Membumikan Literasi [Di Nagekeo], Apa dan Bagaimana Seharusnya?

oleh
325 views

KUPANG.ONLINE – Asal kata literasi berasal dari bahasa Latin, yakni dari kata “literatus”, yang berarti “orang belajar” – proses membaca dan menulis. Itu arti dasarnya. Beberapa pakar mendefenisikan secara beragam tetapi semuanya bermuara pada hakekat yang sama, yakni kemampuan membaca dan menulis.

Literasi menurut Elizabeth Sulzby (1986)  sebagai kamampuan seseorang dalam berkomunikasi, meliputi aspek membaca, berbicara, mendengar dan menulis. Sedangkan Harvey J. Graff (2006), memandang literasi sebagai kemampuan dalam diri sesesorang untuk  membaca dan menulis.

Defenisi lain berasal The United Nation Educational, Scientific dan Cultural Organization (UNESCO) yang menjabarkan literasi sebagai seperangkat ketrampilan atau kemampuan membaca dan menulis, terlepas dari konteks ketrampilan itu diperoleh – darimana dan dari siapa.

Dari tiga defenisi di atas, menekankan hal yang sama yakni kemampuan atau ketrampilan yang ada dalam diri seseorang dalam hal membaca dan menulis. Merujuk pada defenisi di atas, dalam aspek yang sempit, maka pada dasarnya sejak sesorang  “berliterasi” sejak ia lahir – meskipun ujaran atau ucapan belum jelas. Tangisan bayi misalnya, sebenarnya ia sedang berusaha berbicara. Ia mengekspreasikan sesuatu dalam rangkaian “bahasa bayi” – yang kita pahami sebagai tangisan. Dengan kata lain, literasi itu sebenarnya ada sejak ada atau lahirnya manusia – meskipun sang bayi memiliki keterbatasan dalam mengartikulasikan sebuah kata.

Lantas dengan dasar kemampuan bawaan ini, manusia tak perlu berliterasi lagi? Pasti, jawabannya tidak. Kemampuan atau kemampuan literasi harus terus diasah sepanjang usia manusia.

Karena itu, geliat gerakan literasi akhir-akhir ini “membooming” di Indonesia apalagi berdasarkan sebuah riset minat baca masyarakat Indonesia berada di peringkat ke-60-an. Dasar itu, pemerintah menggagas berbagai kegiatan literasi yang melahirkan salam literasi dengan mengacungkan jempol dan telunjuk membentuk huruf L – “Literasi”. Sehingga dimana ada kegiatan yang bernuansa atau bertalian dengan literasi, salam ini digaungkan.

Dalam menggiatkan literasi, pemerintah tak bergerak sendiri. Masyarakat pun bergerak dan terlibat dengan daya upaya sendiri. Relawan literasi bermunculan. Mereka mendirikan komunitas taman baca. Mereka meluangkan waktu untuk membantu anak-anak  giat membaca di sela-sela waktu luang dari kesibukan atau pekerjaan rutin.

Artinya, semua pihak sadar bahwa kesadaran literasi kita masih rendah. Kemampuan literasi yang rendah ini pada akhirnya kita sering dihadapkan dengan realitas. Orang mudah melahap segala informasi yang bergentayangan. Akibatnya mereka mudah tersesat lalu terjebak dan tidak menemukan jalan pulang. Kita memiliki pendapat, kesimpulan dan sikap sendiri. Karena apa? Pisau nalar kita tak pernah diasah dengan baik, secara benar dan konsisten.

Kita mungkin membaca atau menerima informasi, tetapi kita tidak membedah dengan nalar kita. Kita membaca judul berita tetapi kita tidak pernah membaca isinya. Kita terlibat dari perbincangan tetapi kita tidak pernah mengutip dari sumber yang tepat.

