Dibalik Kisah Anthonius Gunawan Agung, Tuhan Mungkin Sudah Lelah

oleh
1.040 views
Sang pahlawan kemanusian Anthonius Gunawan Agung (Foto: intisari.grid.id)

KUPANG.ONLINEDibalik Kisah Anthonius Gunawan Agung, Tuhan Mungkin Sudah Lelah – Anthonius Gunawan Agung. Dari namanya sudah bisa ditebak agamanya.  Tapi apa penting? Penting atau tidak, perguncingan agama seseorang bukan hal yang tabu atau privasi di ruang publik di tanah air ini. Fakta yang sudah, sedang dan terus terjadi di lingkungan kita.

Apakah pertanyaan agama seseorang itu merupakan sesuatu yang tabu? Tabu atau tidak, bagi saya tergantung cara pandang dan budaya. Bagi orang Indonesia, bertanya agama seseorang itu lumrah. Nah, bagaimana dengan negeri tetangga kita? Australia memiliki salah satu pertanyaan tabu (taboo questions) yakni bertanya agama seseorang.

Kita bisa pahami bahwa keyakinan itu berada di ruang privasi. Hubungan seseorang dengan Sang Pencipta. Ruang itu tak dapat disusupi oleh orang lain. Hal ini yang berbeda antara Indonesia yang memandang agama sebagai konsumsi publik. Satu dengan yang lain harus tahu agamanya masing-masing. Yang sebenarnya tanpa bertanya pun kita dengan sendirinya akan tahu agama seseorang dari keseharian hidupnya.

Penulis sangat lelah ketika baca berita, status dan berbagai informasi dari berbagai peristiwa di tanah yang selalu dikaitkan dengan agama. Kelompok tertentu yang mengklaim surga adalah miliknya. Mencap yang lain kafir, sebaliknya kelompoknya sebagai golongan suci.

Menyedihkan lagi, ketiga hal-hal tersebut dipolitisasi untuk kepentingan sesaat. Cara pandang pun berubah-berubah demi libido politik. Di satu sisi mereka melabel kelompok lain kafir, di sisi lain mereka bersekutu dengan orang-orang dari kelompok yang disebut kafir. Perhatikan saja pada peristiwa Pilkada, Pilgub dan Pilpres.

Kita baru saja melewati ujian Pilgub DKI 2017. Isu SARA itu begitu kental dipermainkan untuk mencapai tujuan politik. Kelompok tertentu tertekan secara politis dan kehilangan hak-haknya berserikat, berkumpul dan beribadat. Kelompok tertentu dengan mudah mengkafirkan masyarakat lain yang seiman hanya karena perbedaan pilihan politik.

Kadang memang susah dibedakan di negeri ini. Mana syawat politik, mana syawat agama? Mana urusan agama, mana urusan politik? Keduanya kerap bersenyawa menjadi satu. Dengan alasan legal formal, seorang kepala daerah, kelompok masyarakat atau Ormas berwajah agama menutup tempat ibadat agama lain. Yang terbaru seperti terjadi di kota Jambi. Tindakan dianggap sebagai upaya untuk menertibkan lingkungan dan alasan belum ada IMB.

Pidato-pidato mereka tak lagi teduh. Bukannya membangkitkan heroisme melainkan menabur kebencian dan berpropaganda. Orasi mereka memicu antusiasme pendengar berubah menjadi seruan provokatif yang menaburkan benih-benih kebencian. Ruang-ruang suci dijejali dengan seruan yang bukan lagi profetif.

Jenuh. Perasaan yang tepat ketika menyaksikan situasi negeri ini. Saya yang mendengar saja lelah apalagi mengalami secara langsung. Tuhan pun mungkin lelah melihat tindak-tanduk manusia negeri ini. Agama diperdagangkan.  Kerohaniwan pemimpin agama dilelangkan demi meraih kekuasaan, harta dan kemewahan. Cuap sana, cuap sini. Masyarakat mudah terjebak.

Kini, Indonesia telah memasuki tahun politik. Daur ulang isu politik berbungkus SARA kembali beredar. Jual beli ayat pun masuk bursa di lapak-lapak dimana dua atau tiga orang berkumpul serta di media sosial. Pemandangan yang tak berubah. Hanya berganti bungkusan atau kemasannya tapi isinya tetap sama. Pengkamplingan surga pun merebak. Stigma kafir pun menyeruak dan memicu kegelisahan sosial.

