Mengenal SEVERINUS POSO, S.Fil, M.Si dan Alasannya Maju Sebagai Caleg DPRD Provinsi NTT

oleh
1.848 views
Severinus Poso saat di Canada, dalam rangkaian tugasnya sebagai Tenaga Ahli Komsisi V DPR RI (Foto: Dok. Pribadi)

KUPANG.ONLINE – Senayan pernah menjadi ‘habitus’ baginya. Tak berlebihan, kalimat ini tepat untuk  menggambarkan sosok SEVERINUS POSO, S.Fil, MM. Sejak menjadi tenaga ahli Wakil Gubernur NTT, Drs. Josef A. Nae Soi, MM, kala masih menjadi Anggota DPR RI dari Partai Golkar Periode 2008-2014. Servas, demikian pria ini disapa, menjadi tangan kanan mantan anggota DPR RI Dapil I NTT tersebut.

Setelah Josef A. Nae Soi tak terpilih lagi pada periode berikutnya, Servas  masih bertahan di Senayan sebagai staf ahli Komisi V DPR RI. Ketika Josef Nae Soi memutuskan untuk mendampingi Viktor Bungtilu Laiskodat pada Pilgub NTT 2018, Servas memutuskan untuk pulang kampung. Ia berhenti sebagai tenaga ahli dan total bergerilya di lapangan untuk mengkampanyekan  pasangan Viktor-Josef pada perhelatan Pilgub NTT.

Senayan, bagi Servas, dunia yang telah diakrabinya.  Ruang kuliah nyata baginya menimbah ilmu politik praktis. Menimba pengalaman dari berbagai tugas legislasi yang berkaitan kemaslatan orang banyak. Berinteraksi dengan tokoh politik dan pejabat negara. Lebih kurang satu dekade, Servas beraktivitas di Senayan. Berbagai pengalaman, pergaulan dan kepercayaan diperoleh yang kemudian menjadi modalnya kini.

Meninggalkan Senayan merupakan keputusan yang berani dan penuh  resiko. Apalagi di saat itu ia berada pada posisi sebagai tenaga ahli komisi yang membidangi infrastruktur. Berbagai tugas perutusan dilakoninya baik di dalam maupun luar negeri. Namun, loyalitas melunakkan egonya untuk bertahan di Senayan. Josef Nae Soi, sang mentor politiknya, memanggilnya pulang dengan tugas yang amat berat yakni untuk memenangkan Viktor-Josef basis Flores-Lembata.

Keputusan berani Servas membuahkan hasil. Figur yang diidolakan meraihkan kemenangan signifikan dalam Pilgub 2018. Loyalitas tak akan mengingkari hasilnya. Kira-kira demikian bila melukiskan kisah perjalanannya. Viktor-Josef telah mencapai finish pada Pilgub NTT sebagai pemenang. Tugas Servas pun usai. Namun,  bersamaan  itu pula, momentum politik pun datang. Servas dihadapkan pada sebuah pilihan; pulang ke ibukota atau terlibat langsung dalam politik praktis dengan menjadi legislator?

Modal pengalaman “berpolitik” secara pasif (the man behind the scene) di Senayan dinilai cukup. Segudang pengalamannya dan jaringan yang dibangun di Senayan dan di daerah selama mendampingi Josef Nae Soi sebagai anggota DPR RI maupun pada kampanye Pilgub 2018 adalah bekal yang menjadi  muatan dasar baginya untuk memutuskan terjun di dunia politik atau tidak. Dukungan pun datang dari Wakil Gubernur Josef A. Nae Soi, pula ‘dipanas-panasin’ Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat pada setiap perjumpaan. Keputusan ada di tangannya. Sekarang, keputusan itu telah diambilnya.

Tapi, sebenarnya siapakah sosok Servas yang sesungguhnya? Wajahnya tak asing lagi. Sepanjang masa Pilgub NTT ia terus bergerilya bersama barisan pendukung Viktor-Josef di Flores – Lembata. Atau, selama menjadi tenaga ahli  Josef Nae Soi kala itu, wajahnya kerap muncul di wilayah konstituen mantan legislator asal Ngada tersebut. Penampilannya sederhana. Berpakaian seadanya. Tak seperti kebanyakan orang yang langsung merubah penampilan bila sudah merasa diri pergaulannya lintas elit dan dalam lingkaran kekuasaan. Servas tetap seperti adanya. Anak kampung yang tak melupakan identitas dengan kesehajaannya. Rambut “kriwil” menjadi kekhasan dirinya. Tapi, siapa sangka di balik kesederhanaan, Servas memiliki segudang pengalaman dan pengetahuan politik?