Semangat literasi memang sedang gencar di NTT.  Pegiat literasi  dan para donatur pun menyumbangkan buku-buku melalui komunitas atau organisasi yang bergerak khusus bidang literasi. Gerakan Katakan Dengan Buku (GDKB) yang digagas oleh John Lobo, seorang guru asal Ngada di Kediri, memberikan andil besar bagi anak-anak NTT. Entah berapa truck buku yang sudah didistribusikan di Pulau Flores, Timor, Sumba dan  Alor.

Gerakan itu pula datang dari dalam. Anak muda Mollo, Dicky Senda, aktif membumikan literasi di tanah kelahirannya. Ia kemudian mendirikan lembaga yang bernama Lakoat Kujawas yang bergerak di bidang kewirausahaan sosial – dimana literasi ada di dalamnya. Dicky bergerak sendiri dan dibantu relawan dan masyarakat (anak-anak) setempat. Tanpa bantuan pemerintah atau pihak manapun, toh ia bisa menjalankan usahanya, dan kini ia menjadi narasumber di berbagai ajang kewirausahaan dan kepenulisan.

Sementara di Flores Timur, guru kampung berbakat, Maksimus Masan Kian, bergeliat pula dengan gerakan literasi. Ia terus berliterasi dengan tengah-tengah siswa dengan melibatkan atau berkolaborasi dengan pemerintah setempat. Pula sebagai guru, ia menularkan semangat menulis di kalangan guru melalui wadah AGUPENA Flores Timur. Perjuangannya tak sia-sia.  Ia sering diundang dalam berbagai kegiatan nasional.

Arnoldus Wea, putra Ngada, ia menggagas lembaga “Dhegha Nua” – Gerakan Pulang Kampung, yang salah satunya bergerak di bidang literasi. Aldus, pria ini disapa, terus memberikan dukungan bantuan seragam, buku dan lain-lain bagi anak-anak sekolah. Begitu pula di Ruteng, Maria Pankratia dan kawan-kawan aktif berliterasi. Kupang ada Felix Nesi dengan lapak bukunya, Romo Amanche dengan Dusun Flobamora-nya dan masih banyak lagi.

Masih banyak generasi muda NTT yang bergerak di bidang literasi. Nama-nama yang disebutkan di atas hanyalah contoh dan terpantau oleh penulis. Paling tidak mereka dapat mewakili generasi lain yang “berkarya” di bidang literasi sebagai testimoni tulisan ini.

Lalu, bagaimana literasi di Nagekeo? Pengakuan seorang sahabat, sekitar 20 taman baca ada di Nagekeo. Mereka membantu secara diam-diam. Membantu di bawah tanah. Apa yang diberi tangan kanan tidak boleh diketahui tangan kiri, begitu pula sebaliknya. Demikian tutur sahabat saya. Sedangkan yang tampak di permukaan tak segeliat di Flores Timur, Ngada, Ruteng dan apalagi Kupang.

Di tengah minat baca Nagekeo dan geliat literasi yang rendah, Pemerintah Nagekeo menghelat even berskala besar di jantung kota Mbay. Festival Literasi. Kegiatan bertajuk festival ini bukanlah yang pertama di Nagekeo. Melibatkan seluruh komponen masyarakat. Tua, muda dan anak-anak. Festival ini bukanlah yang pertama, sebelumnya sudah ada Festival Pantai Ena Gera, Festival Sea Food, dan Festival Domba.   Mungkin, pemerintah Nagekeo, sedang memproklamirkan diri sebagai kabupaten 1001 festival. Apa-apa festival. Entah apa nasib  output dan outcome dari festival-festival terdahulu sampai saat ini publik tak tahu nasibnya.

Dengan diselenggarakan kegiatan ini, penulis tentu mengapresiasi besar kepada pemerintah setempat. Niat baik untuk membumikan literasi. Gagasan besar ini pula memantik  perhatian dan penasaran saya. Seperti apa gerangan Festival Literasi ini?

