Josef Nae Soi : Kiblat Kerjasama NTT Kedepan Menuju Arah Selatan dan Bukan Lagi ke Barat

oleh
601 views
Josef Nae Soi menerima kunjungan Peter Simojongki dari Kedubes Australia (Foto: nttsatu.com)

KUPANG.ONLINE – Secara geografis Provinsi Nusa Tenggara Timur berbatasan langsung dengan Australia. Faktor kedekatan ini menjadi peluang bagi NTT untuk membangun kerjasama dengan Australia.

Viktor Bungtilu Laiskodat-Yosef Nae Soi, pada masa kampanye Pilgub NTT beberapa bulan yang lalu, salah satu agendanya adalah kerjasama dengan negara tetangga seperti Australia. Langkah kongkritnya adalah akan dibuka kantor perwakilan di salah satu kota strategis dan terdekat dengan NTT. Kini pasangan yang memiliki tagline “Kita Bangkit Kita Sejahtera” ini harus memenuhi janji kampanyenya.

Bak gayung bersambut antara visi dan misi Viktori-Yosef dengan kenyataan yang baru saja terjadi. Belum genap dua minggu usia pelantikan, Yosef Nae Soi mendapat kunjungan dari Sekretaris II Bidang Ekonomi Kedutaan Australia, Peter Simojongki, di ruang kerjanya, Kamis (13/09/2018).

Seperti dilansir oleh Beritalima.com Kamis (13/09/2018), kunjungan Simojongki ke Kupang agenda silahturami dan dialog tentang situasi dan kondisi ekonomi NTT. Nae Soi pada kesempatan tersebut mengungkapkan bahwa NTT dan Australia memiliki hubungan sejarah.

“Australia dan Indonesia punya sejarah yang luar biasa. Dalam buku yang ditulis penulis Australia dikisahkan, Kapten James Cook, penemu benua Australia dalam petualangannya sempat singgah di Pulau Sabu. Konon, dia singgah di Sabu karena kehabisan bahan makanan,” jelas Wagub Josef Nae Soi seperti yang dilansir Beritalima.com.

Ada benarnya yang dikemukan oleh Nae Soi. Memang sedikit buku sejarah yang mengungkapkan fakta pelayaran Kapten James Cook yang terdampar di Pulau Sabu, NTT. Bahkan literatur berbahasa Indonesia yang meriwayatkan sejarah itu pun sulit ditemukan.

Seorang cendekiawan muda NTT, Matheos Viktor Mesakh, adalah sosok yang penasaran dengan keberadaan James Cook di Pulau Sabu. Sebagaimana yang ditulisnya dalam Satutimor.wordpress.com (05/01/2014), fakta bahwa kebanyakan literatur yang mengisahkan pelayaran lebih banyak tentang Batavia daripada Sabu. Padahal dalam sejarahnya, Sabu pernah disinggahi bahkan diduduki Pemerintah Hindia Belanda, kemudian disusul rombongan Kapten James Cook yang terdampar sebelum menemukan benua Australia.

“Memang dalam banyak literature tentang perjalanan itu lebih sering disebut Batavia sebagai salah satu tempat singgah dan Sabu sering dilupakan, – mungkin karena dianggap kecil signifikansi sejarahnya – namun fakta sejarah menyatakan bahwa Endeavor pernah singgah di Sabu karena alasan hidup dan mati: mencari perbekalan, “tulis Mesakh dalam Satutimor.wordpress.com (05/01/2014).

Padahal dalam naskah yang dibuat pihak kompeni adalah mereka sulit mencari orang yang bersedia menjadi pejabat kompeni di pulau Sabu. Mereka menyebut Pulau Sabu sebagai “sebongkah batu di tengah samudera luas“ (Indosmarin,com, 16/06/2008). Itu artinya pulau Sabu pernah disinggahi dan diduduki kompeni Belanda.

