Hoaxologi Yang Gagal Diramu Oleh Ratna Sarumpaet

oleh
281 views
Ratna Sarumpaet (Foto: Jawapos.com)

Oleh: Giorgio Babo Moggi

KUPANG.ONLINE – Negeri ini dihebohkan dengan dagelan yang dibuat Ratna Sarumpaet. Memancing publik sebagai korban penindasan. Para tokoh dan kaum intelektual terjebak. Mereka bersatu kata. Mengutuk tragedi kemanusiaan yang menimpanya.

Orang sekelas Prabowo, mantan jenderal dan calon presiden, dan Amien Rais sang professor pun membuat press conference. Seolah-olah ‘tragedi’ Sarumpaet lebih urgen dan genting daripada ribuan korban gempa dan tsunami di Sulawesi yang membutuhkan perhatian daripada sekedar ibah dan pernyataan di media massa. Tapi, Sarumpaet berhasil mencuri perhatian. Itu terjadi sesaat. Ia memantik kebencian publik pada rezim yang berkuasa dengan segala tipu daya yang mengkerdilkan akal sehat.

Entah akan ada tipuan apa lagi seandainya polisi tidak segera bertindak. Polisi harus mengmbil langkah cepat. Melakukan investigasi guna membukam mulut-mulut bebal dan sirik. Pasti akan ada serangan yang membabi buta. Segala tudingan dan fitnah berterbangan menuju istana. Semua salah Jokowi. Semua karena Jokowi.

Orang-orang di negeri memang aneh. Setiap hari mudah menelan informasi yang tak jelas kebenarannya. Kebohongan demi kebohongan diproduksi demi tujuan produsen maupun titipan orang. Orang begitu mudah percaya kabar burung daripada daripada yang punya burung (yang punya kabar). Lebih suka menggunakan khayalan daripada kebenaran. Mengunakan akal setan daripada akal sehat.

Terungkapnya kasus ini publik pun berbalik dan mengutuknya – kecuali para pengikut yang setiap pada idolanya. Bagi mereka apapun ucapan junjungannya adalah sabda dan sabda itu adalah kebenaran – sekalipun hoax.

Hoax adalah gejala sosial yang akut. Yang merasuki pribadi atau kelompok yang terus menciptakan hoax lalu menyebarnya. Akhirnya menjadi hobi dan menjadi profesi (melakukan secara professional). Mereka membenarkan pepatah “buruk muka cermin dibelah”. Buruk muka niat operasi plastik. Gagal operasi presiden pun dibawa-bawa. Itu teori dasar hoax. Kebenaran adalah milik mereka. Kegagalan mereka adalah sebab lawan mereka.

Bagi pencipta hoax, apapun bisa dihubung-hubungkan baik peristiwa alam atau orang di sekitarnya. Mereka akan mencocoki dan kait mengait peristiwa tanpa dilandasi akal sehat. Logis atau tidak hoax tersebut, penebar dan para penebar hoax cenderung untuk menciptakan sedemikian rupa agar memiliki keterkaitan dengan rezim yang berkuasa.

Sedih nian Jokowi. Dirinya fokus pada korban gempa dan tsunami Sulawesi, malah kelompok yang berseberangan mengambil manfaat dengan menciptakan dan menebarkan hoax. Untungnya, Jokowi tak terbawa emosi dan merespon tudingan itu. Ia memilih DIAM. Ia BEKERJA dalam DIAM. Dalam KEDIAMAN-NYA, ia terus melangkah, dari satu kota ke kota yang lain, dari satu pulau ke pulau yang lain, demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Hoax tidak sekedar fenomena penyakit sosial akut yang menimpa orang-orang yang mudah rentan dengan segala informasi yang masuk di isi otaknya. Hoax telah menjadi semacam disiplin ilmu baru yang terus diproduksi dengan berbagai teori, tesis-tesis dan testimoni agar orang yang mendengar dan membaca terpercaya lalu berpihak padanya dan membenci yang lainnya. Hoax itu semakin meraja lela bila musim politik tiba.

Bila hoax itu telah menjadi sebuah HOAXOLOGI, maka Sarumpaet adalah salah satu peletak dasarnya. Yang berupaya untuk terus mengkonstruksi hoax dengan membangun gossip, khayalan, dan halusianiasi setan sebagai pihak yang teraniaya. Bila Prabowo, Fadlizon, Amien Rais, Benny K. Harman, dan lain-lain termakan pancingannya, maka mereka adalah para pengikut HOAXOLOGI. Ya, mereka mungkin ingin menjadi pengikut aliran HOAXOLOGI.

Sayangnya teori KONSTRUKSI HOAXOLOGI yang sedang dibangun Sarumpaet berantakan dalam tempo singkat. Terkuak. Sarumpaet tak berdaya. Terpaksa mengaku kilaf dan menyalahkan setan. Ia mungkin tak sadar dengan kebodohan dirinya. Di era digital, jejak siapapun dapat ditelusuri polisi – bila mereka menghendaki. Hoax yang barus saja mau menjadi HOAXOLOGI (dispilin ilmu) di negeri ini pupus di tangan pencetus dan pengikut-pengikutnya sendiri.***