Apa Kata Politisi Perempuan Ini Tentang Yogyakarta Hingga Langkah Politiknya?

oleh
617 views
Linda Boleng didampingi suami dan keempat buah hatinya (Foto: Facebook.com/linda.boleng)

KUPANG.ONLINE – Anna Marlinda M.B atau lebih dikenal dengan nama Linda Boleng telah menyatakan kesiapannya maju dalam Pileg 2019 dari PDI Perjuangan, No. Urut 5, Dapil NTT I (Flores, Lembata dan Alor).

KUPANG.ONLINE telah menurunkan tulisan khusus tentang Linda tentang jejak politik hingga kesiapannya bertarung diantara deretan para bintang menuju Senayan (Baca: Perempuan Kampung Diantara Para Bintang Mengajak Perempuan Tidak Boleh Steril dari Politik). Pada tulisan kali ini, KUPANG.ONLINE mengangkat sisi lain yang terlewatkan pada tulisan terdahulu namun tetap relevan dengan politik.

Linda, wanita kelahiran Ende ini, melewatkan masa pendidikannya di sekolah khusus. Diawali di SDK Ursula Ende, lanjut ke SMPK Kartini Mataloko. Selepas tamat dari SMP Kartini, Linda memulai kehidupan baru sebagai kelompok seragam abu-abu di SMA Katolik Stella Duce Yogyakarta hingga melanjutkan studi Antropologi di Universitas Gadjah Mada (UGM) di kota tersebut.

Enam tahun dididik dan mengalami kehidupan lingkungan sekolah khusus putri. Apakah latar belakang pendidikan ini mempengaruhi kehidupan selanjutnya? Linda, seperti pengakuannya kepada KUPANG.ONLINE, menungkapkan ia praktis tak tahu dengan cita-citanya kelak. Bahkan selepas tamat UGM pun itu belum bisa menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri; Kontribusi apa setelah mendapat pendidikan?”

Wanita yang dipersunting John Boleng  dan telah dikarunia 3 putra dan 1 putri ini mengaku kehidupannya di Yogya selama satu dekade lebih berpengaruh terhadap perjalanan hidupnya. Dan, ia tak menampik bahwa latar belakang almamater turut mempengaruhi jejak hidupnya.

“Yogya itu my second hometown, my second village, dan seterusnya. Saya menghabiskan waktu 13 tahun di sana. Dari SMA, kuliah, menikah dan berkeluarga,” ujarnya kepada KUPANG.ONLINE.

Linda memiliki pandangan yang luas tentang kota Yogyakarta. Selain sebagai kota pelajar dimana ia menimba ilmu, Yogya memiliki arti penting dalam aspek yang lain. Yogya menjadi tempat perjumpaannya dengan orang-orang dari pelosok nusantara. Yogya menjadi ruang baginya untuk belajar tentang hidup, mengembangkan diri, membangun relasi dengan orang lain. Hal itu dilakukan baik didalam sekolah maupun di tengah masyarakat.

“Saya belajar menjadi Indonesia di Yogya. Saya kenal banyak orang dari seluruh pelosok nusantara. Yogya itu candradimuka bagi saya. Tempat saya menimba ilmu, belajar tentang hidup, berelasi, mengembangkan kemampuan baik di sekolah maupun di masyarakat, “ sharing Linda kepada KUPANG.ONLINE.

Lalu bagaimana keterlibatan Linda didalam dunia politik? Kepada KUPANG.ONLINE,  sejak awal bergabung dengan PDI Perjuangan, ia menyadari dunia politik bukan dunia perempuan. Linda mengalami gesekan dan persaingan yang ketat dengan kaum laki-laki sendainya dirinya tak dimodali mental baja ia mungkin sudah terpental.

Meskipun pandangannya tampak pesimis karena merasa ketakberdayaan di tengah iklim politik yang maskulin, muncul dorongan dalam hatinya untuk bertahan dan terus berjuang.

“Tapi pikiran saya cuman satu, kalau tidak ada perempuan yang mau ke dunia politik atau kalau ada yang mau tapi hanya asal tempel saja, kapan perempuan kampung saya bisa maju dan setara dengan laki-laki di dunia politik?” ujarnya dengan nada retoris.

“Padahal saya kuliah ilmu budaya, antropologi, karena saya mau mengindar belajar politik.”

Menurutnya kuliah pada jaman Orba, dunia politik belum dipandang sebagai  dunia perjuangan dan eskrepsi perjuangan. Semuanya berada dibawah satu kendali rezim saat itu.

“Saya rasa tidak cocok belajar ilmu politik waktu itu. Untuk apa? Hasil akhirnya hanya sekedar mengamini penguasa.”

Transformasi Orba ke era Reformasi mengubah pandangan Linda waktu itu hingga akhirnya ia memutuskan terjun berpolitik yang sebenarnya dunia yang telah diminatinya sejak kanak-kanak.

“Padahal saya tertarik ke dunia politik sejak kecil. Jaman saya SD, bacaan saya Tempo dan Kompas.”

Linda berpendapat dengan bergulirnya reformasi menjadi iklim yang tepat baginya  untuk berkiprah di dunia politik.

“Banyak yang belum sempurna sih, tapi saya optimis dunia politik akan membawa banyak kemajuan dalam masyarakat yang akan datang, “ pungkas Linda kepada KUPANG.ONLINE.

Wanita bernama lengkap ANNA MARLINDA B.M. ini maju sebagai Calon Anggota Legislatif DPR RI dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk DAPIL NTT I (Flores, Lembata dan Alor) dengan nomor urut 5.

Meskipun berada di tengah-tengah pertarungan politik yang bertaburan bintang tak memupuskan asa perempuan yang mengidolakan Margareth Tatcher  sebagai wanita baja, berani, tegas dan cerdas tersebut serta R.A. Kartini sebagai wanita yang memiliki cita-cita tinggi dan memiliki kebebasan berpikir pada jamannya dan aktual hingga kini. ***