Bappeda Harus Ditempati Orang Pintar dan Percaya Diri, Begini Alasan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat

oleh
681 views
Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat saat memberikan arahan, Hotel Aston, Rabu (06/03/2019)

KUPANG.ONLINE Keberhasilan pembangunan ditentukan oleh perencanaan. Perencanaan yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik dan begitu sebaliknya. Secara singkat, perencanaan menentukan seluruh proses pembangunan dan capaiannya. Karena  itu Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) memiliki posisi yang sangat strategis dalam merencanakan pembangunan.

Hal ini senada dengan yang disampaikan Gubernur NTT pada Rapat Kerja Kepala Bappeda/Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda)/BP4D se-Provinsi NTT di Hotel Neo Aston, Rabu (6/03/2019). Ia menegaskan bahwa Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) memiliki peran vital untuk meningkatkan percepatan pertumbuhan  pembangunan daerah. Bappeda harus dapat menggali potensi daerah dan  memetakan semua permasalahan  di daerah.

“Perencana itu mesti orang pintar. Juga punya confidence. Miliki rasa percaya diri yang tinggi. Melihat masa depan yang luar biasa, punya visi besar,” kata Viktor Laiskodat saat memberikan  arahan.

Bappeda harus menargetkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar mungkin. Harus mampu melihat peluang-peluang potensi daerah juga memetakan masalah serta melihat kecenderungan perkembangan pasar dunia.
“Begitu kita membuat perencanaan, kita harus langsung memetakan potensi daerah kita apa saja, masalah-masalah yang dihadapi dan jalan keluarnya bagaimana. Kalau ini berjalan dengan baik, Kepala Bappeda dapat memberi masukan atau bahkan teguran kalau Gubernur atau Bupatinya berjalan di luar perencanaan,” ungkapnya.

Lebih lanjut Laiskodat mengatakan,  perencanaan harus dilakukan secara menyeluruh. Para investor akan tertarik untuk menginvestasi  modalnya jika perencanaan yang berorientasi ke masa depan.

“Ketika kita berbicara tentang Pariwisata sebagai prime mover ekonomi NTT, kita tidak sedang mengabaikan pertanian, peternakan, perikanan dan bidang lainnya. Bidang-bidang ini justru penting sebagai rantai pasok utama pariwisata. Rantai pasok ini mesti berasal dari potensi daerah kita yang sangat kaya ini. Bappeda juga dapat mendesain bagaimana menciptakan lingkungan yang bersih,  tertib dan kemampuan berbahasa Inggris yang baik. Semua ini jadi tugas perencana untuk mendesainnya,” urai Laiskodat.

Viktor menantang para kepala Bappeda se-NTT untuk mendisain event festival budaya setiap tahunnya supaya memberikan efek ekonomi yang luar biasa bagi masyarakat. Event Organizernya (EO) berasal dari masyarakat lokal.

“Saya mengharapkan rapat ini dapat mendorong kegiatan seperti itu. Dalam festival seperti tersebut semua peserta wajib pakai sarung tenun NTT. Anak-anak sekolah, mahasiswa, wartawan dan semua yang hadir wajib pakai tenunan daerah. Kalau festivalnya di Manggarai wajib pakai tenun Manggarai, di Bajawa sarung tenun Bajawa. Begitupun di Sumba, TTS, Atambua dan daerah lainnya. Kopi yang disuguhkan dalam acara juga harus kopi asal NTT. Bisa dibayangkan, pertumbuhan dan pendapatan masyarakat dari kegiatam seperti itu. Pasti sangat luar biasa,”paparnya. ***

Apabila Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan share dengan menekan tombol social media di akhir tulisan ini. Tidak diperkenankan untuk menyebarluaskan tulisan ini tanpa menyertakan link sumbernya. Artikel ini ditulis/disadur oleh Avent Reme ]