Maria Bunda Sang Penebus Yang Inklusif, Permenungan dari Gua Maria Bintang Kejora Bikono

oleh
1.036 views
Gua Maria Bintang Kejora Bikono, Baumata, Kabupaten Kupang (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh: Giorgio Babo Moggi

[KUPANG.ONLINE] Menjelang akhir Bulan Maria, umat KUB St. Teresa Kalkuta Liliba berziarah ke Gua Maria Bintang Kejora Bikono, Baumata, Kupang, Minggu (28/10/2018). Sebagai umat KUB tersebut, saya mengambil bagian dalam ziarah iman tersebut.

Sejak menjadi KUB mandiri, sebelum mekar dari KUB St. John Paul II, KUB St. Teresa Kalkuta telah berziarah sebanyak tiga kali. Dua kali berziarah ke Taman Doa Yesus Maria Yosef Oebelo, sekali ke Gua Maria Bikono.

Gua ini baru genap berusia setahun. Awal pembangunan pada 12 Mei 2017 dan diresmikan oleh Superior Jenderal SVD, Pater Paul Budi Kleden SVD, pada tanggal 21 Agustus 2018. Gua Maria menjadi salah satu titik ziarah di Kota Kupang dan sekitarnya.

Gua ini dibangun di dinding karang di atas lahan milik Ordo Serikat Sabda Allah (SVD). Tampak alamiah. Patung Bunda Mariah berdiri anggun dan megah di bawah gua stalaktik. Hampir serupa dengan Gua Maria Tritis di Gunung Kidul, Yogyakarta. Meskipun baru, gua ini ramai dikunjungi peziarah. Alasan yang mungkin karena akses mudah dan tak jauh dari Kota Karang.

Umat KUB St. Teresa tak sendirian berziarah di Gua tersebut, bersama satu KUB dari Kayuputih dan satu lagi dari Walikota serta satu KUB dari Paroki St. Yoseph Pekerja Penfui. Kami melebur dalam satu semangat anak-anak Maria. Sebelum kedatangan kami, sudah ada umat dari beberapa KUB yang merayakan misa bersama Pater Domi Kaju SVD pada pukul 08.00 pagi. Setiap minggu, perayaan misa dilayani pukul 08.00, 10.00, 12.00, 15.00, 17.00 dan 19.00 Wita. Pastor dan bruder yang melayani umat tak pernah lelah. Sehari penuh mereka dedikasikan untuk umat.

Ketika berada di Gua Maria Bikono, memori saya kembali memutar tentang pertanyaan-pertanyaan seputar Bunda Maria. Pula mengingatkan saya tentang berbagai perdebatan yang bertebaran di dunia maya. Apakah kita perlu memperdebatkan tentang Bunda Maria? Sosok yang diyakini umat Katolik sebagai Bunda Kristus. Bunda Perantara. Bunda tak Bercela. Perdebatan itu justeru dilakukan oleh orang-orang yang berbeda agama dan keyakinan dengan orang yang mengakuinya sebagai sosok yang mengambil bagian dalam MISTERI KESELAMATAN umat manusia.

Memperdebatkan tentang keyakinan atau keimanan tak akan ada habisnya. Tentang Bunda Maria khususnya. Tak ada pemenang, pula pencundang. Karena pada prosesnya, siapa yang lebih kuat bersuara akan dianggap sebagai pemenang. Pula siapa yang berbicara dan membedahnya dengan nalar akan dianggap yang paling benar.

Sampai kapan pun, perbedaan itu tak akan dapat mencapai titik temu. Karena itu diperlukan jalan tengah. Jalan tengah itu adalah DIALOG. DIALOG adalah jembatan. Jembatan yang menghubungkan PERBEDAAN tapi bukan untuk menyamakan PERBEDAAN itu. DIALOG merupakan RUANG untuk menumbuh kembangkan PEMAHAMAN tentang pelbagai PERBEDAAN. Dari sesuatu yang kita belum tahu menjadi tahu dan pada akhirnya kita SALING MENGHARGAI satu sama lain.

Teman-teman kos saya di Yogya dulu, mayoritas berbeda agama dan keyakinan. Dalam suasana santai, mereka sering bertanya begini. Maria disebut perawan, tapi mengandung dan melahirkan? Kok kalian berdoa dan menyembah patung? Yesus Tuhan kok kutuk pohon ara? Banyak macam pertanyaan. Saya rasa itu bukan sedang pada tataran untuk menguji saya. Mungkin saja mereka mau menguji saya, tapi saya memahami sebagai ketidaktahuannya tentang apa yang saya imani.

