Festival Sarung Tenun, Momentum Menyatukan Masyarakat NTT Global

oleh
334 views
Gubernur NTT dan Wakil Gubernur NTT membaur dengan masyarakat Kota Kupang pada Festival Sarung Tenun, Sabtu, 02/03/2019 (Foto: Biro Humas Setda NTT)

KUPANG.ONLINE – Sarung merupakan busana masyarakat Indonesia sebelum mengenal busana lain seperti celana panjang, kameja, jas dan lain-lain. Sarung menjadi busana yang paling simpel dan serbaguna digunakan.

Menulusuri catatan sejarah, sesungguhnya sarung berasal dari Yaman dan dibawa oleh para pedagang Arab dan India ke Indonesia pada abad 14. Orang Yaman menyebutnya futah.

Seiring perjalanan waktu,  sarung diidentikan dengan  budaya Muslim, dan digunakan sebagai busana harian sebelum Belanda memperkenalkan gaya busana seperti celana panjang (pria) dan  rok (wanita).

Meskipun pengaruh Islam sangat kental terhadap penyebaran sarung di Indonesia, sesungguhnya penggunaan sarung tak menunjuk pada identitas agama tertentu. Karena sarung juga dikenakan oleh berbagai kalangan di berbagai suku yang ada di Indonesia. Bagi masyarakat Indonesia, sarung menjadi salah satu busana kehormatan dan memiliki nilai kesopanan yang tinggi.  Dalam berbagai ritual adat atau budaya, kita dapat saksikan pria maupun wanita selalu mengenakan sarung dan aksesoris lainnya.

Sejarah memang tak terbantahkan bahwa masyarakat Indonesia mengenal sarung melalui para pedagang Arab dan India. Tak terbantahkan pula bahwa bangsa Indonesia memiliki daya imajinasi, inovasi dan kreativitas untuk melahirkan sarung yang memiliki ciri yang berbeda dengan negeri asalnya atau negara lain. Perbedaan itu terletak pada bahan dan cara pembuatannya. Umumnya sarung Indonesia terbuat dari kain tenun, songket, dan tapis. Sarung pun memiliki jenis bahan dan motif yang memiliki nilai folosofi yang berbeda antara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya.  Kain yang terbuat dari  tenun, lebih terkenal wilayah  Indonesia Bagian Timur  seperti NTT, NTB, Sulawesi, dan Bali. Songket, identik dengan ciri khas adat dan masyarakat Minangkabau dan Palembang. Sedangkan tapis, bahan tenun yang digunakan oleh masyarakat Lampung.

Dalam konteks NTT, sarung sangat beragam baik cara pembuatan, motif dan pewarnaannya. Jumlah motif daerah sebanyak suku yang ada di NTT dan bahkan lebih. Tak mengherankan bila kita menemukan banyak sekali sarung tenun dengan berbagai corak atau motif. Corak ini menunjukkan identitas budaya, adat dan asal. Dan, bahkan dalam satu etnis besar masih memiliki corak motif yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.

Keberagaman sarung tenun ikat dan motifnya menunjukkan daya imaginasi para leluhur. Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat pada acara Wisuda Undana menyebutkan sarung tenun merupakan hasil karya imajinasi nenek moyang yang luar biasa (Kupang.Online, 28/02/2019).

“Contoh sederhana adalah sarung tenun motif yang saya dan kita pakai hari ini. Ini adalah hasil karya imajinasi nenek moyang yang luar biasa. Mereka bukan sarjana, juga tidak banyak membaca buku. Tetapi, mereka membuat karya yang kita pakai dengan sangat bangga.”

Gubernur Laiskodat menyebutkan sarung tenun ikat lebih dari sekedar kerajinan tangan. Sarung tenun ikat merupakan hasil intelektualitas para leluhur.

“Sarung tenun NTT lebih dari sekadar kerajinan tangan. Ini merupakan suatu karya intelektual yang hebat dari para leluhur dan nenek moyang kita. Mereka belum kenal budaya literasi, tapi mereka menciptakan suatu kreasi hebat yang wajib kita lestarikan serta perkenalkan kepada Indonesia dan dunia,” tegas Gubernur Laiskodat seperti dikutip dari Kupang.Online, Minggu (03/03/2019).

