpanggilan dan kesadaran kita akan besarnya potensi NTT. Pikiran progresif harus diikuti dengan tindakan progesif pula, menurutnya, kita harus membangun sistim yang responsif dan efisien (aspek waktu). Pola-pola birokratis yang berlarut-larut dipangkas. Gunakan pola-pola baru yang modern (Information Technology Based) serta mampu berkolaborasi yang ia sebutkan sebagai “the dream team”.

Ia mengajak para pemimpin untuk tidak alergi dengan kritik apalagi tersinggung. Konsekuensi sebagai seorang pemimpin siap dicaci maki. Di hadapan para pejabat dan undangan, ia tekankan supaya memberi ruang kepada para demonstran. Tak hanya ruang, bahkan makan dan fasilitas sound system serta mendorong semua demonstran untuk berbicara. Lagi, menurutnya, demonstrasi adalah momentum pembentukan diri menjadi seorang pemimpin, yakni dimulai dengan berbicara di ruang publik.

Banyak hal yang disampaikan, tapi satu pesan yang sangat penting adalah mendorong para pejabat terlantik untuk  memiliki daya juang, berkarakter dan berintegritas. Ini modal untuk mewujudkan visi NTT yang menurutnya “terlalu sombong” itu. Ya, untuk visi NTT yang tinggi itu hanya bisa dilakukan dengan cara-cara “out of the box” tetapi ditunjangi oleh karakter kepemipinan disebutkan diatas.

Jokowi, Ahok, Risma dan banyak lagi  adalah contoh-contoh pemimpin yang bekerja “out of the box”.  Hal itu pula yang diharapkan Gubernur NTT agar para pemimpin terlantik bekerja dengan cara yang luar biasa pula guna membebaskan NTT dari kemiskinan dan menaggalkan segala label negatif yang disematkan kepadanya.

Memang tak mudah untuk menggapainya. Hanya ada satu syarat selain sejumlah syarat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Syarat itu adalah kemampuan (ketrampilan) belajar cepat  (fatest learning skill). Jokowi, Ahok dan lain-lain telah membuktikan kemampuan itu. Dalam tempo waktu yang singkat, mereka memberikan dampak perubahan serta menjadi peletak standar kepemimpinan di Indonesia saat ini.

Fatest learning skill ini pernah diungkapkan oleh Jusuf Kalla kepada Jokowi tahun 2013 silam. Saat itu saya hanya memantau  lewat ABC TV dari negeri Kanguru. Kalla yang semula meragukan kemampuan Jokowi, pada akhirnya mengakui dan memuji Jokowi sebagai sosok yang memiliki kemampuan belajar cepat (fatest learning skill).

Harapan dan mimpi Gubernur dan rakyat NTT hanya mampu dijawab oleh orang-orang yang memiliki fatest learning skill. Pemikiran progresif hanya bisa dengan langkah-langkah progresif  karena kita terlampau “lelap” dalam ritme birokratis yang normatif. Harapan itu diemban oleh para pejabat yang dilantik malam itu. ***

Apabila Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan share dengan menekan tombol social media di akhir tulisan ini. Tidak diperkenankan untuk menyebarkan luaskan tulisan ini tanpa menyertakan link sumbernya. Artikel ini ditulis/disadur oleh Giorgio Babo Moggi ]