Hal-hal Fundamental Menurut Aloysius Gonzaga Rana Supaya Manggarai Bangkit Manggarai Sejahtera

oleh
640 views
Aloysius Gonzaga Rana (Foto: Dok. AGR)

KUPANG.ONLINE – Topografi Manggarai terdiri-dari pegunungan, bukit dan lembah serta sungai yang memiliki debit air melimpah. Inilah yang membentuk Manggarai sebagai wilayah dengan alam yang subur, kaya dan indah. Segala potensi ini bila dikelola dengan baik akan berdampak positif bagi kemajuan Manggarai.

Kondisi alam yang subur mempengaruhi langsung pada kehidupan masyarakat Manggarai. Tak heran bila mayoritas penduduk Manggarai menjalani kehidupan sehari-hari sebagai petani. Kondisi alam dan penduduknya inilah yang memungkinkan Manggarai sebagai penghasil kopi, kemiri, vanili, dan tanaman palawija.

Kondisi alam dan kekayaan bumi Manggarai ini merupakan potensi dasar untuk meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat. Segala hasil pertanian ini seharusnya bisa dipasarkan ke beberapa kota besar di Indonesia. Pertanyaanya, apakah Manggarai saat ini mencapai tahap tersebut?

Politisi Nasdem, Aloysius Gonzaga Rana, kepada koresponden kupang.online memberikan pandangannya tentang kondisi perekonomian Manggarai? Menurut putra Cibal ini, kondisi alam dan kehidupan petani belum mampu mengangkat kehidupan ekonomi orang Manggarai pada umumnya. Masyarakat Manggarai masih tergolong miskin. Pandangannya didasari oleh data BPS Manggarai (2017), dari 344.159 jiwa penduduk Manggarai, 58.667 jiwa masih berada di bawah garis kemiskinan.

Menurut pria yang berprofesi sebagai pelaku pariwisata di Bali ini bila masyarakat Manggarai dikelompokkan berdasarkan Kepala Keluarga (KK), maka totalnya 84.770 KK, sebanyak 10.077 KK berkategori sangat miskin, 10.049 KK masuk kategori hampir miskin atau penurunan tingkat ekonomi, dan sebanyak 3.185 KK di nyatakan rentan miskin. Dari total data kemiskinan ini sebanyak 52,18% penduduk Manggarai tergolong miskin.

Ia menilai kondisi ini sangat miris dan akan berdampak negatif pada masa depan Manggarai. Masalah kemiskinan sejatinya menjadi tanggung jawab semua pemangku kepentingan terutama pemerintah dan masyarakat sendiri.

“Semua pihak harus terlibat aktif untuk memerangi kemiskinan,” tandasnya.

Untuk itu, Aloysius Gonzaga Rana melihat dua sisi yang harus dibenahi. Pertama, dari sisi masyarakat. Masyarakat harus sadar bahwa pendidikan yang minim merupakan salah satu faktor penyebab kemiskinan. Masyarakat wajib mendorong anak-anak ke bangku sekolah jika bisa sampai lulus sarjana.

Ia menambahkan masyarakat harus mampu menghilangkan budaya 3M (Malas, Malu, Minder). Dewasa ini, masyarakat cenderung bermental malas untuk melakukan hal-hal baru seperti menanam aneka tanaman sebagai sumber kehidupan. Mereka malu untuk menjual hasil pertanian dan ujung-ujungnya mereka minder untuk melakukan apapun. Saatnya masyarakat Manggarai melakukan revolusi pola berpikir. Petani bukan pekerjaan rendahan melainkan profesi yg menghasilkan banyak uang untuk mendorong perekonomian keluarga.

Kedua, pemerintah bertanggungjawab penuh untuk menyiapkan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai, perbanyak sekolah-sekolah kejuruan di daerah pemekaran. Selain itu pemerintah harus mampu mengundang pengusaha yang bergerak di sektor pertanian sebagai stokis atau penyalur bahan pertanian untuk bisa dikirim ke bebrapa kota di Indonesia. Dengan permintaan tinggi dan harga yg terukur otomatis mendorong masyarakat untuk bekerja lebih keras.

Tak kalah pentingnya, Aloysius Gonzaga Rana menegaskan pemerintah wajib menyediakan infrastruktur penunjang seperti jalan raya dan jalan tani. Kondisi jalan yang baik dapat mendorong banyak pengusaha untuk masuk ke desa-desa untuk menjemput hasil sehingga petani tidak perlu keluar banyak biaya ke kota untuk mengirim atau menjual hasil pertanian.

“Saya pikir hal itu menjadi fundamental untuk menggerakkan perekonomian masyarakat Manggarai,” ujarnya kepada kupang.online baru-baru ini. ***