Mengunjungi Bukit Kotbah di Yunani, Viktor Bungtilu Laiskodat Merasa Tertipu Tapi Ia Justeru Mendapatkan Hal Ini

oleh
1.756 views
Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat dan Wakil Gubernur Josef A. Nae Soi di antara Bupati dan Wakil Bupati terpilih dan para tokoh Nagekeo (Foto: Facebook.com/Primus.Dorimulu)
PropellerAds

Oleh : Giorgio Babo Moggi

[KUPANG.ONLINE] Pada Jumat (23/12/2018), Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL), dan Wakil Gubernur Joseph Nae Soi  hadir di tengah masyarakat Nagekeo diaspora di Kota Karang. Pada malam itu bertepatan dengan syukuran pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Nagekeo Terpilih, dr. Johanes Don Bosco Do dan Marianus Waja, SH, di Ballroom Hotel Cahaya Bapa. Penulis hadir pula dalam kesempatan itu, meskipun kedatangan saya ke tempat acara  sedikit terlambat.

Iklan

Keterlambatan itu menyebabkan saya kehilangan kesempatan untuk mendengarkan sambutan dari para tokoh Nagekeo dan tentu sambutan dari duo yubilaris. Tapi, sambutan pamungkas dari Gubernur NTT tak terlewatkan sedikit pun. Meski hari terus bergerak larut malam,  hadirin mendengar pidatonya dengan antiusias, khusuk dan tawa – karena guyonan VBL.

Pada kesempatan itu, VBL mengungkapkan dirinya memiliki hubungan emosional sangat dekat dengan Kabupaten Nagekeo. Hadirin penasaran dengan ucapannya dan ingin segera mendengar cerita lanjutan. Ia mengisahkan, 15 Februari 1965, para tokoh Nagekeo memperjuangkan untuk membentuk Daerah Otonom Baru (DOM), dan dua hari kemudian, tepatnya 17 Februari 1965, VBL lahir di muka bumi ini.

Perjuangan untuk memekarkan Kabupaten Nagekeo pada tahun 1965 tak membuahkan hasil. Berbagai aral melintang. Dan, memerlukan waktu puluhan tahun, keinginan dan harapan para pejuang Nagekeo dulu untuk mewujudkan DOM. Saat itu, VBL yang lahir setelah dua hari perjuangan pemekaran Kabupaten Nagekeo, sudah duduk di DPR RI. Dan, ia menjadi salah satu tokoh di legislatif yang turut menilai, mengkaji dan mengevaluasi usul pembentukan Kabupaten Nagekeo.

Menurutnya, dari aspek batas wilayah, Nagekeo tak layak menjadi DOM. Karena terdapat dua pulau yang belum memiliki nama dan batas-batasnya secara tegas. Tak hanya Nagekeo, VBL menyebut juga Kabupaten Sumba Tengah, yang masuk kategori tidak layak. Namun, dengan berbagai pertimbangan dan komitmen para pengusul waktu itu, akhirnya Nagekeo dan Sumba Tengah disetujui sebagai DOM.

Lalu, apa hubungan emosional antara VBL dan Nagekeo? Secara bercanda, ia mengatakan bahwa untuk memekarkan Nagekeo membutuhkan seorang VBL yang lahir dua hari setelah  perjuangan pemekaran Nagekeo tahun 1965.  Perjuagan puluhan tahun lalu itu baru terwujud saat ia duduk DPR RI.  Jawabannya mendapat aplaus dan tawa hadirin. Artinya, VBL sangat tahu dan memahami  perjalanan Nagekeo menjadi kabupaten yang defenitif.

Pada kesempatan itu, ia menyinggung pula tentang pariwisata. Menurutnya, pariwisata memiliki hubungan dengan semua aspek kehidupan. Ia mengakui NTT sangat kaya. Alamnya kaya. Budayanya kaya. SDM kaya. Hanya satu, orang NTT pandai berbicara dan sedikit bekerja. Tengok saja di media sosial, orang NTT sibuk berdebat dan mengganggap diri paling pintar tapi lupa ‘action’.

Kekayaan alam dan budaya ini tak berarti apa-apa. Tak cukup kita menjual keindahan. Orang yang akan sangat cepat bosan. Oleh karena itu, menurut VBL, kekuatan dari pariwisata itu pada NARASI.

Ia menceritakan pengalamannya saat kunjungan kerja ke Yunani. Usia kegiatan, dirinya dan rombongan ditawarkan untuk melihat bukit dimana Paulus pernah berkotbah. Mereka ditawarkan $2000 per orang. Karena penasaran dengan cerita atau narasi penyelenggara, ia rela mengeluarkan uang 2000 dollar. Sesampai di tempat tujuan, ia dan kawan-kawan, bertanya-tanya dalam hati.

