Bangga Memiliki Kopi Flores Tapi Minum Produk Lain, Begini Gubernur NTT Memprovokasi Masyarakat

oleh
719 views
Kopi Arabika Flores Bajawa (Foto: Amin Maggang)

Oleh : Giorgio Babo Moggi

[KUPANG.ONLINE] Cintailah produk-produk dalam negeri. Kalimat ini merupakan layanan iklan Maspion yang ditayangkan di sejumlah media televisi tanah air satu dekade terakhir ini.

Makna dibalik pariwara ini adalah sebuah ajakan gerakan bersama produsen, konsumen dan pemerintah untuk memiliki rasa cinta kepada produk dalam negeri. Rasa cinta itu dibuktikan dengan membeli atau menggunakan produk sendiri.

Jepang adalah contoh negara yang nasionalisme tinggi terhadap produk bangsa sendiri. Gerakan ini dimulai sejak tahun 1960. Sementara waktu yang diperlukan untuk menelurkan gagasan ini membutuhkan waktu selama 10 tahun. Bila ditelusuri sejarahnya, gerakan ini berawal dari ide masyarakat sendiri, pemerintah hanya melanjutkan dan mendukungnya.

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, dalam sambutannya, pada acara syukuran pelantikan Bupati-Wakil Bupati Nagekeo terpilih periode 2018-2023 bersama masyarakat Nagekeo di Kota Kupang, Jumat (23/12/2018) mengingatkan masyarakat NTT untuk mencintai produk sendiri. Ia menyoroti perekonomian NTT yang lambat karena budaya konsumerisme masyarakat yang lebih suka memakai produk luar.

Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat dan Wakil Gubernur Josef A. Nae Soi di antara Bupati dan Wakil Bupati terpilih dan para tokoh Nagekeo (Foto: Facebook.com/Primus.Dorimulu)

Ia mencontohkan kopi Flores. Kualitasnya bagus. Terkenal. Tapi masyarakat Flores sendiri justeru minum kopi yang bukan merupakan olahan kopi Flores. Nah, bagaimana ekonomi NTT mau maju?

Viktor mengajak orang NTT untuk belajar dari bangsa Jepang. Mereka sangat konsisten untuk memakai produknya sendiri. Ia memberi contoh orang  Jepang dimana-mana makannya di  restaurant Jepang. Mereka tak pernah makan di restaurant lain.

Terkait dengan kopi Flores, kualitas ekspor tak diragukan lagi. Kopi Manggarai dan Bajawa sudah sangat dikenal di luar negeri. Memang perjuangan supaya kopi Flores masuk kategori premium tidaklah mudah. Yuli Soetrisno, istri Viktor Bungtilu Laiskodat, pada pertemuan dengan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi NTT, Johanna Lisapaly, dan jajarannya beberapa bulan yang lalu,  menyinggung hal itu. Dari topografi alam, kualitas kopi Bajawa sangat bagus karena tumbuh di atas permukaan laut yang ideal bagi tanaman kopi. Persoalannya, proses budidaya, perawatan, pemananenan dan pengolahan memerlukan sentuhan khusus agar kopi Flores berdaya saing dan menembus kategori kopi premium.

Tak dipungkiri, kopi menjadi salah produk primadona NTT. Dari kopi, selain Komodo dan Kelimutu nama NTT dikenal luas. Untuk mewujudukan itu,  Viktor menghimbau semua pihak untuk memiliki tiga keutamaan, yakni KREATIVITAS, INOVASI dan PROGRESIVITAS. Jepang dan Cina menjadi negara kuat secara ekonomi karena mereka KREATIF, INOVATIF dan PROGRESIF. Beberapa puluhan tahun yang lalu, secara ekonomi mereka sejajar dengan Indonesia. Kini, kemajuan mereka melampaui Indonesia.

Sehingga ajakan Gubernur NTT untuk mencintai produk lokal bukan hal baru. Dalam skala nasional, produk Maspion telah menggemakannya dalam sebuah pariwara di televisi.

Sentilan Viktor harus dipandang sebagai sentuhan salah satu titik akupuntur untuk merangsang kesadaran masyarakat NTT yang terlelap dengan produk dari luar. Masyarakat harus sadar akan kekayaan NTT. Kekayaan yang mampu berdaya saing atau kompetitif dengan dunia luar. Kompetisi itu akan berjalan baik bila kita memulai dengan menggunakan produk sendiri.

Kopi Arabika Flores Bajawa (Foto: Amin Maggang)

Tak cukup itu. Masyarakat, pemerintah dan semua stakeholder harus memiliki sifat, watak, karakter dan sikap yang kreatif, inovatif dan progresif. Sejarah telah membuktikan bahwa kreativitas, inovasi telah membawa Cina, Jepang, dan Korea menjadi macam ekonomi dunia.

Menyambung dengan apa yang disampaikan Viktor tentang pariwisata (Baca: Mengunjungi Bukit Kotbah di Yunani, Viktor Bungtilu Laiskodat Merasa Tertipu Tapi Ia Justeru Mendapatkan Hal Ini), bahwa pariwisata melingkupi multi aspek, maka produk lokal itu sendiri menjadi bagian dari pariwisata itu sendiri. Kita tak hanya menjual pesona alam kita, kekayaan budaya kita, sementara kita menyuguhkan tamu makan dan minum dengan produk dari luar NTT. Kita harus mampu menjual apa yang dihasilkan masyarakat kita. Pertanyaannya, apakah semua hotel, restaurant atau rumah makan di NTT yang menyuguhkan tamu dengan kopi Flores, Kopi Sumba, Alor atau Timor? Apakah dalam keseharian orang NTT mengkonsumsi kopinya sendiri?

Pertanyaan di atas tidak untuk dijawab, tapi untuk direnungkan oleh semua insan NTT – entah itu masyarakat, pengusaha maupun pemerintah. Saatnya masyarakat NTT menjadi konsumen utama produknya sendiri. Para pengusaha atau produsen harus mampu bekreasi dan berinovasi untuk menghasilkan produk kopi yang berkualitas untuk berbagai level konsumen. Tak fokus semata untuk konsumen menengah ke atas, pertimbangkan juga produk massal untuk jangkuan daya beli masyarakat menengah ke bawah. Pemerintah berkewajiban untuk mendukung masyarakat dan pengusaha dengan memberikan layanan kemudahan, insentif dan lain sebagainya.

Ajakan Gubernur NTT untuk mencintai produk lokal bukanlah fanatisme sempit, tapi inilah cara efektif untuk membangkitkan denyut ekonomi lokal. Cina dan Jepang telah membuktikan. Bukankah kesuksesan itu dapat dicapai hanya dengan menduplikasi kesuksesan orang/bangsa lain yang lebih dahulu sukses?  ***

Apabila Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan share dengan menekan tombol social media di akhir tulisan ini. Tidak diperkenankan untuk menyebarkan luaskan tulisan ini tanpa menyertakan link sumbernya. Artikel ini ditulis/disadur oleh Giorgio Babo Moggi ]