Lodok Cancar Memikat, Kota Ruteng Memesona

oleh
275 views

[KUPANG.ONLINE]  – Langit Kota Kupang, Kamis (22/11/2014) tampak bermuram durja. Antara hujan atau tidak, sempat membuat tanda tanya penulis yang akan melakukan perjalanan ke Ruteng, Manggarai. Sempat pula membuat hati penulis risau. Perasaaan takut dan pasrah menggumpal pada detik-detik Trans Nusa, pesawat yang kami tumpangi pagi itu, meninggalkan Kota Karang.

Di atas perairan Teluk Kupang, pesawat harus menembus dinding awam yang tak bercela. Sang pilot tak ragu sekian menit melewati ruang langit yang hitam. Penulis memilih untuk mengatupkan mata karena percuma melihat keluar. Toh, yang tampak yang ada hanyalah gumpalan demi gumpalan mega yang tak mampu ditembusi cahaya.

Penulis sempat berbincang-bincang di penumpang di sebelah kiri. Pertanyaan dan jawaban lumrah seperti kebanyakan penumpang yang bertemu dengan sesama penumpang lain didalam pesawat. Dari mana dan mau kemana? Asal darimana dan seterusnya.

Kota Ruteng tampak dari udara (Foto: Dok. Ist)

Terdengar suara pramugari diiring kereta yang digereknya. Pramugari menginstruksikan membuka meja, sementara temannya menyodorkan segelas air mineral dan sepotong roti. Meskipun tak berselera melihat roti tersebut, penulis pun melahapnya karena tidak sempat sarapan pagi. Katanya, pesan orang tua, perut harus terisi. Entah itu dalam jumlah yang banyak atau sedikit. Entah itu roti atau nasi. Intinya perut tak boleh kosong.

Ketika pesawat melintas sejajar dengan garis pantai selatan Pulau Flores, perjalanan kami dihalau gumpalan mega. Trans Nusa tak peduli. Dengan tenang, ia melaju diantara himpitan benih-benih hujan itu. Hati penulis kembali risau apalagi setelah pria yang duduk disebelah penulis bercerita.

“Pesawat sudah seringkali kembali ke Kupang karena tidak bisa mendarat di Ruteng,” kisahnya dengan dialek khas Manggarai.

“Wah, jangan sampai terjadi hari ini,” tanggap penulis singkat.

Dalam benak penulis begitu kuat, Trans Nusa harus mendarat pagi itu. Jika tidak sia-sia pula perjalanan hari itu karena penulis harus mengisi materi esok harinya, menggantikan instruktur utama. Di ujung percakapan, pesawat keluar dari kepungan awan. Langit Flores tampak cerah ceria. Perkampungan penduduk pun terpantau oleh mata telanjang. Hati ceria setelah digoroti kegelisahan.

Pesawat terus menyusuri lintasan ke arah barat. Pesona bumi Congka Sae terpancar. Lembah dan pegunungan menjadi ciri yang mudah dikenal bila Anda pernah ulang-aling di langit Flores.

Belum lagi, pesona tatanan sawah yang khas. Masyarakat setempat menyebut lodok – sistem lodok sudah sangat populer di dunia pariwisata. Bagaikan magnet yang menghipnotis para penjelajah alam.

Pesawat berputar di atas Wae Garit. Membalik ‘badan’nya. Satu-satu arah landing dari arah barat. Sang pilot seolah dengan sengaja menyuguhkan pemandangan kepada penumpang akan keindahan Lodok Cancar yang kesohor itu. Padi yang menghijau kekuning-kekuningan serta garis batas sawah tegas membentuk tatanan lodok. Baris pegunungan Mandasawu bagaikan banteng alam yang menghalau serangan musuh dari selatan.

Kota Ruteng terletak di bawah kakinya, melandai yang dipagar sawah-sawah yang tertata indah. Di saat itu, sang mentari menyungging senyum dari timur, Ruteng memesona dan menyambut kedatangan kami di Bandara Frans Sales Lega.

Salah satu sudut kota Ruteng (Foto: Dok. Ist)

“Kalau disini, pesawat mendarat aman. Tak ada angin,” tutur pria asal Cancar sesaat ban pesawat  menyentuh landasaran.

Ruteng menyambut kami dengan hangat. Sehangat sinar mentari pagi. Rumbai kabut di baris pegungungan di sebelah selatan kota Ruteng mempercantik alam pagi itu. Seolah melambaikan tangan dan menyapa kami. “Selamat datang, Enu dan Nana, di negeri Motang Rua”. ***

Apabila Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan share dengan menekan tombol social media di akhir tulisan ini. Tidak diperkenankan untuk menyebarkan luaskan tulisan ini tanpa menyertakan link sumbernya. Artikel ini ditulis/disadur oleh Giorgio Babo Moggi ]