Wujudnya seperti apa? Di sana, ia hanya menemukan sebuah bukit dan tiang terpancang di atasnya. Ia kontan bertanya, “Mana Bukit Kotbah itu?”

“Ya, ini. Di sini Paulus pernah berkotbah.” Jawab pemandu.

“Pertama kali saya ditipu.” Ujarnya disambut tawa dari segenap hadirin malam itu.

Saat itulah, pengakuannya, VBL mendapatkan perspektif baru tentang dunia pariwisata. Menurutnya, kekuatan pariwisata sesungguhnya adalah pada KEMAMPUAN MENARASIKAN obyek wisata – baik wisata alam maupun budanya. Karena sepanjang perjalanan ke Bukit Kotbah tersebut, VBL dan rombongan diceritakan riwayat Bukit Kotbah dan membuat rombongan terkagum-kagum. Setelah sampai pada tujuan, ternyata tempat biasa-biasa saja, hanya sebuah hamparan bukit dan tiang terpancang di atasnya. Jadi, yang mahal bukan obyek wisatanya melainkan narasinya.

Ia mencontohkan saat acara syukuran malam tersebut dimulai dengan tarian tradisional Nagekeo. Bagi orang Nagekeo paham tentang makna filosofi dari tarian tersebut. Bagi dirinya dan orang lain yang bukan berasal dari Nagekeo merasa itu biasa-biasa saja. Tapi, bila ada orang yang menarasikan tentang tarian tersebut secara baik, maka orang akan memiliki perpektif yang sama serta kagum terhadap  tarian tersebut.

Sharing VBL tentang pariwisata di Yunani mengingatkan saya pada kegiatan liburan semester di Australia. Kala itu saya ‘tapaleuk’ ke beberapa spot wisata di Negara Bagian Queensland seperti Wallaman Fall (air terjun Wallaman) dan Tablelands (dataran pegunungan). Sebenarnya alam Nothern Queensland tak berbeda jauh di Pulau Timor atau NTT umumnya. Kehebatan pemerintah Australia (Negara Bagian) setiap obyek wisata disediakan papan publikasi. Di papan tersebut  terdapat NARASI tentang obyek wisata secara detail. Tanpa guide pun kita mendapatkan informasi yang cukup tentang spot wisata tersebut.

Dalam perjalanan ‘tapaleuk’  tersebut, saya dan seorang sahabat mampir di spot wisata yang bernama Curtain Fig National Park. Sampai pada tujuan, hanya sebuah pohon ara raksasa (beringin) yang mana akar-akarnya bergelantungan sehingga membentuk tirai. Track terbuat dari papan melingkari pohon itu sehingga orang mudah mengitari pohon tersebut sekedar lihat-lihat atau foto dengan latar pohon tersebut. Bila kita melihat pohon tersebut, kita mudah jumpai di hutan belantara di Indonesia. Tapi, apa yang menarik spot tersebut? Kekuatan dari spot itu adalah NARASI-nya. Narasi itulah yang menyebabkan wisatawan domestik maupun mancanegara (Asia) rela datang ke tempat tersebut dengan menghabiskan ribuan dollar.

Penulis sepakat dengan VBL, LITERASI itu memiliki kaitan yang sangat erat dengan pariwisata. NARASI sebagai bagian dari aktivitas LITERASI menjadi kekuatan utama PROPAGANDA pariwisata. Nah, pertanyaan sejauh mana NARASI itu menjadi point penting dalam pengelolaan pariwisata di NTT? Saya kira masih jauh dari harapan. Kita belum memiliki buku-buku atau NARASI yang mendalam tentang pariwisata. Tempat-tempat wisata hanya memiliki papan nama, sedangkan papan informasi yang berisi penjelasan tentang obyek wisata sangat minim bahkan tidak ada. Karena itu, VBL pada kesempatan menyatakan dukungannya kepada dr. Johanes Don Bosco-Marianus Waja yang akan menggiatkan NARASI tentang nilai-nilai budaya dan alam Nagekeo.

Sekali lagi NARASI itu penting. Wisatawan yang datang tak hanya buat foto, bikin video dan mengekspresikan kegembiraanya, setidaknya kepulangan mereka dari tempat tersebut membawa pula pengetahuan baru tentang lokasi wisata tersebut.

***

Apabila Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan share dengan menekan tombol social media di akhir tulisan ini. Tidak diperkenankan untuk menyebarkan luaskan tulisan ini tanpa menyertakan link sumbernya. Artikel ini ditulis/disadur oleh Giorgio Babo Moggi ]

PropellerAds