Daya Ungkit Dan The Power Of “Akar Rumput” Pada Pilkada Nagekeo 2018

oleh
411 views
dr. Yohanes Don Bosco dan Marianus Waja, SH (Foto: Facebook.com/Primus Dorimulu)

Oleh : Giorgio Babo Moggi

[KUPANG.ONLINE] Narasi  Pelantikan dr. Yohanes Don Bosco Do dan Marianus Waja, SH sebagai Bupati dan Wakil Bupati Nagekeo. The Doctor is Back. Sang Dokter Kembali. Kalimat ini merupakan judul tulisan saya pada Pilkada Nagekeo 2013 yang dipublish di Group Nagekeo Bersatu (07/07/2013), merespon situasi Kampanye Akbar Paket DOA (Yohanes Don Bosco Do dan Gaspar Batu Bata).

Di tengah stigmatisasi sebagai sosok “anti pemekaran Kabupaten Nagekeo” yang merebak di masyarakat, ternyata dr. Don masih mendapat simpatik yang luar biasa. Meskipun pengamatan itu dilakukan jauh dari Townsville, Negeri Kanguru, dari berita dan foto yang beredar di media sosial, saya langsung mengambil sebuah kesimpulan dan mengemasnya menjadi  judul tulisan “The Doctor is Back” – sang dokter kembali.

Memang kesimpulan atau judul tulisan, “The Doctor is Back” menggambarkan secara utuh kiprah dr. Don dalam panggung politik di Ngada dan Nagekeo. Sejak Nagekeo masih bergabung dengan sang induk, Kabupaten Ngada, dr. Don selalu bertarung dalam konstelasi politik kepemimpinan di Ngada, namun ia selalu menuai kegagalan.

Pengalaman kegagalan di Ngada tak mengurungkan niatnya ketika ia mencalonkan diri sebagai bupati di Daerah Otonom Baru (DOM) yang bernama Nagekeo. Musim Pilkada demi musim Pilkada, dr. Don selalu kembali (he was always back). Dua kali bertarung di Nagekeo, dr. Don selalu meraih kegagalan. Tak membuat dirinya jerah dan patah semangat.

Kembalinya  pada setiap perhelatan Pilkada, ia selalu diserang dengan stigma “anti pemekaran”. Stigmatisasi itu terus saja dihidupkan pada setiap perhelatan Pilkada Nagekeo.  Stigma itu berpengaruh signifikan terhadap perjalanan politik dr. Don pada dua Pilkada Nagekeo terdahulu.

Stigmatisasi itu pun tak hanya menyerangnya secara pribadi, pula keluarga dan kerabatnya. Terlepas benar atau tidak, dr. Don terlibat secara pribadi dalam penolakan tersebut, ini  menjadi teka-teki karena dr. Don tidak pernah menjelaskannya. Sekalipun ia sebagai salah satu tokoh yang menolak pemekaran, dalam kacamata penulis itu bukan masalah karena konteks masalah dan waktu  saat itu berbeda – dalam alam demokrasi pandangan orang boleh saja berbeda. Toh, ini bukan sebuah pembangkangan terhadap NKRI yang kita harus menolak kehadirannya.

Pada tulisan “The Doctor is Back”, penulis menggambarkan dr. Don  sebagai sosok fenomenal. Disebut femonenal karena ia berjalan dalam polemik publik. Tetapi, ia tegap melangkah menatap puncak Ebulobo, menyapa Nagekeo dengan senyum perubahan.

Dalam sudut pandang penulis, dalam tulisan “The Doctor is Back”, dari sekian figur Nagekeo yang potensial, dr. Don adalah sosok dan figur yang layak dan paling  ideal menjadi pemimpin. Pengalamannya sebagai  birokrat adalah  modal vital. Menjadi bupati tidak hanya mengelola masyarakat, tapi hal yang utama ‘memenage’ birokrat. Hal ini tugas yang paling berat bagi seorang bupati. Para Apartur Sipil Negara (ASN) merupakan perpanjangan tangan bupati. Karena Nagekeo merindukan pemimpin yang bukan menjadi ancaman, melainkan menjadi bapak yang mampu mengayomi stafnya.

