Mengenal Defenisi, Gejala, Karakteristik dan  Mitos Autisme, Catatan Dari Training Manajemen Autisme

oleh
112 views

[KUPANG.ONLINE]  Sebagaimana dilansir di media ini soal pertanyaan apa itu autisme dan apa gejalanya sebagai pertanyaan-pertanyaan yang tak mudah dijawab bagi orang awam. Hal ini menjadi bidikan Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya untuk memberikan training manajemen autisme bagi para guru, terapis dan tenaga kesehatan yang bekerja dengan anak dengan autisme (Baca: Fakultas Psikologi Unair Didukung Australia Awards Indonesia Selenggarakan Pelatihan Manajemen Autisme di Kupang). Diharapkan dari perlatihan tersebut, para peserta dalam melakukan sharing knowledge (berbagi ilmu) dengan komunitas lainnya.

Kembali pada pertanyaan apa itu autisme, KUPANG.ONLINE mengutipnya defenisi autisme dari handout Margaretha, dosen dan peneliti Unair, yang menjadi pemateri pada kegiatan Pelatihan Manajemen Autisme di Kupang, (19-20 November 2018). Autisme dipandang sebagai gangguan perkembangan pada otak yang menyebabkan hambatan dalam tumbuhkembang anak terutama dalam berkomunikasi dan berinteraksi sosial serta merespon lingkungan secara tepat.

Menurut data WHO (2013) mencatat sebanyak 122.000 orang anak yang menderita autisme pada rentang usia 5-19 tahun. Umumnya, gejala autisme dialami anak-anak laki-laki, dengan perbandingan atau rasio 4 berbanding 1, di antara 1 anak perempuan, terdapat 4 anak-anak laki yang   mengalami autisme.

Riset menemukan tidak ada penyebab tunggal autisme. Spektrum gangguan baik tingkat maupun bentuk berbeda-beda untuk setiap anak dengan autisme. Dengan kata lain, autisme disertai pula dengan gajala lain.

Tiga gejala yang dapati diidentifikasi dari  seorang anak apakah ia mengalami autisme atau tidak, pertama, hambatan komunikasi. Kedua, hambatan interaksi sosial, dan ketiga,minat terbatas dan perilaku repetitif.

Secara singkat, gejala tersebut di atas terbagi menjadi dua karakteristik autisme. Karakteristik yang pertama, kesulitan dengan komunikasi dan interaksi sosial di seluruh konteks dimana kesulitan dengan timbal balik sosial-emosional, masalah dengan perilaku komunikatif non-verbal, dan kesulitan dalam mengembangkan, memelihara dan memahami hubungan.

Sedangkan karakteristik kedua adalah minat terbatas dan perilaku terulang perilaku meliputi gerakan motorik, penggunaan objek atau wicara yang stereotip atau berulang; desakan pada kesamaan, tidak fleksibel kepatuhan terhadap rutinitas, ritual atau pola perilkau verval atau nonverbal; perhatian yang sangat terbatas atau minat yang hanya terpaku pada satu hal dalam intensitas yang abnormal; dan hyper atau hipo-reaktivitas terhadap masukan sensorik atau kepentingan yang tidak biasa dalam aspek sensorik dari lingkungan.

Meskipun autisme terus diteliti gejala, sebab dan penyembuhannya, autisme tak lepas dari mitos yang berkembang di tengah masyarakat. Beberapa mitos tentang autisme seperti vaksinasi dapat menyebabkan Autism Spectrum Disorder (ASD); anak dengan ASD memiliki kemampuan “savant” yang luar biasa; individu dengan ASD tidak dapat belajar; ASD dapat disembuhkan atau akan menghilang dengan sendirinya seiring pertumbuhan anak dengan autisme; obat-obatan dapat menyembuhkan ASD; dan diet dapat menghilangkan semua gejala ASD.

Percaya atau tidak dengan mitos di atas, satu hal yang penting adalah menanamkan pemahaman masyarakat tentang autisme sebagai gangguan spektrum karena sebab autisme pada seorang anak sangat beragam dan setiap pribadi dengan autisme merupakan pribadi yang unik. ***