Severinus Poso saat masih kuliah (Foto: Dok. Ist)

Servas lahir pasangan petani sahaja, 14 Agustus 1976. Ia dipermandikan dengan nama lengkap SEVERINUS POSO. Ia memulai pendidikan dasar (SD) di SDK Olabolo, Ngada (1981-1989). Usai tamat SD, ia melanjutkan pendidikan menengah di SMPK St. Klaus Kuwu Ruteng (1989-1992), SMAK St. Klaus Kuwu Ruteng (1992-1995). Dari Kuwu Servas masuk Novisiat CICM (Pendidikan Spiritualitas Katolik) di Makasar (1995-1997). Servas yang mula-mula bercita-cita menjadi imam dalam tarekat CICM kemudian memutuskan menjadi awam dan menyelesaikan studi filsafatnya pada Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Rawasari, Jakarta Pusat (1997 – 2001). Di sela-sela kesibukan kerjanya, Servas berhasil merampungkan studi  ​Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional, Jakarta (2006).

Riwayat pekerjaan Servas tak panjang tapi menunjuk kualitas, loyalitas dan totalitas dirinya pada sebuah pengabdian. Tahun 1998​, ia membaktikan diri sebagai guru SLTP Melania, Rawasari, Jakarta Pusat, selama satu semester. Kesibukannya di dunia kampus menyita waktunya sehingga ia tak dapat berbagi waktu untuk nyambi (Red, kuliah sambil kerja) sebagai guru. Lulus dari STFK Diryakara, Servas melamar sebagai editor di Penerbit Galaxy dan sebagai freelance translator beberapa buku umum di tempat yang sama (2001). Setahun bekerja di Penerbit Galaxy, Servas pindah ke Lembaga Pengkajian Manajemen Pemerintahan Indonesia (LPMPI) sebagai peneliti (2002-2008).

Jakarta adalah rimba beton dengan segala tawaran atau pilihan yang penuh tantangan. Servas berpindah dari satu tempat kerja ke tempat kerja yang lain, Servas terus mencari hingga perjumpaannya dengan Drs. Josef A. Nae Soi, MM yang kala itu lolos ke Senayan. Josef Nae Soi sempat meragukan kemampuannya hanya melihat penampilan fisiknya yang apa adanya dengan gaya rambut rasta ala Bob Merley. Selama lima tahun (2008 – 2014), Servas pindah ke Senayan sebagai  ​tenaga ahli anggota DPR RI, Fraksi Golkar di Komisi V, Drs. Josef A. Nae Soi, MM. Selama itu Servas sering pulang pergi ke Flores baik mendampingi Josef Nae Soi maupun melaksanakan tugas Josef Nae Soi untuk mengunjungi konstituen. Atas kepercayaan Josef A. Nae Soi, Servas menemui masyarakat dan membawa “kabar baik” dari Senayan. Ia tak hanya membawa janji muluk-muluk tapi memberikan bukti. Meneruskan perjuangan Josef Nae Soi ke kampung-kampung.  Meskipun Nae Soi tak terpilih lagi pada Pileg periode berikutnya, Servas melanjutkan kariernya sebagai tanaga ahli Komisi V DPR RI (2015-2017) sebelum ia pulang kampung (NTT) dan bergabung dengan Tim Pemenangan Viktor-Josef.

Perjalanan Servas di dunia kerja tak terlepas dari penggemblengan di dunia pendidikan dan juga penempaan di dunia organisasi. Di awal-awal kedatangannya di Jakarta, ia terlibat dalam ​Florete Flores, Forum Mahasiswa Flores di Jakarta (1999-2003). Servas juga tak lupa dengan daerah asalnya, tanah Ngada. Rindu pada kampung halaman kerap menjadi alasan orang untuk terlibat aktif organisasi kedaerahan. Perasaan itu tertanam dalam diri Servas, maka selama dua tahun (2000 – 2004) ia terlibat aktif dalam  ​Perhimpunan Pemuda Mahasiswa Ngada-Jakarta (PPMNJ). Selain itu, Servas terlibat aktif pada Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Mangga Besar (1998-2008).Terakhir, Servas menjadi anggota Pemuda Katolik Indonesia (2008- sekarang).

