Kisah Pria Tak Tamat Kuliah Bangun Aplikasi Startup “Timor Go” Secara Otodidak

oleh
7.637 views
Micky Demitrian Amasanan, penggagas dan pendiri Startup Timor Go (Foto: Dok. Ist)
PropellerAds

[KUPANG.ONLINE]  Layaknya kebanyakan anak-anak dari kampung. Mereka datang ke kota dengan sugudang cita-cita. Hasratnya begitu kuat dengan satu impian untuk memiliki nasib atau hidup yang lebih baik kelak.

Hasrat itu dimiliki pula oleh Micky Demitrian Amasanan. Ia meninggalkan kampung Kiupukan, Timor Tengah Utara, NTT, yang membesarkannya. Kota Kupang menjadi pelabuhan asanya. Di sana, ia memilih Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang sebagai tempat persinggahan mengasah ilmu.

Iklan

Banyak pilihan jurusan atau program studi di Unwira tetapi Micky, demikian pria ini disapa, jatuh hati dengan Jurusan Teknik Informatika. Pada waktu itu, usia program studi ini masih ‘balita’ (Red, bawah lima tahun), tapi tak mengurungkan niatnya. Hobinya pada dunia teknologi menjadi alasan utama Micky untuk memilih Program Studi Teknik Informatika.

Micky bukanlah mahasiswa yang terbilang gemilang di kelas jika dibandingkan dengan beberapa teman seangkatannya. Ia hanyalah anak-anak yang berkemampuan standar tapi memiliki hasrat yang luar biasa. Sayangnya, di saat semester akhir kuliah, perjalanannya terhenti lantaran ketiadaan biaya kuliah.

“Setiap kali saya pulang kampung, mama selalu menangis. Kondisi keuangan keluarga waktu itu sungguh-sungguh payah”,  ujarnya.

“Saya waktu itu dibiayai sama kakak. Jatah uang yang seharusnya kakak beri kepada mama tiap bulannya dialihkan buat saya. Mama tak mempersoalkannya, tapi setiap saya pulang mama selalu menangis,” tambahnya.

Setiap kali ia pulang kampung, ibunya selalu berpesan untuk menggunakan kesempatan dengan baik.

“Sekolah baik-baik. Karena kita susah”, Micky meniru pesan ibunya.

Micky tidak tega melihat ibunya menagis, apalagi saat itu sang ayah lebih dahulu kembali ke pangkuan Sang Ilahi.

“Saya lalu ambil keputusan untuk berhenti kuliah dan bekerja. Walaupun saat ini saya merasa itu adalah keputusan yg tidak cerdas. Karena ternyata mama bukan menangis karena saya kuliah makanya kami susah, tapi mama merasa tidak bisa melakukan apa-apa disaat saya butuh uang.”

Kegagalan yang diraihnya tak membuat ia berputus asa. Ia  malah bersyukur karena situasi masa lalu itulah yang menghantarnya menjadi anak yang mandiri.

“Saya juga bersyukur, dengan saya berhenti kuliah. Saya harus bekerja keras. Dan, akhirnya saya dihantar ke situasi saat ini. Kemandirian.”

Keluar dari Unwira, Micky terjun ke bisnis fotografi kurang lebih 5 tahun. Rentang waktu yang terbilang lama. Dunia baru yang sempat membuat dirinya nyaman. Entah sudah berapa ribu lembar foto yang dihasilkan dari jepretannya. Entah berapa film yang dihasilkan dari sentuhan tangannya. Namun, sejalan dengan waktu, bisnis serupa bermunculan. Harga job pun semakin menurun, dan ia melihat ini sebagai suatu ancaman.

“Saya rubah mindset saya. Saya coba keluar dari rasa nyaman saya  saat itu. Saya pikir semua org bisa motret, tapi tidak semua orang bisa jadi programmer dengan instant.”

Berbekal sepenggal ilmu pemprograman saat di bangku kuliah di  Teknik Informatika Unwira Kupang, Micky terus mendalami secara mandiri dan tanpa putus asa. Ia selalu terngiang kata RD. Kristo Ukat, seorang imam yang  rendah hati yang membimbingnya hingga saat ini.

“Apapun itu jika dilakukan dengan sabar dan tekun pasti akan menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi diri dan sesama”.

Fitur aplikasi Timor Go

Ia tak hanya menyimak pesan itu. Ia pula melaksanakan kata-kata itu.

“Hasil dari ketekunan itu, saya sering menerima penawaran pembuatan website baik dari universitas sekolah maupun web personal.”

Dengan capaian yang dimiliknya tak membuat dirinya berpuas diri. Ia terus bergulat dengan sejumlah pertanyaan yang terus menggelitik benak dan menggugah nuraninya.

“Pada suatu ketika, saya berpikir; bagaimana caranya saya membuat  sebuah aplikasi yang bisa memberi  saya uang  setiap saat, meningkatkan pendapatan finansial saya  sekalipun saya sedang tidur.“ Micky berangan-angan.”

“Tentu setiap orang yang mendengar ini akan berpikir ini adalah mimpi orang malas, hehehe,“ canda Micky.

Dalam perspektif Micky, tak ada yang tak bisa dilakukan. Ia meyakini teknologi menjadi  sarana untuk mewujudkan mimpinya.

“Saya lalu memutuskan untuk membuat aplikasi Layanan Jasa Transportasi Online berbasis android yang kemudian saya beri nama Timor Go.”

Menurut Micky, kehadiran Timor Go dapat memberikan kontribusi yang cukup besar baik itu segi keamanan, wisata, ketertiban dan keindahan lalu lintas kota, mengurangi angka pengangguran, turut meningkatkan pendapatan pelaku UKM dan masih banyak lagi.

Aplikasi yang dikembangkannya ini  memiliki tagline “Everything you need, Just Click”. Micky ingin menyediakan berbagai layanan dalam satu genggaman aplikasi dan hanya dilakukan dengan cara klik saja.  Karena itu aplikasi ini menyediakan selain fitur transportasi ojek dan mobil, pula aneka layanan jasa seperti laundry, jasa belanja, tukang pijat, fast-food delivery, pulsa GSM/PLN, dan lain-lain.

“Sudah saatnya semuanya menjadi serba mudah”, katanya.

Timor-GO akan mulai beroperasi pada akhir Januari 2019, dengan memilih Kota Kefamenanu, Timor Tengah Utara sebagai Kota Pertama di NTT yang menggunakan sistem Transportasi Online, selain Kupang Ibukota Propinsi. Setelah Kefamenanu, aplikasi akan dioperasikan di Kota Soe, Atambua dan Betun Malaka. ***

Apabila Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan share dengan menekan tombol social media di akhir tulisan ini. Tidak diperkenankan untuk menyebarkan luaskan tulisan ini tanpa menyertakan link sumbernya. Artikel ini ditulis/disadur oleh Giorgio Babo Moggi ]

PropellerAds