Ucapan Laiskodat menunjukkan pengetahuan itu ada sejak adanya manusia. Karena manusia dikarunia oleh Tuhan dengan akal yang tak dimiliki ciptaan lainnya. Sejak adanya manusia, sejak itu pula manusia berpikir. Artinya, dengan segala keterbasan jaman itu, belum ada teknologi, belum ada internet tapi mereka mampu menghasilkan sesuatu yang yang luar biasa  karena kemampuan berimajinasi dan berpikir. Karenanya kita harus berbangga akan karya peradaban leluhur.

Rasa bangga itu mestinya tetap subur dalam kehidupan kita saat ini. Bangga untuk memiliki karya itu dan mengapresiasi dalam kehidupan sehari-hari sebagai produk kebanggaan. Apalah artinya kita membanggakan tenun ikat tapi kita tidak memiliki dan mengenakannya.

Senada dengan Gubernur NTT, July Soetrisno Laiskodat yang adalah istri sang gubernur memiliki kepedulian dan perhatian yang serius akan keberlanjutan karya monumental leluhur kita ini. Jauh sebelumnya, ia telah aktif menggemakan dan memperkenalkan kain tenun ikat dalam berbagai event peragaan busana baik berskala nasional maupun internasional. Artinya, July melihat ada keunikan, kekayaan dan keaslian karya tenun ikat NTT. Meminjam istilah Gubernur NTT, tenun ikat  sebagai hasil karya imajinasi nenek moyang yang luar biasa. Di dalamnya ada nilai estetika, bobot intelektualitas dan pesan-pesan kearifan lokal (falsafah) adi luhung.

Sehingga adanya Festival Sarung Tenun Ikat yang digelar di Jalan El Tari (Sabtu, 02/03/2019) bukan sesuatu yang baru bagi July Soetrisno Laiskodat untuk memperkenalkan kazanah budaya NTT ini. Jauh sebelum itu, ia sudah melakukan melalui butiknya, LeViCo.  Bedanya, kegiatan ini diselenggarakan dalam skala yang besar karena melibatkan massa dalam jumlah yang banyak. Selain itu, kedudukannya sebagai Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekrasnada) Provinsi NTT memungkinkannya untuk melakukan hal-hal yang besar untuk mempopulerkan tenun ikat NTT. Tujuannya, agar tenun ikat semakin dikenal luas ke seluruh penjuru dunia dan terus dilestarikan oleh para generasi muda. Bila masyarakat dunia sudah mengenalnya, mereka akan memiliki dan mencintainya.

“Jadi, kami berupaya melestarikan budaya dan promosi sarung tenun ikat, warisan budaya NTT di kancah nasional dan internasional. Karena itu kami melaksanakan festival sarung tenun ikat yang akan dikolabrasikan dengan festival musik tradisional tahun 2019,” ujarnya seperti dilansir dari Tempo.Co,  Senin (25/02).

Apa yang dilakukan July dan timnya baru merupakan permulaan dalam rangka mempromosikan sarung tenun NTT secara masif, kedepannya promosi akan dilakukan lebih luas lagi, tak terbatas dalam negeri saja.

“Ini titik awal ajang promosi sarung tenun ikat. Mungkin ada wisatawan asing yang kebetulan ada di Kupang ikut serta dalam festival ini. Tetapi untuk tahun depan pasti kami akan promosikan ke luar negeri,” kata Julie seperti dikutip dari Tempo.Co, Senin (25/02).

Meskipun festival ini baru sebuah permulaan, perhatian masyarakat dunia tertuju ke Kupang kala acara ini digelar. Ini tak terlepas dari peran teknologi informasi sebagai media penyebarluasan kegiatan tersebut. Gusti Adi Tetiro, Produser Berisatu News Channel menulis status di ­Facebook-nya, Sabtu (02/03/2019).

“Ada berita bagus dari Kupang hari ini: Festival Tenun Ikat NTT. Saya sangat antusias mengedit berita itu. Lalu, kami tampilkan jadi salah satu item di acara televisi BSTV. Tidak tanggung-tanggung, di program Prime Time.
Hanya, kenapa acara sebesar dan bagus itu tidak leading di media sosial? Karena upload oleh netizen di NTT dilakukan dengan masing-masing versi secara individual.

Saran saya: kalau nanti buat lagi acara sejenis panitia harus mampu membuat gerakan tagar atau hastag yang menyatukan semua postingan di medsos. Misalnya: #TenunNTTOke, dll. Lalu, ramaikan semua medsos, jangan facebook saja.