Dibalik keputusannya untuk mencalonkan diri sebagai Anggota DPRD Provinsi NTT, bukan sebuah upah balas jasa Josef A. Nae Soi kepadanya. Di atas semua itu, pertama, loyalitas dan totalitas pengabdian Servas dasarnya yang memungkin semua itu terjadi. Akan tetapi apapun dorongan itu tak akan berguna jika tidak didukung oleh keputusan, tekad dan sikap pribadinya.

Ketika mendapatkan mandat, Servas telah merefleksikan secara mendalam sebelum keputusan itu diambil. Pengetahuan filsafat menjadi pijakan refleksinya tentang perpolitikan nasional. Keberadaannya di pusaran kekuasaan dan politik negara (Senayan) memantapkan wawasan, pengetahuan dan pengamatan tentang politik nasional sekaligus mematangkan jiwa politiknya.

Kedua, ia sadar dengan menjadi anggota DPRD, ia menjadi man for others secara lebih luas dan sistematis sebagai mitra pemerintah. Itulah yang menjadi cita-cita luhurnya. Hubungan baiknya dengan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat dan Wakil Gubernur Josef A. Nae Soi membuka peluang untuk membangun relasi mitra yang saling menopang demi NTT bangkit NTT sejahtera.

Ketiga, dalam pandangan Servas, anggota DPR/D merupakan penyambung lidah rakyat (penyalur aspirasi). Karena itu dengan spirit motto Du bist Nichts, dein volk ist alles¸Servas ini ingin  melayani dan menjembatani aspirasi antara pemerintah dan masyarakat.

Terakhir, Servas adalah salah satu bagian kecil yang turut menghantarkan kemenangan Viktor-Josef pada Pilgub 2018 yang lalu dan tugasnya belum usai. Kewajibannya untuk mengawal pasangan yang mengusung tagline “Bersama Kita Bangkit” ini,  mengawal visi dan misi serta program Viktor-Josef yang luar biasa untuk NTT yang sejahtera gar terwujud seperti pada masa kampanye. Maka menjadi calon anggota DPRD Provinsi NTT adalah keputusan dan jalan yang tepat untuk mereleasikan impiannya di atas.

Severinus Poso (Foto: Dok. Ist)

Empat point refleksi di atas merupakan dasar pijakan Servas untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Provinsi NTT dari Dapil V (Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka). Refleksi fundamental itu memang telah dibuat dan dilaluinya tapi masih meninggalkan satu cita-cita luhur, yakni belum terwujudnya dirinya menjadi angota DPRD Provinsi NTT agar perjuangannya lebih nyata menjadi jembatan aspirasi masyarakat. Pemilihan Anggota Legislatif 2019 adalah kesempatan, pintu masuk Servas untuk mewujudkan impiannya dan impian seluruh masyarakat NTT.

Bila merunut kembali perjalanan politik, Servas telah melampui ribuan mil perjalanan politik baik sejak sebagai tenaga ahli Josef Nae Soi hingga Pilgub NTT 2018. Servas telah menunjukkan dirinya. Seperti apa  kata teman kelasnya, Marsel Sudirman, “SP (Red,Servas Poso) orang yang gigih, pantang mundur dan rendah hati. Dia mampu turun ke akar rumput.”

Sonny Nomer, sahabat seperjuangan di Jakarta, berpendapat “Servas itu pendiam dan tertutup tapi tekun dan jujur. Sekolah dulu lurus-lurus saja.”

Sementara Albertus Andi, sahabat sealmamater, melihat sosok Servas sebagai makhluk pencari.

“Manusia yang selalu mencari dan kadang tersesat tetapi selalu menemukan jalan pulang. Bisa belajar dari kegagalaan. Kadang sok-sokan tampil beda tapi sesungguhnya sedang menunjukkan jati dirinya. Saya percaya  dia bisa sukses.”

Komentar beberapa sahabatnya di atas adalah fakta yang ada pada dirinya sejak dulu hingga kini. Tentang Servas dirangkaikan dalam satu kalimat, “sosok yang gigih, tekun, jujur, selalu mencari, dan  apa adanya bukan ada apanya serta mampu menyatu dengan masyarakat akar rumput”.

Masihkah kita ragu memilih pria yang mempersunting Yoana Uba Botoor, wanita Lamaholot yang telah mengaruniakan dua orang anak,  Maria Isabella de Flores Bupu Dhiu dan Fransiskus Di Maria Buku Mogi, pada tanggal 17 April 2019 nanti? ***