Apapun pertanyaan mereka, saya menjawab dengan apa yang saya imani dengan berbagai analogi untuk menghantar mereka pahami sesuatu yang mereka tidak yakini. Berat memang! Jawaban saya bukan sebuah PEMBENARAN tapi KEBENARAN. KEBENARAN yang saya imani. Begitupula ketika saya bertanya kepada mereka tentang inti KEIMANAN mereka. Saya kira mereka juga melakukan yang sama. Mereka menjawab bukan atas dasar PEMBENARAN melainkan atas fundasi KEBENARAN. Tapi tak semua penjelasan dan analogi dapat diterima dengan pemahaman. Pada titik itu, saya selalu mengatakan, nah jika anda mau memahaminya, terlebih dahulu mengimaninya. Mengimani baru memahami.

Setiap jawaban pasti akan melahirkan pertanyaan. Pertanyaan, jawaban. Jawaban, pertanyaan dan seterusnya. Itulah hakikat tentang SESUATU yang kita IMANI. Itulah hakikat tentang TUHAN. Kita tak dapat memecahkan misterinya sampai tuntas. Kita tak mampu menjawab semua pertanyaan kita berlandaskan nalar. Pada titik tertentu kita memerlukan IMAN. Saya percaya maka ada. Jika kita percaya TUHAN itu MAHA BESAR maka kita tak ragu lagi bahwa DIA mampu melakukan segala sesuatu yang TAK DAPAT DISELAMI AKAL manusia.

Jangankan teman saya, saya pun pernah bertanya dalam bathin dengan apa yang saya imani. Jangankah saya, para filsuf atau pujangga Gereja Katolik pernah bertanya. St. Agustinus pernah mempertanyakan tentang TRINITAS – ALLAH BAPA, ALLAH PUTRA dan ALLAH ROH KUDUS. Hingga akhirnya ia menemukan jawaban dari seorang anak kecil yang memasukkan air laut kedalam lubang pasir yang dibuatnya. Anak itu menghilang. Kesadaran IMAN pun muncul dalam diri Agustinus. Artinya apa? Batok kepala kita seukuran tempurung kelapa ini tak mampu memecahkan MISTERI ALLAH yang maha luas ini.

Tentang MARIA itu adalah tentang MISTERI ALLAH. Maria mengandung tanpa noda. Maria melahirkan Putra ALLAH. Maria Perawan Tak Bercela. Menurut manusia sesuatu yang tidak masuk akal, tapi tak ada sesuatu yang MUSTAHIL bagi TUHAN.

Bunda Maria sendiri pun mengakui MISTERI ALLAH itu. Dalam kerendahan hatinya, kepasrahan dan ketulusan budinya, Maria berujar, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-MU.”

Misteri TUHAN itu HANYA dapat dipahami dengan landasan IMAN. Sepertinya halnya ketika Maria dikabarkan Malaikat Gabriel bahwa ia akan mengandung seorang anak laki-laki, ia menerimanya dengan penuh IMAN. Bila ia menerima dengan logika atau nalar kemanusiaanya, ia pasti bertanya bagaimana mungkin dirinya mengandung sementara ia seorang gadis yang belum bersuami.

Meskipun Maria sebagai Bunda Gereja Katolik, ia tak mengekslusifkan diri. Maria adalah pribadi untuk semua orang. Bunda Segala Bangsa. Dalam dirinya merekat berbagai KEPRIBADIAN yang tak dimiliki oleh manusia pada umumnya. Gambaran KEPRIBADIAN Bunda Maria tergambar dalam berbagai penampakan atau rupa PATUNG. Setiap penampakan atau wujud patung memiliki makna filosofis-teologis. Bukan semata-mata soal arsistik sang pematung.

Patung Bunda Maria di Gua Maria Bintang Kejora merupakan perwujudan Maria sebagai ibu bagi semua orang. Siapapun dia. Status, pekerjaan ataupun strata sosial dia. Yang beriman atau pun tidak. Kedua tangannya yang terbuka, bayangkan kita seperti hal seorang ibu yang menyambut kedatangan anak-anaknya di depan pintu rumah. Makna filosofis-teologis patung ini dijelaskan secara singkat oleh Bruder Matheus Anin SVD kepada umat Bunda Teresa dari Kalkuta, Minggu (28/10/2018).

Tentang Maria, tentang misteri ILAHI. Pribadi yang inklusif – terbuka dengan semua orang atau segala bangsa. Mujizat selalu mendekati kepada mereka yang berdevosi kepadanya. Seperti tangannya yang selalu terbuka bagi setiap orang yang meminta dalam doanya. Mujizat itu nyata dan dirasakan oleh setiap pribadi yang menaruh harapan padanya. Percaya atau tidak percaya, sejarah telah membuktikan, ialah satu-satunya perantara dengan Yesus. Per Mariam ad Jesum – melalui Maria menuju Yesus. ***