Bukan tidak mungkin jadi trending topics di medsos. NTT sudah sangat terkenal memenangkan duta-dutanya dalam kejuaraan yang mengandalkan pooling SMS dan medsos.

Ayo NTT bisa!!!”

Status Gusti Adi Tetiro memuat apresiasi, kritik dan saran. Menyatu di dalamnya, membersitkan suatu kebanggaan. Tanpa bermaksud membela penyelenggara, festival ini baru sebuah permula seperti disampaikan ibu July Laiskodat dan lagipula event ini digawangi oleh ibu-ibu yang bergabung dalam Dekranasda Provinsi NTT dan didukung Pemerintah Provinsi NTT.

Kritik Gusti Adi Tetiro bisa ditujukan kepada semua pihak, pemerintah kabupaten/kota di NTT, pihak swasta, perguruan tinggi dan singkatnya semua elemen masyarakat di NTT dan bahkan diluar NTT untuk melebur dalam satu semangat untuk menyukseskan Festival Sarung Tenun.

Seperti kata Ketua Dekranasda NTT, festival ini baru permulaannya, harapan momentum ini dapat memantik kepedulian seluruh lapisan masyarakat terutama perangkat pemerintah daerah kabupaten/kota untuk bahu-membahu menyukseskan festival serupa pada tahun berikut. Bila hal ini direspon dengan positif, penulis sulit bayangkan situasi saat itu nanti dan bukan tak mungkin NTT akan menjadi lautan manusia dalam balutan sarung tenun kebanggaannya.

Sebagai permulaan, festival ini terbilang sukses karena peran teknologi informasi yang turut andil menyebarkankannya, meskipun menurut Gusti Adi Tetiro, hal itu belum cukup maksimal karena penyebaran informasi dilakukan oleh orang per orang melalui akun Facebook dan media sosial lainnya atau tidak dilakukan gerakan bersama melalui taggar atau hastag.

Memang harus ada kemasan acara yang lebih profesional dengan memanfaatkan media sosial. Dengan membuat tagar seperti yang dimaksudkan Tetiro untuk menyatukan masyarakat global dalam satu masyarakat digital dengan satu gerakan yang sama. Cara ini lebih mudah dan praktis dan “menyatukan” seluruh masyarakat yang dibatasi oleh “gap jarak”.

Kurang dan lebihnya, Festival Sarung Tenun telah menyedot perhatian dunia. Ada banyak dampak dan manfaat usai peristiwa itu. Itu semua tak terlepas dari dukungan teknologi komunikasi dan informasi.  Senada dengan itu, Gubernur NTT telah mengingatkan dua hari sebelumnya pada acara Wisuda Undana.

“Teknologi informasi membantu kita untuk perkenalkan kepada dunia. Kita posting baju atau jaket dari tenun ikat ini sehingga dunia dapat  menonton dan melihat warisan hebat nenek moyang kita,” seperti dilansir dari Kupang.Online, Jumat (01/03/2018).

Dukungan teknologi informasi sejatinya, masyarakat (orang) NTT dimana saja dapat terlibat festival ini  sebagai gerakan bersama di lokasi yang berbeda dalam satu ruang waktu yang sama. Harus menjadi gerakan global dalam tatanan dunia digital. Seperti kata July Laiskodat, ini baru permulaan, maka penulis membayangkan  di tahun yang akan datang, Festival Sarung Tenun sebagai event lokal yang berdampak global yang dilaksanakan secara serentak oleh masyarakat NTT dan masyarakat NTT diaspora (perantuan).

Maka dari itu, marilah kita proaktif untuk menyatukan visi dan mimpi bersama untuk menyukseskan festival serupa di tahun mendatang. Kita tak hanya melihat peristiwa ini sebagai momentum untuk mempromosikan budaya dan pariwisata NTT juga sebagai momentum menyatukan masyarakat NTT global (dimana saja berada) menyatu dalam keberagaman (perbedaan) seperti halnya keberagaman sarung tenun; motif, warna dan falsafahnya.***

Apabila Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan share dengan menekan tombol social media di akhir tulisan ini. Tidak diperkenankan untuk menyebarkan luaskan tulisan ini tanpa menyertakan link sumbernya. Artikel ini ditulis/disadur oleh Giorgio Babo Moggi ]