Menilik pengalaman kepemimpinan di beberapa RSUD menjadi catatan “track record” positif. Pola pendekatan kepemimpinannya sudah terbukti positif. Ia mendapat apresiasi oleh kalangan birokrat. Jika ada resistensi, itu lumrah terjadi dalam instansi atau organisasi apa saja. Biasanya, resisten itu mencuat, karena orang atau pihak tertentu merasa terganggu di “comfort zone”-nya. Bagi mereka yang berpikir selangkah bahkan seribu langkah di depan, akan menerimanya sebagai keutamaan yang lebih besar untuk kepentingan masyarakat banyak.

Gagal dalam pertarungan Pilkada Nagekeo 2013 membuat dirinya kembali lima tahun berikutnya pada perhelatan serupa. Pilkada 2018. Kali ini ia berganti pasangan dengan ‘jara nokho’ (meminjam istilah kae Petrus Toda), julukan untuk Marianus Waja, SH. Sebelum ditetapkan dengan Marianus, sempat beredar baliho dr. Yohanes Don Bosco – Benediktus Ceme, SH. Tak berjalan mulus. Nada sinis dan pesimis berkembang dan menyeruak di tengah masyarakat Nagekeo. Publik langsung melakukan agitasi terhadap hal-hal yang personal kedua bakal calon waktu itu.

Politik itu dinamis dan penuh intrik. Politisi pun harus dinamis dan memiliki intrik. Lentur. Tak bisa kakuh dan bertahan pada prinsip pribadi tetapi kita harus melihat respon di luar diri calon pemimpin. Posisi yang dilematis, memilih Beni Ceme sama artinya kehilangan kesempatan karena keduanya bukanlah figur yang terlibat dalam partai politik. Sementara untuk mendapatkan dukungan, bakal calon harus mengantongi “suara” partai atau akumulasi jumlah kursi di DPRD. Mungkin banyak di antara masyarakat yang kecewa dengan bergantinya posisi wakil bupati dari Beni Ceme ke Marianus Waja. Tapi, kita tak bisa menampik, sebagian besar setuju saja dengan siapa dr. Don berpasangan. Visi utamanya, dr. Don adalah bupatinya.

Nada-nada pesimisme sempat menjadi tembang politik yang fals di awal perhelatan Pilkada Nagekeo 2018, namun kemudian pelan dan pasti pasangan Don-Marianus (DOMA) semakin diterima kalayak masyarakat. Puncaknya, membanjirnya dukungan kepada DOMA pada kampanye akbar di Lapangan Berdikari Mbay.

Sambutan masyarakat yang luar biasa. Mbay yang sepi oleh konsentrasi masyarakat mendadak menjadi lautan manusia. Menyaksikan eforia kampanye melalui foto-foto pilkada di Mbay, lagi dan lagi saya  memberikan judul kampanye “The Doctor is Back” – Sang Dokter Kembali. Dokter yang mampu mengdiagnosa segala persoalan di Nagekeo. Tidak hanya mampu mendiagnosa, juga harus mampu memberikan resep yang tepat untuk ‘penyembuhan’ bahkan pencegahan berbagai masalah di Nagekeo.

Suasana kampanye akbar bukanlah penentu dari sebuah kemenangan. Bisa saja pasangan yang mengumpulkan jumlah massa terbanyak, pada hari H memperoleh jumlah suara terbelakang. Tapi, penulis tak dapat memungkiri, konsentrasi massa pada kampanye akbar DOMA adalah buah dari kerja keras timnya.

Di sini, saya melihat dr. Don dan timnya belajar dari masa lalu. Dari setiap kegagalan yang diraihnya pada ajang Pilkada. Ia kemudian ia meramuhnya strategi kampanye untuk meyakinkan dirinya sebagai bupati lima tahun kedepan.

Secara pribadi, penulis angkat topi buat gerakan politik “Akar Rumput” (grass root). Gerakan dan jargon paket DOMA dalam satu nama “Akar Rumput” sangat efektif untuk meyakinkan masyarakat Nagekeo. Membangun peradaban dengan memberikan cara berpolitik yang benar dan mengedukasi masyarakat dengan berpolitik yang elegan, jauh dari sinisme dan pesimisme. Pada titik ini, Akar Rumput berhasil mengembalikan citra dr. Don yang senantiasa disematkan dengan stigma negatif pada setiap Pilkada sebagai  sosok anti pemekaran Nagekeo.

