Mencari Gereja Katolik di Negara Yang 99 Persen Penganut Budha

oleh
801 views
Gereja St. Joseph Cambodia (Foto: Facebook.com/paulus.talo)

Oleh: Paulus Talo

KUPANG.ONLINE –  Mencari Gereja Katolik di Negara Yang 99 Persen Penganut Budha | Mencari Gereja Katolik di negara yang penduduknya beragama lain tidaklah mudah. Minoritas. Saya pernah berada di Timur Tengah di mana umatnya 99,9 persen beragama Islam, tetapi di sana saya menemukan Gereja Katolik dengan mudah. Juga di India di negara bagian yang 99,9 persen beragama Hindu, saya menemukan Gereja Jesus Kristus di sana, lalu ikut beribadah. Sama juga di negeri di Tailand, China, Korea dan Jepang. Cerita terbaru lain lagi. Lebih seru dalam hal pencarian.

Saya berada di Negara Cambodia (baca: Kamboja, penulis) berpenduduk kurang lebih 16 juta. Penduduknya beragama Budha. Saya mencari gereja dg mempergunakan tuk-tuk, yaitu sepeda motor dilengkapi dengan tempat duduk di belakang, layaknya becak di tanah air.

Kejadian ini saya alami pada Hari Minggu 14 Oktober 2018 di Kota Phnom Penh. Kota yang berpenduduk kurang lebih 1,5 juta orang itu di mana-mana menonjolkan kehidupan umat Budha. Mereka sangat taat beribadah sesuai dengan kepercayaannya. Di mana-mana saya menemukan kuil-kuil dan bhiksu-bhiksu tua, muda dan anak-anak. Negara yang terkenal dengan “Killing Field” dimana 3,5 juta jiwa dibunuh oleh Partai Komunis di sana itu sedang giat membangun, tidak mau ketinggalan dengan Negara-negara Asean lainnya.

Saya tiba di Sun Way Hotel jam 10.30 pagi dari Shiem Riep, masih di Cambodia untuk menyaksikan kemegahan Candi Angkor Wat. Saya datangi Reception, minta tolong untuk dapat informasi mencarikan dimana ada Gereja Katolik kalau ada Misa sore Sabtu itu. Karena besok pagi-pagi saya harus sudah kembali ke tanah air. Demikian saya menjelaskan kepada petugas kantor depan hotel itu.

“ Tidak Mr, hari ini hari Minggu. Besok Hari Senen.”

Saya kaget, saya sudah lupa menghitung hari.” Lalu dia utak-atik di komputer mencari Gereja.”

Ada Mr. Namanya Gereja Santo Joseph. Cukup jauh dari sini. Silahkan pakai taxi atau tuk-tuk.”

Sayapun keluar dengan membawa alamat gereja itu. Saya memilih pakai tuk-tuk agar dapat masuk di jalan-jalan kecil. Saya memasang mata melihat-lihat kalau-kalau ada salib menjulang. Dengan memperhatikan urutan nomor jalan, saya akhirnya menemukan tulisan itu di pinggir jalan besar. Tulisan itu hanya menunjukkan arah: “ Gereja Katolik Santo Joseph”. Saya celingak-celinguk mencari Salib gereja. Tetapi tidak ada. Suasana sepi.

Saya melangkah maju, mencari-cari orang untuk ditanyakan. Di sana ada seorang ibu. Lalu saya dengan sopan menegurnya. Dia membalas dan bertanya dalam bahasa Cambodia. Mana saya mengerti? Akhirnya saya buat tanda salib. Dia tersenyum. Dia berbicara terus. Saya hanya dengan bahasa Tarzan, dia omong terus. Yang dapat saya tangkap adalah Philipina, lalu dengan kode jam 9-10 pagi, misa sudah selesai.

Tiba-tiba munculah orang asing, mungkin orang America Latin. Mereka berbicara dalam bahasa yang bagi saya sangat asing itu.

Orang asing itupun bicara dengan saya pakai bahasa Spanyol. “Segnor, Misa pertama di Kapela Philipina, jam 9-10am. Itu Misa dalam bahasa Inggris. Segnor terlambat. Sore jam 4.00pm masih ada misa lagi dalam bahasa Cambodia.”

“Muchas gracia Segnor”. Saya mengucapkan terima kasih dan melongok ke dalam Kapela Philipina.

Di sana kursi tersusun rapih kurang lebih untuk 500 orang. Lalu saya mengintip Kapela Kamboja yang pintunya tertutup. Di sana saya menemukan Altar dengan tikar terbentang manis rapih. Saya lalu kembali ke hotel. Tepat jam 3.30 pm saya berangkat menuju Gereja yang tepatnya adalah kapela itu. Saya terhenyak, ternyata umat semua bersila di lantai di atas tikar-tikar itu.

Umat dari jumlah sedikit bertambah banyak tepat jam 4.00 sore ketika misa dimulai. Di sana hadir 200 orang. Saya menghitung dengan teliti. Seorang pastor, mungkin orang lokal atau China memimpin misa. Pastor duduk di kursi. Misdinar (ajudan) duduk menyamping. Upacara berjalan sangat kusyuk dalam bahasa daerah Kamboja. Saya terhanyut dalam situasi itu. Mereka bukan tidak memiliki kursi, tetapi Gereja Kristus membawa serta budaya lokal ke dalam gereja. Umat Budha ketika berdoa memang duduk sambil bersila. Gereja dalam rangka menarik umat rupanya memakai budaya itu. Tidak menghilangkan adat istiadat yang lahir dan hidup di negara ini. Itu pikiran saya saja, yang saya yakini benar adanya. Luar biasa.

Selama misa umat semua hanya duduk, berlutut pada waktu Konsekrasio dan waktu Komuni, berdiri pada waktu maju menerima Hostia Kudus saja. Pastor juga. Sebahagian tidak komuni. Rupanya mereka belum mengalami “Sambut Baru”.

Pada waktu salam damai, umat sambil mengatupkan tangan lalu menundukan kepala ke kanan kiri, muka belakang. Itu tanda salam. Hal inilah yang terjadi di kuil-kuil Budha. Saya kagum. Dalam hati saya berbisik “ Maha besarlah Engkau Tuhan. Yesus Kristus Putera Allah sungguh berkuasa”.

Sahabat, setelah upacara Ekaristi Kudus selesai sampai berkat terakhir saya pulang ke hotel dengan perasaan sangat bahagia.

Saya masih ingat seluruh proses Misa di kapela tadi. Nyanyian merdu dalam bahasa setempat masih terngiang-ngiang di telinga saya. Indah, mempesona.

Saya ucapkan terima kasih kepada sahabat yang sudah meluangkan waktu membaca cerita kecil saya.

Salam hangat dan bahagia selalu.***