Kompiang yang Menggoda Lidah, Mengenal Sisi Lain Manggarai

oleh
476 views
Suasana di Toko Kompiang 3 Jaya Ruteng (Foto: Dok. Pri)

[KUPANG.ONLINE]  – Kompiang adalah ole-ole khas Manggarai selain kopi, ikan cara dan rebok (tepung beras atau jagung, red). Sebagai ole-ole khas, makanan ini selalu diburu orang yang akan berpergian ataupun pulang tugas dari Manggarai.

Terasa belum lengkap kalau seseorang pulang dari Manggarai tidak membawa pulang salah satu ole-ole khas tersebut. Tak harus membawa semua, salah satunya saja sudah cukup.

Salah satu ole-ole khas Manggarai adalah kompiang. Bila ditelusuri, kompiang berasal dari kata kompia yang merupakan sejenis roti atau kue yang terkenal di beberapa dimana ada populasi  keturunan Tionghoa (lebih tepat Foochow).

Berdasarkan asal usulnya, kompiang berasal dari Fuzhou, ibukota Provinsi Fujian, Republik Rakyat Tiongkok. Bila kompiang sampai di Manggarai, tentu dibawah masyarakat Tionghoa. Entah bagaimana kisahnya, kompia bermetamorfosis menjadi kompiang, sesuatu yang semesti ditelusuri.

Meskipun kompia atau kompiang ini identik dengan  panganan khas masyarakat keturunan Cina, panganan ini terlanjur dicintai dan digemari masyarakat etnis lainnya terutama orang Manggarai.

Pengklaiman kompiang sebagai panganan khas Manggarai tak hanya dilakukan oleh lawa (orang, red) sendiri, di luar pun beranggapan  kompiang adalah roti khas Manggarai.

Fakta, berbicara Manggarai, berbicara kopi. Tapi terasa belum lengkap, kalau kompiang belum masuk dalam perbincangan itu. Karena kopi dan kompiang sajian yang sepadan. Alangkah nikmatnya, menyeruput kopi dan melahap kompiang.

Bila menengok masa lalu, kompiang hanya diproduksi oleh Toko Tarzan. Toko ini menjadi populer dengan kompiangnya. Orang-orang yang ke kota Ruteng berburu kompiang ,ya, di Toko Tarzan ini.

Pembeli memadati Toko Kompiang 3 Jaya Ruteng (Foto: Dok. Pri)

Berjalannya waktu, kompiang menjadi terkenal dan diburu pencinta kuliner, bermunculan toko-toko atau usaha yang memproduksi kompiang dengan segala cita rasa dan ukuran. Ada kompiang isi daging, ada pula kompiang tanpa isi daging. Ada kompiang yang berukuran besar, sekali makan langsung kenyang. Ada kompiang yang berukuran kecil, orang bisa makan 3-4 buah dalam sekali sajian.

Popularitas kompiang merambat keluar Manggarai. Tak heran, kita mudah jumpai toko-toko diluar Manggarai seperti Kupang dan Denpasar menjajakan kompiang. Nama boleh sama. Begitu pula ukurannya. Soal rasa pasti tetap beda. Bukan soal resep yang sama digunakan, kadang tangan-tangan yang mengolahnya menimbulkan rasa yang berbeda.

Mungkin itu menjadi alasan para pelancong rela memikul beban berat dari Ruteng. Rela menenteng kompiang dan mungkin membayar ekstra bagasi demi kompiang. Karena memang rasa kompiang Manggarai tetap beda dengan kompiang yang diproduksi di kota lain.

Maka tak heran bila ada orang yang bergurau jangan pernah bilang pernah ke Manggarai, kalau pulang tidak membawa kompiang atau tidak pernah makan kompiang. Ya, kompiang terlanjur menjadi kekhasan Manggarai. Terasa ada yang tertinggal, bila seseorang tak membawa pulangnya untuk keluarga dan sahabat.

Tarzan melenggenda dalam sejarah kuliner yang satu ini. Tak dipungkiri, kehadiran toko atau unit usaha sejenis, berdampak redupnya atau turunnya omzet penjualannya. Tetapi bagi yang tahu riwayat kompiang ia akan selalu pulang ke Tarzan sebelum berburu kompiang di toko yang lain.

Kompiang Tarzan rasanya khas dan orginal. Tak berarti bahwa cita rasa kompiang toko lain tak sepadan. Itu hebatnya kompiang ketika menjelma menjadi kuliner populer, berani hadir dengan berbagai cita rasa dan ukuran serta selalu diburu pelancong domestik seperti yang disaksikan penulis, Sabtu (24/11/2018), di sebuah toko yang menjajakan berbagai jenis kue dan kompiang adalah primadonanya karena paling diminati pembeli yang akan berpergian dari kota Ruteng.

Toko Kompiang 3 Jaya  Ruteng (Foto: Dok. Pri)

Penulis dan kawan-kawan menjambangi Toko Kompiang 3 Jaya dalam perjalanan ke Bandara Frans Sales Lega. Sesampainya di sana, ternyata kami tak sendirian. Toko tersebut telah disesaki dengan para pembeli. Mereka membeli dalam jumlah yang banyak. Rupanya, mereka sama seperti kami, yang sebentar lagi akan berangkat dengan Trans Nusa kembali ke Kupang atau mungkin menitipkannya kepada kerabat yang berpergian dengan pesawat.

Memang kompiang terlanjur menjelma menjadi panganan ‘seksi’ – menggoda siapapun untuk membelinya. Rasanya renyah, hangat dan mengenyangkan apalagi ditemani secangkir kopi panas beraroma Manggarai. Mamamia. Lazzato.

Menikmati kompiang dan kopi melengkapi kehadiran Anda di bumi Lawelujang. Sensasional. Dingin-dingin empuk. Kala seteguk demi seteguk kopi panas masuk tenggorokan dan disusul kompiang dengan cita rasa yang membahana.

“Enak betul e.”

Tutur sahabat saya dengan dialek Manggarai yang kental setiap kali ia menerima kiriman dari Manggarai.

Kopi dan kompiang memang pasangan yang serasi. Entah kapan mereka akan ‘bercerai’, yang pasti kopi dan kompiang yang masih yang terbaik. Saat itulah Anda mengenal sisi lain Manggarai. Hadirnya warga keturunan Tionghoa di bumi Manggarai dan menyatunya mereka dengan masyarakat setempat. Ya, dari sepotong kompiang yang Anda makan itu.***

Apabila Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan share dengan menekan tombol social media di akhir tulisan ini. Tidak diperkenankan untuk menyebarkan luaskan tulisan ini tanpa menyertakan link sumbernya. Artikel ini ditulis/disadur oleh Giorgio Babo Moggi ]