Mengapa kita tak bisa tumbuh menjadi bangsa yang besar dengan dengan pengakuan ragam perbedaan? Mungkin bagi sebagian orang yang menebar kebencian adalah profesi. Memasang ranjau untuk menjerat orang lain biar ‘keseleo’ lidah agar dicap sebagai penista. Tapi, adakah  waktu dan kesadaran mereka berpikir keindahan, keteduhan dan kedamaian hidup di tengah perbedaan?

Kematian Anthonius Gunawan Agung yang kaumnya sering menerima stigma kafir ternyata punya nurani. Nurani yang membebaskan orang lain dari kematian. Demi tugasnya ia relakan nyawanya. Menjalankan tugasnya hingga paripurna sebelum masanya. Lebih baik satu nyawa hilang daripada ratusan nyawa berkalang tanah karena tsunami.

Kisah kematian Antonius Gunawan Agung menjadi duka yang teramat pilu bagi keluarganya. Bagi semua orang yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan yang universal – tak melihat batas atau sekat perbedaan SARA. Di sisi lain, kepergiannya menjadi sumber keteladanan pengabdian profesi kita masing-masing. Bekerja hingga tuntas hingga maut menjemput sekalipun.

Penulis tak berkata bahwa tsunami adalah hukuman Tuhan. Bagaimana Tuhan menghukum umatnya bila Tuhan sendiri tahu takaran kemampuan manusia? Gempa dan tsunami bisa terjadi dimana saja. Kapan saja. Tak peduli siapa penghuni bumi ini. Apapun agama, suku dan strata sosialnya. Yang pasti setiap peristiwa alam selalu meninggalkan pesan. Pesan yang harus dicari dari antara reruntuhan peristiwa tersebut. Lalu mengkonstruksinya menjadi sesuatu yang lebih bermakna untuk kehidupan sesudah peristiwa itu.

Sama halnya seperti Antonius Gunawan Agung. Kematiannya bukan karena kutukan Tuhan. Lantas kita tak bisa mengatakan dia makhluk berdosa atau dari golongan kafir. Mereka yang mati karena berdosa, kita yang hidup karena pribadi yang suci. Tidak! Tuhan selalu punya cara untuk mewartakan pesannya. Tuhan selalu punya cara untuk menyatakan kehadiran-Nya. Tuhan selalu punya cara untuk menjemput pulang umat-Nya. Dan, dibalik semua itu, Tuhan meninggalkan goresan pesan melalui berbagai peristiwa atau kejadian.

Pesan yang sangat nyata, mungkin tak semua orang berpikir dan menyadarinya, bahwa nyawa satu orang kafir sangat mulia dan berharga puluhan bahkan ratusan nyawa lain – mungkin bagi orang kafir, juga orang yang beragama di dalam pesawat Batik Air. Bayangkan, sendainya Anthonius Gunawan Agung tak berada di menara dan mengabaikan tugasnya, bukankah korban lebih banyak lagi?

Tulisan ini tak dimaksudkan untuk mendewakan Anthonius Gunawan Agung yang kafir itu. Bukan pula untuk meninggikan hati para pengikut agama dan agama ‘kafir’ itu. Agama atau keyakinan hanya atribut lain yang melekat di ruang privasi seseorang, tapi kesejatiannya sebagai warga negara yang setia dalam tugas dan panggilannya yang utama. Ini dibuktikan oleh Anthonius Gunawan Agung.

Anthonius Gunawan Agung adalah satu contoh anak bangsa yang mengorbankan nyawa bagi orang lain. Jauh sebelum itu, Riyanto, pemuda Muslim, anggota Banser yang rela meregang nyawa demi menyelamatkan umat Kristiani yang sedang merayakan Natal. Sama seperti Anthonius, seandainya Riyanto lari menyelamatkan diri, apakah umat yang sedang merayakan Natal di gereja terselamatkan semua? Tentu tidak.  Kisah lain pun dilakoni oleh Aloysius Bayu Rendra Wardhana (Bayu) yang menghalau teroris di Surabaya. Bayu meregang nyawa seketika. Tapi puluhan, ratusan umat di dalam gereja diselamatkan. Dan, masih banyak lagi sikap heroik pemuda-pemudi Indonesia yang pantas dianugerahi sebagai pahlawan kemanusiaan.

