Dialog dengan Jajaran Pimpinan Dinas Pendidikan Provinsi NTT dan Kota Kupang, Bank Dunia Tawarkan e-RABS

oleh
565 views
Tim Bank Dunia (Foto: Dok. Pribadi)

KUPANG.ONLINE – Bank Dunia (World Bank) mengirimkan perwakilannya untuk melakukan dialog dengan Dinas Pendidikan Provinsi NTT. Perwakilan Bank Dunia terdiri-dari Javier (Senior Education Specialit), Sheldon (Konsultan Bank Dunia), Rythia (Ekonom), dan Wina (Penerjemah).

Tim Bank Dunia diterima Alfons Arakian, S.Fil, Kabid GTK, Dinas Pendidikan Provinsi NTT, Albina Maria, SH (Kasie Kesiswaan SMK), dan Yanuarius Laka, ST (Kasie Kesiswaan SMA) serta tim manajemen Bos dan staf PDE Dinas Pendidikan Provinsi NTT. Hadir pada kesempatan tersebut, perwakilan PPKAD Kota Kupang dan Dinas Pendidikan Kota Kupang.

Tujuan kedatangan perwakilan Bank Dunia ke Dinas Pendidikan NTT dalam rangka menggali informasi pengeleloan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Kota Kupang.

Beberapa pertanyaan yang diajukan oleh perwakilan Bank Dunia. Sheldon mempertanyakan relavansi pengelolaan dana BOS dengan Evaluasi Diri Sekolah (EDS). Apakah perencanaan BOS mempertimbangkan aspek-aspek yang ditemukan dalam EDS?

Menjawab pertanyaan Sheldon, Albina menyampaikan pembiayaan dana BOS sudah diatur dalam petunjuk teknis BOS. Pihak sekolah tidak bisa keluar dari pos-pos penggaranan yang ditetapkan di Juknis. Tapi dalam menetapkan penganggaran, pihak sekolah dapat menentukan skala prioritas sesuai dengan hasil EDS.

Dalam pelaksanaan, lanjut Albina, pihak sekolah dalam hal ini bendahara BOS melakukan konsultasi dengan pihak dinas terkait program atau kegiatan. Konsultasi ini untuk memastikan bahwa penyusunan anggaran BOS harus benar-benar sesuai dengan Juknis BOS.

Sementara Javier menanyakan soal mekanisme perencanaan BOS, apakah pihak pengelola BOS diberikan ruang kreativitas untuk menyusun program atau kegiatan dengan pembiayaan dana BOS? Senada dengan Albina, Yanuarius Laka menjelaskan pengelola dana BOS terikat dengan Juknis. Pada saat menyusun kegiatan, program atau kegiatan tidak boleh keluar dari Juknis. Hal ini dilakukan untuk menghindari temuan kemudian hari.

Pertemuan ini berlansung penuh dialogis. Tim Bank Dunia,pada kesempatan tersebut, menawarkan aplikasi e-RABS yang dapat digunakan untuk pengolahan dan pelaporan dana BOS. Rythia menjelaskan aplikasi ini telah digunakan di  beberapa daerah seperti Jakarta, Surabaya, dan Gorontalo.

Dengan aplikasi ini diharapakan pelaporan dana BOS lebih efisien dan efektif jika dibandingkan dengan pengelolaan berbasis lembar kerja elektronik atau pengelolaan manual lainnya. Pihak Dinas Pendidikan mengapresiasi tawaran Bank Dunia dan akan mendalami lebih lanjut jika dimungkinan untuk diterapkan di NTT. ***