Penasaran itu terjawab. Malam minggu yang lalu, Sabtu (28/09/2019), penulis susuri malam yang sepi karena masyarakat terkosentrasi di Lapangan Berdikari. Tepat di sisi barat lapangan, kendaraan penuh sesak. Pengunjung datang dan pergi. Sebagian besar pengunjung berdesak di lapangan dan sebagian lagi memenuhi area sekitar panggung. Menyaksikan aneka lomba yang digelar. Stand pameran berjejer mengitari lapangan. Suasana stand tampak lengang. Tak banyak pengunjung kecuali para petugas.

Saya melintas di depan setiap stand. Mengamati dari “jauh” kecuali stand Penerbit Nusa Indah yang sedikit menyedot perhatian saya. Saya mampir dan membeli sebuah buku. Situasi di stand ini hampir sama di stand yang lain. Sepi pengunjung. Tapi di stand ini sedikit lebih baik. Pada saat penulis kunjung, tampak beberapa anak, tak sampai 10 orang, sedang membaca. Sebagai pemandangan yang tepat. Tepat dengan tujuan dan maksud festival tersebut.

Secara umum, pemandangan maupun suasana festival tak ubahnya seperti malam pameran tujuh belas agustus. Pengunjung lebih banyak berdiri di tengah lapangan. Menyaksikan perlombaan juga tidak. Mengunjungi stand juga tidak. Apalagi membaca buku di stand Penerbit Nusa Indah. Mereka sibuk berdiri dan berdialog dengan sesamanya – meski dialog adalah salah satu aspek literasi.

Literasi yang menjadi domain utama kegiatan ini justeru kurang diminati, pengunjung lebih suka bereforia. Kongkoew-kongkow di tengah lapangan. Ini juga menggambarkan realitas bahwa minat literasi masih rendah. Sebenarnya, masyarakat kota Mbay terkesan haus  hiburan daripada membaca. Stand buku kurang diminati.

Menyaksikan langsung kegiatan Festival Literasi, baik secara langsung maupun tidak langsung – melalui media online dan media sosial, kegiatan tersebut dominan kegiatan budaya. Memang ada lomba pidato, pantun dan sebagainya. Itu mungkin satu aspek kecil dari kegiatan literasi. Tetapi literasi sendiri justeru tenggelam dengan kegiatan lain yang katanya bertujuan untuk memperkenal Nagekeo ke dunia luas ini.

Melihat keseluruhan kegiatan ini, saya lebih setuju festival literasi lebih kepada kegiatan budaya. Maka melalui tulisan ini, saya hendak menyampaikan beberapa point penting.

Pertama, Festival Literasi kehilangan makna yang sesungguhnya (baca: defenisi literasi di atas). Seharusnya festival ini diberi nama yang lebih umum dan merangkum semua kegiatan. Jika bukan nama yang umum, mungkin festival ini harus memberikan “brand” unik bagi Nagekeo di mata dunia. Entah itu nama Festival Ebulobo atau lainnya. Nama harus mencirikan daerah sendiri. Sehingga orang menyebut nama itu mengingatkan daerah itu. Sebagai contoh, Ngada dengan Festival Inerie-nya dan Lembata memiliki Festival Tiga Gunung serta Sabu dengan Festival Kelebba Madja-nya.

Sementara Festival Literasi terlalu umum dan tidak mencirikan Nagekeo. Di sinilah kegagalan penyelenggara untuk mengemas nama kegiatan sebagai sesuatu yang unik sekaligus “brand” yang dapat dijual.

Kedua, Festival Literasi seharusnya kegiatan literasi mendapat porsi lebih besar. Kenyataan  kegiatan yang lebih menonjolkan eforia demi  pemecahan rekor atau apapun tujuannya. Seharusnya kegiatan seperti lomba membaca dongeng, kelas menulis, bedah buku, membaca puisi, dan sebagainya (kegiatan membaca dan menulis) menjadi warna utama utama kegiatan itu.

Ketiga,  literasi itu kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak. Sayangnya, kegiatan lomba yang diikuti anak-anak melampui tengah malam. Tanpa kita sadari, kita sendiri mengeksploitasi anak-anak demi tujuan popularitas Nagekeo semata. Kita tak memperhatikan waktu belajarnya, waktu tidurnya, waktu mainnya dan seterusnya. Di satu sisi kita bangga dengan pentas mereka, sisi lain kita mengajarkan sesuatu yang salah.

