Gagap Teknologi vs Tanggap Teknologi, Sebuah Catatan Dari Uji Kompetensi Berbasis CAT Pejabat dan Pengawas Provinsi NTT

oleh
261 views
Para pejabat administrator Lingkup Pemerintah Provinsi NTT tampak serius mengikuti Uji Kompetensi berbasis Cat (Foto: Dok. Ist)

[KUPANG.ONLINE] Kemajuan teknologi komputer dan internet terus mengalir. Tiada henti. Setiap tahun, setiap bulan, bahkan setiap hari bermunculan teknologi baru berbasis teknologi komputer dan internet. Kemajuan itu berjalan beriringan dengan perputaran waktu. Semula dari Personal Computer, lalu muncul laptop, notebook, ipad, HP dan hingga komputer mini. Dunia benar-benar dalam genggaman tangan manusia atau seluas layar PC.

Sayangnya, kemajuan teknologi tersebut tak diimbangi oleh KAPABILITAS (Capability) dan KETRAMPILAN (Skils) manusia untuk menggunakannya. Masih banyak orang yang “ketinggalan kereta”. Mereka beranggapan komputer, internet, HP dan teknologi modern lainnya sebagai benda asing tak terjamah. Perangkat yang sulit dipelajari. Tak sedikit pula mereka merasa enggan untuk belajar dan memanfaatkan teknologi baru. Beragam alasan dikemukan. Dari alasan usia hingga alasan yang tak masuk akal.

Perubahan yang sesungguhnya adalah kita menjadi bagian dari perubahan itu. Menjadi pelaku perubahan. Menjadi bagian dari perubahan itu. Tak  apatis dan pasrah. Kita harus bersikap adaptif dengan perubahan dunia di luar diri kita (baca: teknologi). Bagaimana mungkin kita tak mau menggunakan komputer sementara tuntutan dunia segala pekerjaan harus dikomputerisasi? Bagaimana mungkin kita tak bisa mengirimkan email sementara tuntutan digitalisasi diharuskan?

Kita tak bisa bertahan menjadi makhluk asing di tengah rimba kemajuan zaman. Kita tak boleh dicap sebagai orang yang GAGAP TEKNOLOGI. Kita harus menjadi orang TANGGAP TEKNOLOGI.

Kita patut akui, menyadari berbagai aspek orang cenderung pasrah dengan kenyataan dan tak mau ambil pusing dengan kemajuan teknologi. Orang bebas beralasan. Tapi di luar sana ada TUNTUTAN. Suka, tidak suka. Mau, tidak mau. Ya, harus suka. Ya, harus mau. Hadapi kenyataan itu.

Pada pelaksanaan Uji Kompetensi berbasis CAT bagi pejabat administrator dan pengawas Lingkup Pemerintah Provinsi NTT memberikan REALITAS yang diuraikan di atas, yakni kelompok yang TANGGAP TEKNOLOGI dan yang GAGAP TEKNOLOGI. Pernyataan ini tak mengada-ada melainkan merupakan fakta sebagaimana  situs resmi BKD Provinsi NTT melansir berita pelaksanaan Uji Kompetensi berbasis Computer Assisted Test (CAT) yang mana menyampaikan kendala teknis peserta pada saat mengikuti tes. Untuk lebih jelas, saya mengutip paragraf berita tersebut, Jumat, 04/01/2018, (BacaAwal Tahun, 1037 Pejabat Pemprov NTT Ikuti Ujian CAT)

“Kendala teknis yang muncul justru datang dari kemampuan beberapa orang peserta yang masih sangat terbatas dalam mengoperasikan komputer. Ada juga peserta yang mengalami kendala pada kemampuan penglihatannya sehingga cukup sulit membacara huruf-huruf yang tampak pada layar komputer. Para petugas yang bertugas pada saat itu disiagakan untuk membantu secara proporsional peserta-peserta yang mengalami kendala teknis tersebut.”

Dari berita tersebut tidak menampilkan seberapa banyak jumlah yang yang TANGGAP TEKNOLOGI dan seberapa besar yang GAGAP TEKNOLOGI. Kutipan tersebut sedikit membentangkan FAKTA bahwa COMPUTER LITERACY, computer skills, atau apapun istilahnya masih rendah di kalangan peserta yang mengikuti Uji Kompetensi. Tak soal berapa jumlahnya. Yang pasti ada. Entah itu satu atau dua orang.

Saatnya, COMPUTER LITERACY merupakan keharusan yang harus digaungkan di dunia pendidikan. Tak hanya untuk anak didik, juga para pendidik, dan tenaga kependidikan. Tak hanya untuk staf, juga untuk pimpinan. Kita tak bisa menghindari perubahan itu, kecuali menghadapinya dengan beradaptasi dan terus menerus meningkatkan COMPUTER LITERACY (minimal bisa menggunakan aplikasi seperti Microsoft Word, Exel dan Powerpoint).

Seorang sahabat berbagi kisah. Dalam berbagai kesempatan, ketika menjadi instruktur MEDIA PEMBELAJARAN yang diselenggarakan UPT TEKOMDIK Provinsi NTT, menemukan fakta guru dan kepala sekolah yang masih harus diajarkan cara memegang mouse dan mengklik. Belum lagi pengenalan antarmuka perangkat lunak.   Banyak waktu kegiatan terbuang hanya untuk mengajarkan hal-hal yang fundemental ini.

Lalu kembali ke Uji Kompetensi berbasis CAT ini. Realitasnya mensyaratkan peserta harus mampu menggunakan komputer seperti menggerakan mouse dan mengetik pada keyboard. Inilah kemampuan dasar yang harus dimiliki peserta, selain kemampuan untuk mengenal antar muka sistim CAT atau sistem Online Digital Assessment Center (DAC).  Interface tak sekompleks aplikasi lain. Sangat simpel. Ya memang dibuat hanya untuk tujuan khusus (special purpose), yakni untuk alat bantu tes.

Sesimpel apapun aplikasi tersebut, tak dapat menolong banyak peserta untuk mencapai hasil yang maksimal jika COMPUTER SKILLS terbatas seperti MENGGERAKAN MOUSE dan MENGETIK saja TIDAK BISA. Bagaimana bisa cepat mengetik, kalau masih mencari-cari tombol keyboard. Waktu terbuang. Durasi tes dibatasi. Merugikan peserta sendiri.

Sehingga sangatlah tepat disampaikan oleh salah satu pejabat di Lingkungan BKD Provinsi NTT, “KEGAGALAN ITU BUKAN DISEBABKAN OLEH ORANG TIDAK BISA MENJAWAB TAPI KARENA MEREKA TIDAK MAMPU MENGOPERASIKAN KOMPUTER”. Untuk test Uji Kompetensi kali ini, menurut para pendamping, bahwa yang peserta yang TANGGAP TEKNOLOGI lebih besar persentasenya  daripada peserta yang GAGAP TEKNOLOGI. Meskipun persentase kecil, itu menjadi soal kedepan dalam rangka berkompitisi. Semoga tes kali ini menjadi PEMBELAJARAN tes serupa di masa yang akan datang. ***

Apabila Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan share dengan menekan tombol social media di akhir tulisan ini. Tidak diperkenankan untuk menyebarkan luaskan tulisan ini tanpa menyertakan link sumbernya. Artikel ini ditulis/disadur oleh Redaksi ]