Menilik sejarah, Belanda tiba di Sabu dengan kapal de Kerper pada tahun 1675. Kapal tersebut terdampar di Pulau Sabu sebelah timur. Dalam cerita tersebut, seluruh anak buah kapal dan seluruh penumpang yang adalah para pejabat kompeni dibunuh oleh orang Sabu yang dikenal pandai dalam bersenjata juga sebagai pejuang yang gagah berani.

Satu abad kemudian, secara tak sengaja Pulau Sabu “disinggahi” Kapten James Cook yang berlayar dengan kapal Endeavour sekitar tanggal 17 – 21 September 1770. James Cook memberikan kesaksian bahwa orang Sabu pandai melempar tombak hingga menembus jantung lawan dari jarak 60 kaki. Keunggulan orang Sabu ini kemudian justeru dimanfaatkan oleh kompeni untuk mencengkramkan pengaruhnya di Kepulauan Sunda Kecil ini.

Dari kisah di atas, dapat disimpulkan rombongan Kapten James Cook diselamatkan orang Sabu setelah berlayar tanpa arah dan kehabisan perbekalan. Sabu yang tak terlacak dalam peta pelayaranan muncul menjadi penyelamat. Bisa dibayangkan, seandainya (orang) Sabu tak menjadi bagian sejarah pelayaran tersebut, apakah mungkin Australia ditemukan oleh Kapten James Cook?

Titik sejarah ini bisa menjadi daya perekat untuk membangun hubungan yang mutualistis antara NTT dengan Australia. Meskipun keduanya memiliki perbedaan kultur-budaya, keduanya memiliki kemiripan alam dan iklim (terutama Northen Territory dan Queensland).

Pemerintah Provinsi NTT melihat peluang tersebut. Maka kedatangan Simojongki disambut positif oleh Nae Soi. Ia berharap kunjungan dapat menjadi titik awal membina hubungan kerjasama antara NTT dengan Australia.

“Kami berharap dengan letak geografis yang sangat dekat antara NTT dan Australia, komunikasi antara dua wilayah ini akan semakin baik ke depannya. Terutama dalam membangun kerjasama yang bersifat simbiosis mutualisme. Apalagi selama ini, NTT menjadi tempat penampungan para imigran gelap yang akan ke Australia. Menurut Wakil Dubes Australia, kalau tidak ditahan di NTT, para imigran ini dapat mendatangkan masalah bagi Australia”, kata Josef Nae Soi.

Lebih lanjut Josef Nae Soi, kiblat kerjasama NTT lima tahun kedepan menuju arah selatan (Australia dan Timor Leste, red) dan bukan lagi ke barat. NTT dibawah kepemimpinan Viktor-Josef lima tahun kedepan akan mengirim 10 ribu pemuda/I untuk mengikuti pendidikan vokasi di luar negeri termasuk ke Australia.

Nae Soi juga menyoroti kesuksesan Australia yang mengekspor garam terbesar ke Indonesia. Menurutnya, ini menjadi peluang pemerintah Provinsi NTT untuk mengirim orang-orang NTT belajar teknologi produksi garam di Australia.

Selain kerja sama di bidang pendidikan dan perdagangan, Nae Soi meminta pemerintah Australia untuk menambah satu slot penerbangan Kupang-Darwin. Hal ini penting dalam menigkatkan komunikasi dan hubungan kerjasama antara kedua wilayah ini.
Pernyataan dan harapan Nae Soi mendapat respon positif dari Simojongki. Ia menyambut baik ada niat baik pemerintah NTT untuk memperluas kerjasama perdagangan ke arah selatan.

“Cerita tentang James Cook itu benar adanya. Kami memiliki kewajiban untuk membantu NTT sebagai tetangga terdekat. Kunjungan wakil dubes dan saya memperlihatkan keseriusan Pemerintah Australia untuk bekerja sama dengan NTT, ” jelas Simojongki seperti dilansir Beritalima.com.

Simojongki menjanjikan akan adanya banyak kerjasama, namun Australia fokus pada dukungan kemitraan. Mereka menyambut baik dengan pelatihan vokasi karena ini merupakan salah satu poin kesepakatan perdagangan bebas Indonesia dan Australia. Australia juga siap membantu teknologi produksi garam bagi NTT. ***