Daya Saing Pembangunan di Flores Tengah

oleh
102 views
Gusti Adi Tetiro bersama Defia Rosmaniar. Peraih emas Asian Games 2018 dari cabang Taekwondo (Foto: Facebook.com/gusti.a.tetiro)

Oleh : Gusti Adi Tetiro

 

“We can’t save the world alone” (Justice League)

 

KUPANG.ONLINE – Menarik bahwa Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo (Wue Robby Idong) membuka masa pengabdiannya dengan “Kita akan Kembalikan Kejayaan Maumere” (Lihat Kompas.com, diakses 20/09/2018). Maksud Wue Robby jelas, kembangkan pariwisata Sikka dan kembalikan Maumere sebagai kota pelabuhan (yang selama ini sudah direbut Ende).

Tidak kalah sengit, beberapa waktu lalu, Bupati terpilih Nagekeo dr. Yohanes Don Bosko Do mengatakan siap membuka keterisolasian daerah (Lihat sp.beritasatu.com, diakses 20/09/2018). Itu artinya jelas, pembangunan infrastruktur akan digeber. Kita tahu, Mbay masih sangat bisa untuk dikembangkan ke mana-mana. Memang catatan tentang sulitnya pembebasan lahan tetap jadi PR serius.

Dua gebrakan awal (baca: janji dan target kinerja) dua bupati baru di Flores Tengah ini harus disambut dengan antusias. Antusias untuk ditagih pada waktunya. Hal ini akan menjadi makin terarah kalau ada batasan dan target yang jelas yang didetailkan dengan rencana tahunan dan target realisasi setiap kuartal.

Kita membutuhkan janji-janji awal ini untuk dikejar. Justru jika pemimpin yang tidak mempunyai janji awal lah yang harus kita waspadai, karena sebagai publik kita tidak mempunyai pegangan untuk ditagih.

Menarik bahwa Nagekeo dan Sikka persis menghimpit kabupaten Ende. Saya mempunyai beberapa anjuran, entah ini berterima atau tidak. Pertama, tidak perlu ada ego sektoral/per kabupaten untuk menunjukan mana yang terhebat. Ketiga bupati perlu duduk bersama untuk merumuskan akselerasi pembangunan di ketiga kabupaten. Misalnya, Mbay perlu dikembangkan untuk pembangunan bandara internasional, Ende bangun pelabuhan untuk ekspansi usaha ke arah barat (Surabaya, Dili, Australia, dan lain-lain), Maumere jadi hub laut ke utara mengingat Makassar sebagai kota utama Indonesia Timur. Ketiganya mempunyai satu perekat yang sama: sama-sama alumni SMA Syradikara. Semoga forum alumni bisa menjadi ‘teaser’ awal kerja sama ini.

Kedua, selain infrastruktur, pemda perlu melihat kecenderungan RAPBN 2019 yang akan memprioritaskan pembangunan manusia. Akselerasi pembangunan infrastruktur harus juga kian memudahkan pembangunan kualitas SDM di tengah gempuran ekonomi digital dan semangat Making Indonesia 4.0. Hal yang mungkin terlihat sederhana seperti gerakan literasi perlu didukung. Masyarakat harus semakin pintar agar tidak selalu bisa dibodohkan, ditipu dan dimanipulasi entah oleh orang luar (ata mai) atau orang dalam (ata ria?).

Inisiatif pertama dan kedua ini perlu dilengkapi dengan komitmen untuk memerangi korupsi di tubuh birokrasi atau rong-rong pihak luar yang terlalu ingin mengintervensi birokrasi. Maka, ketiga, niatan gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat untuk ‘mendekatkan’ KPK ke NTT demi pembersihan korupsi dari tubuh birokrasi harus didukung penuh dan fasilitasi.

Inisiatif-inisiatif lain bisa ditambahkan oleh sesama yang lain. Semoga bisa diindahkan hingga pada satu saat yang tidak terlalu lama kita bisa mengantongi daya saing yang kuat secara bersama-sama. Flores tengah sangat strategis dan potensial.

Menarik untuk menutup asal-omong (woralogi) ini dengan mengingat kata-kata Jokowi di World Economic Forum on Asean 2018 di Hanoi, “kita perlu menjadi avengers untuk membangun kebersamaan kawasan”. Untuk ketiga bupati yang alumni Syuradikara ini, saya juga ingin katakan, Selamat menjadi pencipta pahlawan utama bagi daerah dan rakyat yang dipimpin! ***