Keempat,  Festival Literasi untuk siapa? Pertanyaan ini mungkin sederhana, tetapi menjadi titik awal refleksi kita. Pertanyaan ini pula yang muncul pasca saya kunjungi  arena Festival Literasi. Bila kita hendak memajukan literasi di Nagekeo, seharusnya kita melibatkan generasi muda dan anak-anak dalam kegiatan literasi. Apa yang sudah dilakukan sudah benar, tetapi dengan banyak kegiatan (di luar literasi seperti parade), energi anak-anak terkuras dan pemahaman apa itu literasi menjadi dangkal. Kenyataan di lapangan berdikari, kehadiran stand Penerbit Nusa Indah tak menarik perhatian mereka, begitupula dengan berbagai aneka lomba.

Terakhir, jangan menambah jumlah kegiatan yang bertajuk “festival”. Kalau diadakan, pemerintah Nagekeo harus menggunakan alat ukur yang jelas dan kersenambungan. Tak semata-mata alasan untuk memperkenalkan Nagekeo kepada dunia. Harapan penulis, setelah kegiatan ini, Pemerintah Nagekeo harus mengevaluasi berbagai festival yang pernah ada. Seberapa jauh dampak atau efek festival-festival tersebut terhadap peningkatan ekonomi masyarakat.

Poin-poin di atas untuk mengkritisi Fesitival Literasi. Toh, bagaimana kegiatan ini sudah berjalan dan diklaim banyak pihak sukses. Kesuksesan itu mungkin diukur oleh jalannya kegiatan tersebut. Sedangkan esensi kegiatan tersebut mengalami distorsi.

Kita mesti belajar dari festival Ena Gera dan Sea Food. Bagaimana nasibnya setelah kegiatan tersebut digelar? Untuk itu penulis menaruh harapan yang besar setelah kegiatan ini digelar. Pertama, semakin tumbuhnya semangat literasi di kalangan anak-anak. Perpustakaan SVD di Danga misalnya semakin digandrungi anak-anak dan remaja. Komunitas taman baca tumbuh subur. Lahir relawan-relawan literasi. Jika hal ini tidak terjadi, maka Festival Literasi gagal karena tidak mencapai tujuannya.

Kedua, NTT memiliki banyak komunitas membaca dan pegiat literasi. Mereka ini seharusnya dilibatkan dalam kegiatan ini. Mereka diberi ruang untuk memberikan testimoni atau sharing untuk membudayakan membaca di masyarakat. Mengapa mereka harus terlibat? Karena mereka kreatif, inovatif dan mandiri mengelola taman bacaan. Yang pasti mereka telah melakukan, bukan baru pada tataran konsep atau wacana.

Ketiga, pemerintah Nagekeo harus mulai memikirkan, merancang dan mengimplementasikan program dan kegiatan literasi yang lebih membumi daripada sekedar eforia atau ikut ramai. Pemerintah wajib mendorong sekolah-sekolah untuk memiliki perpustakaan sebagai sarana dan prasarana standar. Pemerintah pula memberi dukungan berupa fasilitas pendukung dan buku-buku.

Keempat, pada tataran kebijakan, Pemerintah Nagekeo seharusnya memiliki strategi khusus untuk membudayakan minat baca di anak-anak.  Selain mendukung komunitas taman baca dan perpustakaan sekolah, pemerintah Nagekeo menerbitkan aturan atau edaran semacam gerakan membaca 15 menit sebelum jam pelajaran dimulai. Pemerintah tak bisa berharap banyak pada kreativitas guru dan kepala sekolah. Pemerintah harus intervensi dengan regulasi yang dapat dipatuhi pihak sekolah.