Kedua, apresiasi untuk kerendahan hati Marianus Waja meskipun ia sempat diragukan tak dapat mendongkrak elektabilitas dr. Don. Citranya sebagai politisi bersih, tak terlibat dalam berbagai proyek dan konflik kepentingan di tataran legislatif, menjadi daya ungkit (doma/dongkrak hidrolik) yang memenangkan DOMA pada Pilkada Nagekeo 2018.

Terakhir, generasinya mestinya, belajar dari sosok dr. Don, dalam hal KONSISTENSI, KOMITMEN,  INTEGRITAS dan DETERMINASI-nya menjadi pemimpin.

Konsistensinya untuk menjadi “Bupati”, bukan “Wakil Bupati”. Tiga kali maju pada Pilkada Nagekeo, ia tak pernah mencalonkan diri sebagai  “Wakil Bupati”. Seorang pemimpin harus tegas untuk menyatakan sikap menjadi apa dan siapa kelak – soal kekalahan adalah urusan belakangan.

Seorang yang konsisten, di dalam dirinya pasti memiliki KOMITMEN. Saya percaya, dr. Don memiliki KOMITMEN yang sungguh untuk membangun Ngada (kala itu) dan Nagekeo (kini). KOMITMEN itu tertanam dalam profesi dan kepemimpinan dalam instansi yang dipimpinnnya.

Sisi lain dr. Don yang dapat dipelajari adalah pribadi yang berintegritas. Sebagai seorang dokter ia telah menjalankan profesi dan pelayanan secara jujur dan bertanggungjawab. Dalam kiprahnya Politik, dr. Don tak memiliki konflik kepentingan baik di lingkungan kerjanya maupun dengan masyarakat di sekitarnya (terutama masyarakat Nagekeo). Soal sikap politiknya yang “plin-plan”, hari ini berpasangan dengan si ini, besok berubah pasangan dengan si itu, dalam pandangan politik  penulis itu menunjukkan kelenturan berpolitik dr. Don. Karena itu kehadirannya sebagai Bupati Nagekeo sangatlah tepat. Ia bebas kepentingan – apalagi masalah di Nagekeo yang rawan memicu konflik horisontal.

KONSISTENSI, KOMITMEN,  INTEGRITAS tak cukup tanpa  DETERMINASI. Dr. Don membuktikan hal itu. Untuk mewujudkan mimpinya, mimpi Nagekeo dan mimpi bersama adalah ia harus memenangkan pertarungan. Ia boleh sudah memiliki KONSISTENSI, KOMITMEN, INTEGRITAS, tapi perlu memiliki DETERMINASI untuk merebutkan tongkat estafet kepemiminan Nagekeo lima tahun kedepan.

Buah dari DETERMINASI itu pada Pilkada Nagekeo 2018. Ia, Marianus Waja dan aktivis “Akar Rumput” terus meneruskan mendekati masyarakat secara langsung menghasilkan politik yang partisipatif. Politik keterlibatan. Masyarakat tak hanya memilih tapi turut menentukan langkah dan kebijakan pemimpin. Pendekatan Akar Rumput membuahkan hasil yang luar biasa. Tak hanya meyakinkan publik tapi juga mendengarkan suara rakyat yang dalam perspektif politik sebagai suara Tuhan itu (vox populi vox Dei).

Lima tahun lalu adalah DOA. Lima tahun kemudian, jawabannya,  DO(M)A – Don-Marianus Menang. Selamat kepada Bapak dr. Yohanes Don Bosco Do – Marianus Waja, SH sebagai bupati dan wakil bupati Nagekeo periode 2018-2023. Bahterah itu (baca: Nagekeo) kini dalam genggaman kendalimu. Bawahlah biduk ini sampai tujuan, yakni kesejahteraan masyarakat Nagekeo yang adil dan merata.

Terimakasih untuk Bapak Elias Djo dan bapak Paul Nuwa Veto atas jasa dan pengabdianmu bagi tanah kelahiran tercinta.***

Apabila Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan share dengan menekan tombol social media di akhir tulisan ini. Tidak diperkenankan untuk menyebarkan luaskan tulisan ini tanpa menyertakan link sumbernya. Artikel ini ditulis/disadur oleh Giorgio Babo Moggi ]