Belajar yang Unik dari SMAN Harakakae Malaka Tengah, Upaya Membangun Tradisi Sekolah dan Membumikan Literasi

oleh
317 views
Siswi SMAN Harekakae berliterasi di Perpusakaan Mini Kelas (Foto: Dok. Ist)

[KUPANG.ONLINE] – “Malaka Tanah Terberkati” diucapkan Yanto Bria ketika menemani saya dalam perjalanan tugas di Malaka akhir tahun 2017. Bukannya tanpa alasan, Yanto mengungkapkan sepenggal kalimat itu. Diucapkan setelah penulis mengungkapkan kekaguman akan dataran Malaka nan luas dan subur.

Setiap kali bertugas di sana, penulis selalu mengungkapkan kekaguman pada kabupaten termuda di NTT ini. Datarannya luas sejauh mata memandang. Hamparan sawah menghijau memanjakan mata, meskipun terik matahari melegamkan kulit. Begitu pula pesisir pantai yang eksotik. Malaka tetap menyimpan pesona di memori penulis.

Medio Desember 2018, penulis kembali ke Malaka. Kekaguman itu tetap tersimpan rapih. Saya dan rekan saya, Mario, melaksanakan rangkaian tugas monitoring di Malaka dengan titik kumpul di SMAN Harekakae.

SMAN Harakakae tak jauh dari jantung kota Betun. Berjarak sekitar 2-3 kilomoter. Letaknya di tengah hamparan sawah atau tepatnya Kampung Harekakae. Ketika sang ojek membelok ke arah sekolah, terdengar suara yang menggelar dan suara itu sangat familiar. Sementara suara riuh peserta didik bagaikan soundtrack yang mengiring arahan Kepala Sekolah SMAN Harekakae, Robertus Bria Tahuk, S.Pd, M.Pd.

Penulis dan Mario Buraen turun dari motor, melangkah menuju teras sekolah. Suasana memantik penasaran penulis untuk mengabadikan suasana pagi itu. Mengambil kamera dan “menangkap” upacara pelepasan balon. Sang kepala sekolah sadar dengan kehadiran kami. Usai melepaskan balon, ia bergegas menerima kedatangan kami.

Kepala sekolah SMAN Harekakae, Robertus Bria Tahuk, S.Pd, M.Pd, melepaskan balon ke udara tanpa dibukanya kegiatan Class Metting (Foto: Dok. Ist)

Di luar dari urusan kedinasan, penulis mewancarai beliau terkait dengan kegiatan yang baru dibukanya. Menurutnya, SMAN Harekakae memiliki tradisi setiap akhir semester diadakan “Class Meeting”.  Class Meeting diisi dengan pertandingan dan perlombaan antar kelas. Adapun cabang olahraga yang dipertandingkan adalah bola volley putra/putri, bulu tangkis putra/putri (kategori tunggal dan ganda), dan futsal (putri). Sedangkan jenis perlombaan terdiri dari lomba penataan taman, debat bahasa Jerman, dan pentas teater.

Kepada penulis, Pak Robert menyampaikan kegiatan ini diselenggarakan setiap tahun pada setiap akhir semester, selama seminggu, pagi dan sore. Tujuannya bukan sekedar siapa atau kelas berapa yang juara, di atas segala-galanya adalah kegiatan “Class Meeting” bertujuan untuk memupuk persaudaraan yang sejati antar siswa.

Kegiatan yang berlansung di lingkungan internal sekolah ini berdampak luas baik di tingkat kabupaten maupun provinsi. Dari event rutin ini, SMAN Harekakae justeru mendapatkan bibit-bibit berbakat baik di cabang pertandingan olahraga maupun jenis perlombaan. Siswa SMAN Harekakae selalu berprestasi seperti juara volley putra-putri, dan juara dua lomba debat Bahasa Inggris tingkat Kabupaten Malaka. SMA Harekake selalu menjadi  wakil dari Kabupaten Malaka pada event O2SN atau FLS2N Tingkat Provinsi NTT

Selain memiliki kekhasan dengan kegiatan “Class Meeting”, SMAN Harekakae memiliki gerakan literasi di lingkup internal sekolahnya. Seperti yang disaksikan penulis, di kelas tertentu ada perpustakaan mini di sudut belakang kelas. Direncanakan, menurut kepala sekolah, semua kelas memiliki perpustakaan mini.

Class Meeting adan Gerakan Literasi, Pembelajaran dari SMAN Harekakae Malaka Tengah, (Foto: Dok. Ist)

Nah, bagaimana manajemen perpustaan mini ini? Buku-buku yang dipajang di perpustakaan kelas ini berasal dari siswa di kelas tersebut. Satu siswa menyumbangkan satu buku. Buku yang disumbangkan jenis atau genre apa saja sejauh buku-buku tersebut dapat bermanfaat positif bagi tumbuhkembang wawasan siswa.

Kegiatan membaca buku-buku dari perpustakaan mini ini dilaksanakan setiap hari pada pukul 07.00-07.25 atau sebelum memulai pelajaran. Setiap siswa membaca 2 buku dan dirotasi setiap minggu.

Para siswa tak sekedar diajak untuk membaca saja. Mereka ditugaskan untuk membuat rangkuman dari apa yang dibacanya. Hasil rangkuman tersebut dikumpulkan dan dijilid sebagai sumber bacaan perpustakaan tersebut.

Olahraga, lomba dan membaca merupakan kegiatan yang merangsang pertumbuhan mental dan perilaku siswa. Olahraga menumbuhkan rasa percaya diri siswa secara fisik dan mental. Lomba menumbuhkan daya kreativitas dan imaginasi anak didik. Gerakan membaca mendorong anak-anak untuk meningkatkan pengetahuan dan menumbuhkan sikap yang kritis-akademis.***

Apabila Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan share dengan menekan tombol social media di akhir tulisan ini. Tidak diperkenankan untuk menyebarkan luaskan tulisan ini tanpa menyertakan link sumbernya. Artikel ini ditulis/disadur oleh Giorgio Babo Moggi