Kelima, terkenal atau tidak Nagekeo di permukaan bumi ini tidak diawali oleh kegiatan festival yang besar-besaran (pesta budaya), meletakan dasar kebijakan dan strategi literasi itulah yang paling utama. Di sini, saya belum melihat konsep bernas Bupati Nagekeo dalam menggiat literasi. Bila Bupati Nagekeo berhasil meletakan dasar, program dan kegiatan dengan benar, maka dengan sendirinya Nagekeo akan dikenal sebagai Kabupaten Literasi misalnya. Keberhasilan-keberhasilan itu akan diekspose. Bukan oleh media televisi. Ekspose itu dilakukan sendiri masyarakat Nagekeo melalui akun media sosialnya masing-masing. Bukankah cara yang strategis?

Terkahir, apreasiasi itu tak berarti tanpa kritik. Kritik itu perlu juga. Penulis memandang kritikan itu adalah saudara kandung apresiasi. Untuk itu, kita jangan cepat alergi dengan kritik. Karena kritik itu sediri bagian dari literasi. Orang membaca (dari media), mengamati (menyaksikan langsung/tak langsung), dan mengomentari/mengkritik (berpendapat) tentang kegiatan literasi.

Penyelenggara tak usah merasa diri paling benar. Membela diri perlu. Tapi pada batas yang wajar. Tak berarti sesuatu yang salah, kita harus bela mati-matian. Menjawab kritikan itu wajib. Tapi tak harus.  Diam itu penting sebagai salah satu aspek kecil  literasi. Diam adalah cara merefleksikan. Proses berpikir dan membaca dalam bathin kemudian menalar kritikan masyarakat. Menalar itu proses. Perlu kejujuran, keterbukaan (open minded) dan jiwa besar (humble) dari semua pihak – pengkritik maupun penerima.

Mengakhiri tulisan ini, penulis menyimpulkan bahwa, pertama, Festival Literasi adalah sebuah buku. Rangkaian kegiatan adalah bab-bab buku tersebut. Kandungan kegiatan adalah isi dari setiap bab dari buku tersebut. Pembaca pasti membaca dengan sudut pandangannya – yang mungkin tak terpikirkan penulis buku tersebut (penyelenggara). Karena kita tak perlu takut dan ragu bila pembaca membaca dengan sudut pandang yang berbeda. Berbeda tak berarti petaka dan kita harus bertengkar. Karena perbedaan jua kita dapat saling melengkapi.

Kedua, pola pikir kita tentang Festival Literasi harus kembali ke fitrah yang sebenarnya, sesuai dengan defenisi literasi yang sesungguhnya agar kita tidak terjebak dengan eforia. Seperti kata seorang teman yang berpapasan di arena festival.

“Kae, ini kegiatan literasi yang pertama.”

Artinya, akan ada kegiatan yang kedua dan seterusnya. Sebelum ada kegiatan berikutnya, maka catatan ini pantas diperhatikan baik oleh pemerintah Nagekeo, pelaku literasi dan semua pihak yang berkepentingan serta masyarakat Nagekeo sendiri.

Literasi itu berkenaan dengan kemampuan membaca dan menulis. Maka kita harus mendorong minat baca anak-anak, remaja dan generasi muda di Nagekeo. Membaca itu sangat penting. Karena membaca adalah akar dari kemampuan menulis, mendengar dan berbicara (Reading is the root of writing, listening and speaking skills). Dengan membaca kita diajak penulis tentang bagaimana menulis, dengan membaca kita diajak penulis untuk “mendengar” dialog atau pemikiran penulis, dan dengan membaca, kita diajak penulis untuk “terlibat” berbicara dalam dialog atau menyuarakan tulisan itu. Membaca menuntut daya nalar kita berpikir, berdebat, dan mengkritisi dengan apa yang ditulis. Salam Literasi. ***

Apabila Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan share dengan menekan tombol social media di akhir tulisan ini. Tidak diperkenankan untuk menyebarkan luaskan tulisan ini tanpa menyertakan link sumbernya. Artikel ini ditulis/disadur oleh Giorgio Babo Moggi ]