Penjajahan memang telah diusai. Banyak pejuang berguguran. Mereka adalah pahlawan bangsa. Kepahlawan mereka diuji dalam bentuk yang berbeda. Mereka memiliki sikap yang sama: demi harkat dan martabat kemanusiaan.

Anthonius, Riyanto dan Bayu adalah contoh anak muda yang memanifestasikan iman secara benar dan dengan jiwa heroik. Mereka tak takut kematian. Tahu dan mau untuk memilih jalan yang beresiko. Nyawa menjadi taruhan. Terbukti. Mereka mati demi menyelamatkan yang lain.

Maka penulis tak tidak simpatik dengan mereka yang pandai berbicara agama. Berapi-api berkotbah. Berteologi di ruang publik. Apapun agama mereka. Mereka berdebat  dan selalu menjustifikasikan sebagai pemenang meskipun dilakukannya dengan interograsi dan pressure seolah dirinya sumber kebenaran. Dengan kisah ketiga pemuda sang penyelamat diatas, saya teringat dengan ajaran Yesus yang memilih mati di salib daripada jutaan manusia terperangkap dalam lembah dosa. Satu mengalah untuk semua. Ajaran yang mulia. Penulis tak perduli apakah Yesus itu Tuhan atau bukan? Pertanyaan yang sering diajukan dalam berbagai debat antar umat beragama seperti yang bertebaran di Youtube.  Ya atau tidak, jawaban dari pertanyaan itu hanya dalam hati saya. Setiap jawaban didasari oleh iman. Selama seorang tak beriman tentang sesuatu yang berkaitan keyakinan, maka orang tersebut akan merasa selalu benar.

Manifestasi ajaran Kristus itu nyata pada peristiwa yang saya sebutkan di atas. Baik itu di dalam diri Anthonius, Riyadi maupun Bayu. Ketika seorang yang begitu yakin dengan keimanannya, maka orang tersebut tak memikirkan dirinya lagi, kelompoknya atau keluarganya. Di atas segala-galanya, ia akan melakukan atas dasar yang universal – melampaui sekat atau batas yang dimilikinya. Anthonius, Riyadi dan Bayu mampu membuktikan iman mereka yang hidup. Hingga kapanpun nama mereka aku selalu dikenang. Nama mereka selalu tercatat pada setiap lembaran hati manusia yang mengasihi dan mengalami kebaikan mereka.

Dengan peristiwa ini, marilah kita berhentilah saling mencerca, menghina dan mengelompokkan manusia. Belajarlah dari Anthonius, Riyadi dan Bayu. Mereka rela mati. Surga pun tak pernah terpikir di benak mereka ketika mengambil tindakan. Niatnya tulus. Menyelamatkan sesama meskipun mereka harus bertaruh dengan nyawa.

Dari Riyadi yang Muslim, kita belajar amal kepeduliannya kepada umat Kristen. Begitu pula melalui Bayu yang Katolik, kita belajar menjadi pengikut-Nya harus berani mati bagi nyawa-nyawa yang lain. Tentu pula lewat kematian Anthonius yang kafir ini, sikap dan tindakan perbuatan baik itu tak selamanya dimiliki oleh mereka yang selalu menjustifikasi dirinya ‘penghuni surga’ yang turun di bumi.

Dari mereka kita belajar tentang beriman yang benar. Manisfestasi iman mereka melampui mereka yang pandai bicara di mimbar. Masuk surga atau tidak, itu adalah kehendak Tuhan. Tuhan mungkin sudah lelah menghadapi keangkuhan ciptaan-Nya. Ia menghadirkan sinyal atau tanda dalam diri Anthonius, Bayu dan Riyadi. Maka tak usah tanya agama mereka apa. Tanyalah, mereka telah berbuat apa? Bila Anda menemukan jawaban pertanyaan ini dengan pikiran yang jernih dan hati yang teduh,maka Anda akan menyadari betapa mulia nyawa manusia. Begitulah yang diyakini dan dilakoni tiga kasatria kemanusiaan ini. Lantas, masih kita melakukan kategorisasi sesama berdasarkan sesuatu yang mencendarai martabat manusia? Pasti tidak, khan?***